UniqMag

Terkena Kanker, Wajah Bocah 9 Tahun di Jember Ini Membatu

berita terkini
Wajah tampan Gilang Septia Putra Ramadhani (di foto) harus terengut penyakit kanker yang membuat wajahnya mengeras bagai batu.

JEMBER, (suaraindonesia.co.id) - Masa anak-anak yang seharusnya ceria, tak terlihat saat melihat seorang bocah di Jember ini. Setiap hari, dia harus merasakan sakit yang luar biasa. Bocah 9 tahun bernama Gilang Septia Putra Ramadhani ini tak bisa lagi bermain bersama teman-temannya. Hari-hari yang dijalaninya kini hanya terbaring lemah di atas kasur, dan sang kakek ataupun ibunya yang menemani.

Hanya untuk sekedar meredakan rasa sakit yang dirasakannya, dia harus mengulum es batu yang telah dipotong kecil-kecil oleh ibunya. Gilang harus merasakan derita itu, setelah kanker kelenjar getah bening itu sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhnya. Bahkan akibat penyakit itu, pada pipi dan mata sebelah kanannya tumbuh benjolan besar yang menjadi borok mengeras seperti batu.
          

“Waktu kelas satu SD dia panas, awalnya dikira typhus, lalu kami bawa ke rumah sakit dan diambil darahnya. Hasil tes darah waktu itu Leukimia,” kenang ibunda Gilang,‎ Retno Fitria Sari‎ ditemui di rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Lingkungan Langsepan, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Kamis (22/3).

Di saat sakit itu,di perut anak pertamanya itu memang muncul benjolan. Sempat dirawat‎ di rumah sakit sekitar sebulan, Gilang kemudian dibawa pulang. Keterbatasan biaya menjadi alasan pihak keluarga membawa Gilang pulang dirawat di rumah.

Namun kondisi Gilang bukannya membaik malah memburuk. Sekitar 7 bulan lalu, atau sebulan setelah dirawat di rumah, benjolan lain muncul. Kali ini di wajah dekat mata. Makin hari benjolan itu makin melebar.  “Ada benjolan di pipi, tambah bulan tambah besar,” kata Retno.

Melihat benjolan yang semakin membesar, Retno bersama suaminya, Munir, kembali membawa Gilang ke rumah sakit. Di sana, dia kembali menjalani tes darah. Hasilnya, Gilang didiagnosa menderita kanker kelenjar getah bening.

Pihak rumah sakit,menyarankan agar Gilang dibawa ke rumah sakit di Surabaya. Namun saran itu belum bisa dilakukan karena keterbatasan biaya kembali menjadi persoalan.

“Oleh dokter suruh dibawa ke Surabaya ya saya bilang nggak mampu. Terus disuruh bawa pulang. Kata dokternya kalau sudah ada persetujuan keluarga bawa lagi ke sini, gitu.Ada  empat jenis penyakitnya mas selain leukemia sama kanker kelenjar getah bening itu ada dua lagi tapi saya lupa ama namanya,” kata Retno.

Akhirnya, Gilang hingga saat ini hanya dirawat di rumah. Selama dirawat di rumahnya, derita yang dialami Gilang pun semakin menjadi. Benjolan di pipinya semakin membesar dan menjadi borok. Bahkan mata sebelah kanannya pun menjadi tidak berfungsi karena tertutup borok yang mengering dan mengeras.

Untuk penangan yang mampu dilakukan, Retno dan Munir pun mencoba mengobati Gilang dengan memberikannya obat herbal yang diketahuinya dari iklan televisi. “Harganya Rp 1,6 juta. Ini baru nyoba. Disemprotkan di mulut, di bawah lidah. Satu hari dua kali,” ujar Retno.

Pekerjaan sang suami yang hanya sebagai kuli bangunan, membuat pihak keluarga sampai saat ini belum berani membawa Gilang berobat ke Surabaya. “Biaya hidupnya kami nggak punya. Apalagi katanya di sana paling tidak harus menginap selama satu bulan,” kata Retno.

Sementara kondisi fisik Gilang sendiri saat ini makin lemah. Anak pertama dari tiga bersaudara itu bahkan sering pingsan. Tubuhnya juga semakin kurus.Bahkan sejak tiga hari ini kepalanya miring padahal sebelumnya tegak seperti biasa.

“Dia sering mengeluh pusing, juga sering pingsan. Bahkan dia  ngemut (mengulum,Red) es batu untuk mengurangi rasa sakitnya kalau nggak dikasih nangis,” kata Retno. 

Meski kondisi anaknya kian parah namun Retno dan suaminya hanya bisa pasrah menerima kondisi anaknya tersebut.”Ya gimana lagi mas,keluarga hanya bisa pasrah saja,”pungkasnya

Reporter : Rio Christiawan
Editor : Dedi Kurniawan
Berita Sebelumnya Polres Situbondo Tindak Tegas 47 Pelanggar Lalu Lintas
Berita Selanjutnya Dandim 1312/Talaud : Gotong royong membangun dalam keterbatasan di Perbatasan

Komentar Anda