UniqMag

Nama dan Fotonya Dipakai di Akun Facebook, Pengasuh Ponpes di Jember Lapor Polisi

berita terkini
Ali Wafa Pengasuh Ponpes yanh namanya dicatut saat melapor ke Polres Jember

JEMBER, (suaraindonesia.co.id) – Namanya dipakai seseorang di akun media sosial Facebook, Pengasuh Pondok Pesantren  Mahfilul Dhuror Ali Wafa, asal Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Senin siang (30/4), lapor ke Mapolres Jember.

Ali Wafa menyampaikan, akun facebook palsu tersebut menggunakan nama dan foto dari kalender pemilu Kabupaten Bondowoso tersebut,. Ali mengetahui akun tersebut dua hari lalu, setelah salah satu alumni santri datang memberitahu dirinya.

“Saya datang ke Polres Jember, untuk melaporkan adanya (akun) facebook yang mengatasnamakan saya, dan memasang gambar saya. Padahal selama ini, saya tidak punya (akun) facebook,” ujar Ali Wafa saat di Mapolres Jember.

Masih lanjut Ali Wafa, keberadaan akun tersebut sangat merugikan dirinya. Karena dalam akun tersebut banyak memposting kalimat yang dinilai merugikan dirinya, dan melecehkan namanya.

“Bahkan mengancam kerusakan santri (nama baik dirinya dan ponpes). Sehingga saya sangat tidak terima dengan adanya akun facebook tersebut, sehingga saya melapor ini,” katanya.

Status yang ditulis dalam akun facebook tersebut, menurut Ali Wafa, sangat melecehkan dirinya. “Tulisannya (dalam status akun tersebut), Kepala aku pusing memikirkan santri putri yang selalu dijenguk oleh tunangannya,” ujarnya membacakan status dalam akun yang mengatasnamakan dirinya itu.

Ali Wafa berharap, pihak kepolisian bisa segera menangkap siapapun yang telah membuat akun facebook palsu tersebut. “Sehingga bisa diselesaikan oleh Polres Jember,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi secara terpisah, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengakui telah menerima laporan dari Pengasuh Ponpes Mahfilul Dhuror tersebut. Kusworo juga berjanji akan segera menelusuri siapa pembuat akun palsu tersebut.

“Laporan masih kami terima, dan masih akan melakukan pemeriksaan terhadap para saksi. Selain itu juga kesaksian dari korban juga akan kami mintai keterangan, karena ada unsur yang merugikan Pak Kiai tersebut,” ujar Kusworo.

Jika terbukti telah merugikan pelapor, pelaku akan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE, dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Reporter : Vino AFM
Editor : Farhan Jordan
Berita Sebelumnya Masih Ada Kekurangan, Komisi IV DPRD Balikpapan Akan Lakukan Ini Untuk UNBK SMP Tahun Depan
Berita Selanjutnya Herlang: Pemuda Kutim Harus Melestarikan Seni dan Budaya

Komentar Anda