UniqMag

Budaya Seksiang Ikut Ramaikan Lom Plai di Kutim

berita terkini
Bupati Kutim H Ismunandar dan ribuan masyarakat menyaksikan tarian perang oleh para pemuda Desa Wehea dari pinggir sungai (ist)

KUTAI TIMUR, (suaraindonesia.co.id) - Pelaksanaan Upacara Lom Plai Suku Dayak Wehea tahun 2018 di berjalan sukses, Kamis (19/4/2018). Ritual yang dipusatkan dikawasan perairan sungai wahea, Desa Nehas Liah Bing Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim) nampak dipadati ribuan penonton tidak hanya dari Kutim semata, melainkan dari beberapa kota di kalimantan Timur.

Bupati Kutim,  H Ismunandar turut hadiri Puncak Acara Lom Plai tersebut dengan dengan menyaksikan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat desa yang mayoritas dari suku dayak Wahea. Kedatang orang nomor satu di Pemerintah Kutim dan Para Pejabat di Lingkungan Pemkab Kutim disambut Kepala Adat Dayak Wehea Ledjiq Taq, Camat Muara Wahau Irang Ajang, anggota DPRD Sieng Gia, Kepala Desa ditandai dengan pengalungan syal yang terbuat dari manik.

Ismunandar langsung diajak menuju ke pinggir sungai untuk menyaksikan tarian perang oleh para pemuda di Desa Wehea. Ismunandar terlihat begitu antusias dan terpukau menyaksikan tarian tersebut.

“Lom Plai terus ada mengharumkan nama Kutim sebagai warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya. Dampaknya positif  ke sektor perekonomian bukan hanya ramai dikunjungi penikmat wisatawan luar Kutim maupun mancanegara tapi mendapatkan pendapatan bagi warga Wehea sekaligus garansi promosi wisata,” terang Ismunandar.

Puncak perayaan Lom Plai dan selalu ditunggu-tunggu oleh Masyarakat Kaltim. Ritual lom Plai tersebut terbagi menjadi 4 bagian, yaitu Seksiang, Embos Min, Peknai  serta Hudoq.

Ritual Seksiang, yang merupakan ritual perang-perangan di Sungai Wehea oleh warga kampung laki-laki saling melemparkan tombak tiruan dari Weheang (sejenis rumput gajah yang tumbuh di tepi sungai), yang telah ditumpulkan dari hulu hingga ke hilir kampung berlangsung semarak.  Bersamaan dengan ritual Seksiang, dilaksanakan ritual Embos Min, yaitu sebuah ritual pemulihan kampung yang dilakukan oleh para tetua adat perempuan dan pengunjung dilarang melintasi jalan yang dilalui selama ritual tersebut.

Pada saat pelaksanaan ritual tersebut, warga dan pengunjung memadati tepi Sungai Wehea untuk menonton atraksi perang2an (Seksiang).

Tak hanya itu, lomba perahu tradisional antar RT, kelompok laki-laki dan perempuan juga sanggup menyita perhatian pengunjung dan warga setempat. Bahkan wisatawan mancanegara pun enggan meninggalkan acara. Di etape pertama beradu tiga perahu khusus untuk para wanita.

"Masing-masing perahu di isi 18 pendayung. Untuk kelompok laki-laki juga sama," jelas Muhammad Riki selalu Sekretaris Panitia Pesta Adat Lom Plai 2018.

Lomba perahu dimaksud berlangsung di Sungai Nehes Liah Bing. Perahu didayung mengikuti gerak arus sungai sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Momen itu menjadi magnet tersendiri karena memperlihatkan semangat kebersamaan antar warga. Bukan karena hadiah lomba, namun untuk pelestarian budaya.

Selanjutnya ritual Peknai pasca Seksiang dan Embos Min, tibalah saat untuk bergembira bersama. Yaitu ritual siram-siraman dan coreng-corengan arang dilakukan dalam suasana gembira dan penuh sukacita. Makna dari ritual ini ialah agar musim tanam berikutnya mendapatkan curah hujan yang cukup (siram-siraman) serta pembakaran ladang berlangsung sempurna (ditandai dengan arang hitam).

"Siapapun yang disiram atau dicoreng arang tidak boleh marah atau tersinggung," tambah Riki ditengah-tengah pesta adat yang masih berlangsung.

Hingga berita ini diturunkan tarian Hudoq baru akan berlangsung. Merupakan puncak dari keseluruhan Lom Plai dimana setelah ritual pada pagi hingga siang hari selesai. Dilaksanakn ritual Nluei Hudoq (doa dalam bentuk nyanyian) untuk memanggil dan memberi makan roh-roh hudoq yang berasal dari bawah tanah, atas air dan dari khayangan).

Rampung Nluei Hudoq kemudian dilangsungkan dengan atraksi tarian hudoq serta tumbambataq dan njiak keleng oleh seluruh warga dalam balutan pakaian tradisional Suku Dayak Wehea. (hms3/hms15/Advetorial)

Reporter : Muhammad
Editor : Sulhan Hadi
Berita Sebelumnya Bupati Kutim Janji Kemas Ritual Lom Plai Lebih Menarik
Berita Selanjutnya Pastikan Keamanan, TB2 di Uji di Pantai Aquatik, Kutim

Komentar Anda