UniqMag

DPRD Mahulu Sinkronkan BPK dan Petinggi 50 Kampung

berita terkini
Suasana Hearing Dengar Pendapat Bersama 50 BPK se-Mahulu yang Dipimpin Wakil Ketua II DPRD Mahulu Tiopilus Hanyeq (duduk tengah)

MAHAKAM ULU, (suaraindonesia.co.id)- DPRD Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) menggelar hearing  dengan Badan Perwakilan Kampung (BPK) Kampung se-Mahulu di  Balai Adat Kampung Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Rabu (15/11).

Hearing dipimpin Wakil Ketua II DPRD Mahulu, Tiopilus Hanyeq, secara tegas mengharapkan agar Petinggi Kampung (kepala desa) dan BPK se-Mahulu dapat sinkron dalam menjalankan pemerintahan kampung.

Hal itu agar terwujud kesejahteraan masyarakat, sesuai Visi-Misi Pemkab Mahulu,  membangun Mahulu Untuk Semua, Sejahtera, Berkeadilan.

“Hearing ini atas permintaan Forum BPK se-Mahulu. Yang dikeluhkan agar ada kesetaraan terhadap insentif, operasional, hingga honor antara BPK dengan Petinggi Kampung,” tegas Tiopilus Hanyeq. 

Dia menuturkan, setelah mendengar keluhan para BPK itu, DPRD menyimpulkan, perlu diambil langkah konkrit bersama Pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

“DPRD menyarankan agar pemerintah meninjau ulang besaran operasional BPK 50 kampung. Sehingga kinerja BPK dapat semakin baik. Karena BPK dan Petinggi Kampung harus bisa bersinergi dalam membangun,” paparnya.

Senada, dari Komisi III DPRD Mahulu, Hendrikus Keling yang hadir mendampinginya itu, setuju jika Pemkab Mahulu meninjau ulang besaran operasional BPK di 5 kecamatan se-Mahulu. Menurutnya,  Petinggi dan BPK harus satu persepsi, tidak boleh berseberangan atau bermusuhan.

“Sangat penting BPK dan Petinggi Kampung, ujung tombak dalam membangun masyarakat. Hearing ini untuk menghilangkan kelemahan pemahaman  (persepsi) antara tugas dan fungsi,  baik petinggi maupun BPK,” tandasnya.

Tambah Keling, pemerintah perlu meningkatkan kapasitas BPK maupun petinggi, sehingga ada persamaan persepsi. Untuk menambah besaran insentif BPK alternatifnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBK), tidak perlu membebani APBD. 

“Memang tahun 2017 APBD Mahulu defisit.  Untuk besaran operasional  BPK disesuaikan dengan besaran operasional. Harus dihitung ulang, perlu sinkronisasi sesuai Permendagri  No 110/2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa. Secepatnya pemerintah perlu membuat Perbup untuk memperkuat Permendagri itu,” pungkasnya. (Adv)

Reporter : Nur A
Editor : Sulhan Hadi
Berita Sebelumnya Pemkab Mahulu Jaga Kepunahan Kuping Panjang
Berita Selanjutnya Fang Seng, Pelepasan 1,5 Kwintal Ikan Menjelang Waisak di Banyuwangi

Komentar Anda