UniqMag

Berdayakan Mantan TKI, Pemuda Lombok Barat Mendirikan UMKM

berita terkini
Hartono, saat Menunjukan Olahan Bahan Baku Pembuatan Cepang kayu

LOMBOK BARAT, (suaraindonesia.co.id) - Prihatin akan nasib banyaknya mantan TKI di lingkungan sekitar yang tidak memiliki pekerjaan, seorang pemuda bernama Hartono asal Desa Kediri Kecamatan Kediri Lombok Barat, mendirikan sebuah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak dibidang pengolahan kayu.

Usaha yang dirintis  sejak beberapa lalu ini untuk menciptakan lapangan kerja bagi para mantan TKI yang menganggur sepulang mereka bekerja dari luar negeri. Hingga saat ini sudah ada 5 karyawan mantan TKI yang bekerja di UMKM tersebut.

“Usaha ini saya rintis sebagai bentuk keprihatinan terhadap mantan TKI yang pulang dari luar negeri kemudian mereka menganggur,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Tono ini menjelaskan, banyak masyarakat yang di lingkunannya yang bekerja sebagai TKI ke Malaysia Arab Saudi maupun yang lainnya. Namun sepulang mereka bekerja ke Negara tersebut banyak dari mereka yang menganggur.

“Karenanya saya bangun usaha ini untuk tempat mereka bekerja,” jelasnya.

Tono mulai merintis usaha olahan kayu sejak beberapa bulan yang lalu dengan hanya bermodalkan uang sebesar Rp 4 juta. Untuk bahan baku, ia lebih memilih kayu jati karena memiliki kualitas yang sangat bagus.

“Usaha yang kita rintis berjalan lancar dan meningkat,” sambungnya.

Untuk bahan baku kayu jati, Tono membelinya di daerah Sekotong dengan harga Rp 3 juta per kibiknya. Kayu tersebut kemudian diolah menjadi berbagai macam bantuk cepang.

“Untuk produksi awal kita mentargetkan 2 kibik perbulan, tapi belum tercapai karena keterbatasan alat,” cetusnya.

Tono memilih membuka usaha dibidang pembuatan cepang karena sejauh ini produksi cepang di NTB masih sangat kurang. Banyak para took bangunan yang membeli cepang dari daerah lain. 

“Nah kenapa tidak kita ambil peluang dari usaha ini,” lanjut dia.

Saat ini cepang dari hasil karya para mantan TKI sudah di pasarkan di beberapa daerah seperti, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Mataram.

“Kalau beli disini harganya Rp 8 ribu perbiji, kalau di pasarkan keluar harganya Rp 10 ribu perbijinya," paparnya

Pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis ini mengaku mampu memproduksi cepang hingga 100 biji perhari.

“Omset dari penjualan cepang ini mencapai Rp 8 juta perbulan,” tandasnya.

Reporter : Lukmanul Hakim
Editor : Sulhan Hadi
Berita Sebelumnya Petani Center Sulawesi Selatan: Jangan Pilih Cagub yang Suka Merusak Pohon
Berita Selanjutnya Partai Nasdem OKI Pertama Daftar Bacaleg ke KPU

Komentar Anda