UniqMag

Ini Pekerjaan Terduga Teroris di Jember

berita terkini
Gerobak motor milik terduga teroris saat akan dibawa oleh petugas Polres Jember

JEMBER, (suaraindonesia.co.id)- Keseharian AR terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 anti teror bekerja sebagai penjual bakso keliling.

"Jualan bakso, keliling pakai motor," kata ketua RT setempat, Nur Cahyo, Sabtu (4/8).

Bakso yang dijual merupakan setoran bukan dia buat sendiri . "Tidak dibuat di rumah, tapi sudah ada yang bikin, katanya sih setoran milik Pak Muchlis, orang Muktisari. Jadi tinggal jualkan," terang Nur Cahyo.

Saat ditunjukan foto gerobak bakso motor, Nur Cahyo membenarkan jika gerobak motor tersebut sering digunakan AR setiap menjajakan baksonya.

"Iya benar itu motornya. Honda Grand hitam," kata Nur Cahyo.

Gerobak motor bernopol L 2462 RG itu sempat terparkir di halaman Mapolres Jember, Kamis (2/8), usai Kapolda Jatim meresmikan masjid milik Polres Jember.

Sosok terduga teroris AR menurut Nur Cahyo kesehariannya sama seperti warga biasa. AR dan istrinya dikenal ramah oleh tetangga sekitar.

"Tiap bertemu tetangga selalu menyapa. Orangnya baik koq. Kita kaget ketika rumahnya digerebek Densus," kata Nur Cahyo.

Rumah tipe 36 plus ditempati AR bersama istri dan ketiga anaknya di Perumahan Istana Tegal Besar sejak 8 bulan lalu tersebut milik kerabatnya.

"Sudah tinggal selama kurang lebih 8 bulan. Nggak ngontrak, disuruh nempati saja sama pemilik rumah. Katanya sih ada ikatan saudara dengan si pemilik rumah," terang Nur Cahyo.

Sementara keseharian istri AR, menurut Nur Cahyo, berprofesi sebagai terapis pijat panggilan. Banyak warga perumahan yang sering meminta jasa pijat perempuan itu.

"Pelanggannya perempuan, ya memijat kalau dipanggil saja," katanya.

Selama 8 bulan tinggal di rumah itu, Nur Cahyo mengaku belum tahu asal AR dan istrinya. AR maupun istrinya belum menyerahkan data identitas dirinya ke RT.

Meski dikenal baik dan ramah, Nur Cahyo mengaku heran dengan kehidupan keluarga AR. Ketiga anak AR tidak ada yang sekolah.

"Nggak ada yang sekolah, utamanya dua anak yang laki-laki. Anaknya yang pertama seharusnya sudah SMP yang nomor dua seharusnya SD sedangkan yang terakhir cewek umur 4 tahun,” katanya.

“Karena tidak sekolah, dua anak laki-lakinya itu hampir tiap pagi nonton TV di pos jaga," pungkas Nur Cahyo.

Reporter : Rio Christiawan
Editor : Farhan Jordan
Berita Sebelumnya Densus 88 Sita 23 Barang Terduga Teroris di Jember
Berita Selanjutnya Unik! Sambut HUT ke-73 Hari Kemerdekaan RI, Warga Pamekasan Siapkan Tank Amphibi

Komentar Anda