SUARA INDONESIA

Ngamen Seni, Cara Sanggar Seni Probolinggo Bertahan di Masa Pandemi

Rapelaziza Bangun Alamsyah - 18 November 2021 | 22:11
Budaya Ngamen Seni, Cara Sanggar Seni Probolinggo Bertahan di Masa Pandemi

PROBOLINGGO - Masa pandemi Covid-19 tak hanya mempengaruhi sektor ekonomi, dunia seni pun kebagian imbasnya.

Sanggar seni tari tradisional Mardi Budoyo di Jl. ir. Juanda Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo salah satu yang terdampak.

Sanggar seni yang mengajarkan ragam kesenian lokal Probolinggo hingga beberapa daerah lain itu, terpaksa ngamen keliling kampung untuk tetap bertahan di masa pandemi ini.

Salah seorang pengajar seni sekaligus pengurus sanggar Mardi Budoyo, Yuyun Widowati mengatakan setiap anak yang belajar seni ditempatnya tidak dipungut biaya.

"Sanggar seni kami selalu terbuka untuk dikunjungi. anak-anak yang belajar di sini tidak dibebankan biaya sepeser pun," ujarnya, Kamis (18/11/2021).

Belajar gratis di sanggar seni itu bertujuan agar para pemuda mau mengenal seni dan budaya sendiri dan tidak terlalu mengedepankan kebudayaan luar (asing).

Mengamen dengan menampilkan tarian dan seni daerah keliling kampung dilakukan siswa sanggar seni Mardi Budoyo, agar masih tetap bisa berkreasi di tengah pembatasan sosial yang ada disamping juga menghasilkan pendapatan sebagai kas.

"Sebelum pandemi kami biasa menyambut tamu wisatawan asing kapal pesiar atau tampil pada kegiatan Pemerintah Kota Probolinggo. Sekarang hampir tidak ada karena adanya Covid-19," terang Yuyun.

Jumlah siswa pun mulai berkurang, sebelumnya ada sekitar 60 orang saat ini hanya berjumlah 40 orang. 

Saat mengamen siswa sanggar seni tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan face shield agar aman dari paparan Covid-19.

"Anak-anak pakai face shield saat tampil, sebab kalau pakai masker kesulitan mengatur nafas karena kan terus bergerak kalau menari," jelasnya.

Ragam seni dan tari yang diajarkan di sanggar Mardi Budoyo meliputi Klono Sewandono, Bujangganing, Jatilan, Reog Singo Barong, Barong Jeprok, Gambyong Parianong, Serimpi, Bondan, Bajdor Jahit atau Jaipong, Lenggang Probolinggo atau Rerere dan Lenggasor (Lengger Banyumasan) serta Tari Minak Jinggo Dayun.

Pihak sanggar berharap ada kepedulian terhadap seni dan budaya sehingga tetap menadapat tempat di hati masyarakat.

Sekalipun tidak memiliki penghasilan yang tidak tetap sanggar seni Mardi Budoyo berkomitmen tetap bertahan agar tak tutup, demi melestarikan kesenian dan kebudayaan bangsa.

Pewarta : Rapelaziza Bangun Alamsyah
Editor : Lutfi Hidayat

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV