UniqMag

IPM Jember Tahun 2017 Masih Jeblok, Urutan 31 di Jatim

berita terkini
Ilustrasi

JEMBER, (suaraindonesia.co.id) – Pembangunan yang dilakukan Pemkab Jember untuk memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jember tak berdampak. Kabupaten yang dipimpin Bupati Faida ini hanya naik dua strip saja dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dimana selama tahun 2017 ini, IPM Jember menduduki peringkat ke-31 dengan angka mencapai 64,96 persen.

Jebloknya IPM Jember terlihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Jember. Tercatat pada tahun 2017 ini sebenarnya ada kenaikan IPM Jember, mengalami kemajuan tumbuh 1,48 persen.

Pada tahun 2016 tercatat IPM Jember mencapai 64,01 sedangkan pada tahun 2017 mencapai 64,96. Menurut Kepala BPS Jember Indriya Purwaningsih, hal ini masih belum terlalu bagus alias rendah karena menempati urutan ke 31.

“Predikat IPM Jember pada tahun 2017 naik dari peringkat 33 tahun 2016 menjadi peringkat 31 pada tahun 2017,” katanya. Dengan demikian, ada peningkatan dua strip dibandingkan tahun sebelumnya.

IPM Jember di wilayah eks Keresidenan Besuki dan Lumajang, tercatat dibawah Kabupaten Banyuwangi. “Namun masih diatas Kabupaten Bondowoso dan Lumajang,” kata Indri, panggilan akrabnya.

Jember bersama beberapa kabupaten di wilayah eks Keresidenan Besuki dan Lumajang tercatat mempunyai IPM berkategori sedang. Semua Kabupaten Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Probolinggo berada di grade IPM ini.

Meskipun indikator keberhasilan ada peningkatan nilai IPM serta meningkatkan peringkat Jember di Jawa Timur namun masih rendah dibandingkan kabupaten kota lainya.

Sejumlah indikator tercatat telah membuat IPM Jember meningkat. Diantaranya kualitas kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat Jember mengalami peningkatan.

“Selama periode 2016 hingga 2017, lanjutnya, komponen pembentuk IPM juga mengalami peningkatan,” jelasnya. Seperti bayi yang baru lahir memiliki peluang untuk hidup hingga 68,54 tahun, meningkat 0,17 tahun. Kemudian anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk bersekolah selama 12,79 tahun, meningkat 0,48 tahun.

Untuk penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 6,06 tahun, juga meningkat 0,01 tahun. “Pengeluaran per kapita yang disesuaikan (harga konstan 2012) telah mencapai Rp 8,698 juta,” jelasnya. Yakni meningkat Rp 289 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.

Dirinya menjelaskan IPM dihitung berdasarkan rata-rata geometrik indeks kesehatan, indeks pengetahuan, dan indeks pengeluaran. Penghitungan ketiga indeks itu dilakukan dengan melakukan standardisasi dengan nilai minimum dan maksimum masing-masing komponen indeks.

Walaupun nilainya meningkat, namun bukan berarti kinerja Pemkab Jember dan seluruh stakeholder sudah selesai. Dirinya mengatakan jika Pemkab Jember harus tetap perlu meningkatkan kinerja pembangunan manusianya menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

 

Reporter : Vino AFM
Editor : Farhan Jordan
Berita Sebelumnya Jaga Netralitas Pilgub, KPU Banyuwangi Gelar Sosialisasi Bagi Penyelenggara
Berita Selanjutnya Di Bulan Ramadhan, 40 Pengemis di Pamekasan Terjaring Razia

Komentar Anda