UniqMag

Cerita Pilu Janda Tua Renta di Jember Hidup Sebatangkara

berita terkini
Siti Rohayu (Ruha), warga Kecamatan Silo Kabupaten Jember

JEMBER, (suaraindonesia.co.id) - Di tengah hiruk pikuk program pembangunan Kabupaten Jember dengan banyaknya program, ternyata ada salah seorang warga yang masih mengalami kesusahan dan jauh dari kecukupan.

Siti Rohayu (Ruha), warga sekitar memanggilnya. Tinggal di Desa Silo Kecamatan Silo Kabupaten Jember, hidup sebatangkara. Kerutan di kulit pipinya, mengisyarakatkan kalau dirinya sudah mulai memasuki usia senja 

Dia mengaku, lahir di Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul. Setia mengikuti sang suami sebagai buruh sadap karet di perkebunan. Namun sayang, sekitar 15 tahun silam, harus meninggal karena penyakit yang mendera.

Kesehariannya, hanya bertahan hidup dengan mengandalkan mencari sayur pakis (tumbuhan liar) yang hidup di semak-semak demi pengganjal perut.

Bagi Rohayu, bantuan beras sejahtera (Rastra) adalah setetes air syurga walaupun dia masih harus berusaha uang tebusan untuk mendapatkannya.

Benar saja, ia menempati rumah ukuran 3 x3 meter yang terbuat dari anyaman bambu. Tempat tidur, ruang tamu, dan dapurnya menjadi satu, tanpa tabir pembatas.

Arsitektur rumahnya sudah tak karuan lagi bentuknya, dengan pilar-pilar penyangga sudah tampak terlihat mulai reot dimakan. Tak terlihat perabot yang berharga dirumahnya, jam dindingpun tidak ada, hanya perlengkapan masak sederhana.

Pakaian lusuh terlihat menumpuk tak karuan, bercampur asap dapur yang mulai menghitam menyelimuti rumah tersebut, penerangan cukup dengan neon lampu 5 wat menggantung disela-sela cagak rumahnya.

Bisa dibayangkan, setiap hari harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer untuk mencarinya, yang kemudian dia jual dibawah pohon bringin rindang di daerah perumahan kongsi PDP Sumberwadung didaerah tempatnya tinggal.

Hari ini, ibu tua yang tidak memiliki saudara ini, harus lebih bersabar. Tumbuhan pakis di daerahnya pada mati, lantaran sengaja di keringkan oleh pihak mandor karena dianggap mengganggu pertumbuhan pohon karet.

Ketakutan kepada binatang buas, dan medan yang curam, sepi, dan licin harus mampu dia taklukkan, sekalipun nyawa harus menjadi taruhan.

Belum lagi, tubuhnya yang sudah mulai rengkuh mulai berjalan gontai kerena usia yang sudah mulai senja, tak membuatnya putus asa untuk terus melangkah.

Menggunakan sandal jepit tipis beda warna (bukan pasangan aslinya)  dengan sebatang tongkat kayu kecil, terus melangkah tanpa lelah demi sesuap nasi dan sebuah mimpi.

Dia hanya mampu membawa separuh sak kecil saja, karena memang kekuatan tubuh yang tidak mendukung. Sesampainya di rumah, diikatnya sebesar genggaman.

Besok paginya, langsung menggelar dagangannya di sebuah pohon bringin, sambil sesekali menawarkan kepada perjalan yang lewat.

“Monggo pakisnya, seribu seribu. Masih segar-segar, buat oleh-oleh di rumah,” ucapnya sesaat ketika ada pengendara yang lewat.

Tidak lama kemudian, ada seorang ibu berseragam menggunakan sepeda mendadak berhenti, dan  membeli 2 ikat, lalu beranjak pergi. 

Nampaknya, jualan pakis hari ini rejeki kurang berpihak, awan mulai pekat menutupi langit dari 10 ikat yang dia jual, hingga jam 11.00 Wib hanya laku 2 ikat.

Tampak air matanya berlinang, membasahi pipi karena yang dia ambil dengan susah payah masih tersisa banyak ditambah hujan mulai mengguyur.

“Ibu tidak punya siapa-siapa nak, ibu hanya punya gusti ALLAH. Ibu harus tetap tegar menghadapi hidup, mungkin ini sudah garis tangan ibu,” Jelasnya.

“Saya dulu hampir 1 tahun tidur di Pasar Silo nak, setelah cari pakis saya pasarkan di sana, ya tidur dipinggir jalan, karena belas kasih dari pegawai mandor sadap karet, saya bisa menempati rumah di belakang perumahan kongsi ini,“ ungkapnya.

Dirinya juga mengakui, pernah tidak makan 2 hari saat dia sakit, beruntung ada tetangga yang menjenguk sembari memberinya nasi satu piring dan ia jadikan cukup untuk 3 hari.

“Saya penah sakit nak selama 2 hari, saya hanya bisa minum air. Persediaan beras sudah tidak ada beruntung ada tetangga yang ngasih nasi satu piring, itupun bisa saya makan selama 3 hari,” Jelasnya sembari meneteskan air mata.

Mimpinya sederhana dan menyayat hati, hanya ingin memiliki sepasang kambing, yang akan dia pelihara dengan harapan bisa dikembang biakkan untuk persiapan mati.

"Untuk persiapan saya nanti kalau sudah meninggal. Untuk pemakaman, tahlil, dan orang-orang yang akan mendoakan saya. Apalagi saya tidak punya anak atau keluarga. Adanya keluarga jauh," ungkapnya dengan nada memelas.

Menurut tetangga dekatnya, Martakah (50) dirinya mengenal sesosok Ibu Siti Rohayu, sebagai perempuan tua yang kesehariannya menjual pakis, yang ramah dan santun kepada tetangga.

”Kami sangat kepikiran dengan Ibu Siti Rohayu, kadang kami kasih nasi untuk dia makan. Dengan kondisi tubuh yang sering sakit-sakitan, ibu yang berumur senja tersebut sudah tidak pantas lagi untuk berjalan sendiri mencari nafkah,” jelasnya.

 “Tetangga disini semua prihatin mas dengan kondisinya, kami mau membantu kondisi kami juga sama-sama susah,” tambahnya.

Martakah menambahkan, kalau dirinya sering dikasih sayur pakis oleh Siti Rahayu, apabila ada sisa dari penjualan yang tidak laku bahkan tetangga-tetangganya diberi cuma-cuma, bahkan apabila ada orang yang lewat sering diberikan begitu saja.

Saat ditanya, jawabannya sederhana, "Kapan lagi kita mau berbagi, kalau nunggu kayanya kapan nak, mumpung kita masih diberi kesempatan berbuat baik lakukan, jangan menunggu kaya, ia kalau kita ditakdirkan kaya kalau tidak?,” tutupnya.

Harapan para tetangga, pemerintah terkait bisa membantu Ibu Siti Rohayu, baik makan maupun kesehatannya.       

Siti rahayu adalah sebagian kecil dari ribuan potret kemiskinan Kabupaten Jember yang hidupnya memprihatinkan dan masih jauh dari kata cukup.

Sosok Siti Rohayu menginspirasi kita untuk tetab tegar menghadapi hidup dan selalu ikhlas berbagi kepada sesama walaupun kondisi kita masih kesusahan dan kekurangan.

 

 

Reporter : Imam Sauki
Editor : Farhan Jordan
Berita Sebelumnya PKL Menjamur di Acara JJS Bank Jatim Pamekasan, Pemkab Tak Mampu Bendung
Berita Selanjutnya Mendagri Lantik Deputi BNPP Menjadi Penjabat Gubernur NTT

Komentar Anda