UniqMag

Derita Nenek Miskin yang Hidup Bersama Anaknya yang Mengalami Gangguan Kejiwaan

berita terkini
Jumaliyah menunjukan tempat tidur nenek Munira selama menjalani masa tuanya

JEMBER, (suaraindonesia.co.id) - Setiap manusia pasti mempunyai keinginan di masa tuanya akan dijalani dengan bahagia, namun kenyataan ini tidak dirasakan seorang perempuan tua berusia 90 tahun, warga Desa Kemuninglor, Kecamatan Arjasa. 

Nenek Munira menjalani masa tuanya dengan kondisi yang memprihatinkan. Kondisinya lemah, tubuh tuanya hanya terbalut kulit yang sudah mengeriput. Tidak hanya itu sudah berpuluh tahun dia tidak bisa beranjak kemana-mana jika tidak ada yang membantunya. Mata tuanya sudah tak bisa melihat dengan jelas.

Tak sulit untuk mencapai rumah nenek Munira. Rumah Munira tepat dipinggir jalan Desa Kemuninglor, Kecamatan Arjasa menuju ke tempat wisata Rembangan, tepatnya disamping rumah makan mewah milik Politeknik Negeri Jember di kawasan tersebut.

Rumah kecil Munira berada dibalik rerimbunan pohon kayu besar di pinggir jalan ini kondisinya sangat tidak layak ditinggali. Meskipun dinding depan rumah sudah ditembok, namun saat masuk ke dalam rumah sangat memprihatinkan. Meski hampir tenga hari suasana dalam rumah pengap dan gelap tanpa cahaya, saking gelapnya anak Munira bernama Ahmad Syamsuri harus menyalakan lampu namun redup. Selama ini Ahmad Syamsurilah yang merawat Munira di masa tuanya.

Setelah cukup terang, nampak berbagai barang berserakan penuh debu. Beberapa lemari terlihat penuh barang-barang. Kondisi rumah ini juga cukup reyot terlihat dari sejumlah atap yang lapuk. 

Di dalam ruangan pun juga terlihat ada tiang penyangganya. Tetapi dengan luas ruangan yang terbagi tiga sekat ini hanya ada dua penerangan lampu yang redup.

Di salah satu ruangan tengah itulah ada seorang nenek yang hanya bisa berdiam diri di atas kasur yang kumuh. Bahkan sang nenek ini untuk bergerak di ranjang itu saja sulit. Karena di kasur itu banyak tumpukan kain dan barang lainnya yang bertumpuk berserakan. Bahkan sejumlah alat makan pun terlihat di samping sang nenek.

Agar dapat berbincang dengan Munira suaraindonesia.co.id meminta tolong Jumaliyah seorang pemilik warung tak jauh dari rumahnya, pasalnya Munira hanya bisa berbahasa Madura.

“Setiyah Maghrib ta, mak peteng yeh (Sekarang sudah Maghrib, kok gelap ya),” suara serak berat dari Munira bertanya kepada Jumaliyah yang mendatanginya.

“Enjek, setiyah bedug (Bukan sekarang duhur),” tutur Jumaliyah menjawab. Menurut keterangan Jumaliyah, memang nenek Munira sudah tidak bisa melihat dan tidak bisa membedakan hari sudah gelap atau siang hari. Apalagi, nenek Munira ini memang sudah tidak bisa bergerak pindah dari kasur.

Menurut Jumaliyah, sebenarnya Munira ini dulunya orang yang cukup berada. Semasa mudanya dia berdagang di sejumlah pasar di Jember. “Jualan sayur dan sapu lidi ke pasar. Kadang ke Pasar Tanjung di Jember,” terangnya. Namun, kemudian lama kelamaan kondisinya terus menurun karena termakan usia. Bahkan kondisinya diperburuk dengan penglihatan yang menurun hingga kemudian tidak bisa melihat sama sekali.

Akibat kondisinya yang kian melemah karena termakan usia, nenek Munira pun tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Setiap hari anaknya, Ahmad Syamsuri yang membantu dan merawatnya. Namun, ironisnya sejak 10 tahun lalu Syamsuri ini mengalami gangguan jiwa sehingga tidak bisa melakukan aktifitas dengan normal. Padahal, sang anak ini sebelumnya termasuk anak yang rajin.

“Anaknya stres (depresi) setelah tidak jadi menikah,” tutur Jumaliyah. Meskipun mengalami depresi, namun sang anak ini cukup sayang kepada ibunya yang sudah renta ini. Dimana kadang sang anak ini juga memasak untuk mereka. Untuk ke Buang Air Besar dan Kecil harus digendong dan diangkat Syamsuri ke kamar mandi.

Menurut Munira seperti yang dituturkan Jumaliyah, selama ini kehidupannya penuh kesusahan. Bahkan, lebih banyak bergantung kepada uluran tangan tetangganya. “Ya setiap hari mengandalkan bantuan dari para tetangga,” jelasnya. Sehingga bisa dikatakan memang hidupnya bergantung pada bantuan dari orang lain.

Terkait dengan kondisi Nenek Munira yang buta dan lumpuh, serta Syamsuri yang mengalami gangguan jiwa, Jumaliyah mengakui itu. Namun dirinya tidak tahu apakah sebelumnya sudah pernah dibawa ke pelayanan kesehatan atau tidak. Karena dirinya juga memiliki kesibukan sendiri.

Sementara Syamsuri, anak Munira meski kadang saat ditanya jawabannya agak melantur, menceritakan dirinya sangat menyayangi ibu kandungnya tersebut walau penuh keterbatasan.

“Kalau makan ya diberi makan. Saya juga masak, ayo mari makan,” ucap Syamsuri.. 

Syamsuri mengakui bahwa memang berat merawat sang ibu sendirian. Syamsuri mengaku repot kalau pas sang ibu buang air besar atau buang air kecil karena harus dibopong.

“Paling sulit kalau sakit. Gak mau diam, selalu meronta. Yang pegang tidak kuat,” jelasnya dengan terbata-bata. 

Namun demikian Syamsuri tidak bisa ditanya lebih dalam, pasalnya pembicaraan Syamsuri semakin lama makin melantur. 

Sebelum suaraindonesia.co.id berpamitan, Jumaliyah berpesan dan berharap agar ada pihak-pihak yang dapat membantu Munira dan Syamsuri anaknya “ Ya semoga setelah sampean (anda) kesini banyak yang membantu Bu Munira dan anaknya. Terutama untuk membantu membiayai perawatan kesehatannya,” pesannya.

Reporter : Rio Christiawan
Editor : Farhan Jordan
Berita Sebelumnya Satreskoba Polres Kutim Kembali Tumpas Dua Bandar Sabu 
Berita Selanjutnya Partai Nasdem OKI Pertama Daftar Bacaleg ke KPU

Komentar Anda