SUARA INDONESIA

Kumpulan Puisi Chairil Anwar pada Agustus 2022, Masih Relevan untuk Dibaca

Lukman Hadi - 04 August 2022 | 18:08
Artikel Kumpulan Puisi Chairil Anwar pada Agustus 2022, Masih Relevan untuk Dibaca

SURABAYA - Hai sobat semuanya, apakah kalian tahu nih dengan sesosok legenda yang dijuluki "Si Binatang Jalang". Hayoo, yuk simak bersama-sama tentang siapa sih orang nya?

Dia adalah Chairil Anwar, lahir di Medan 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha, sesosok penyair puisi yang terpandang, ia menempuh pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau Sekolah Dasar (SD), dan meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) saat usia 18 tahun, sejak kecil dia mempunyai cita-cita sebagai seorang seniman.

Sebagai sosok penyair yang hebat dia juga menguasai berbagai bahasa asing di antaranya Inggris, Belanda, dan Jerman. Bukan hanya itu saja dia mengisi waktu luangnya sering membaca karya-karya pengarang internasional seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.

Dengan menulis 96 karyanya yang termasuk 76 puisi yang dirangkai dengan 2 temannya (Asrul Sani dan Rivai Apin), dia juga dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor 45.

Apalagi pada bulan Agustus ini banyak karya-karya nya yang dipakai terutama puisi dengan tema perjuangan, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme hingga yang bersifat multi-interprestasi.

Berikut beberapa puisi Chairil Anwar yang cocok digunakan untuk menyambut HUT RI Ke-77.

1. AKU

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

2. KARAWANG BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Menceritakan tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Puisi ini tentu sangat menginspirasi bagi kita semua para penerus bangsa agar selalu semangat membela negara tercinta.

Yang Terampas Dan Yang Terputus

3. DERAI-DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

4. DI MESJID

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada

Segala daya memadamkannya

Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa

Satu menista lain gila.

5. DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

6. MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang.


Pewarta: Aldi Fakhrudin

Editor:  Lukman Hadi/suaraindonesia.co.id

Pewarta : Lukman Hadi
Editor : Lukman Hadi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya