SUARA INDONESIA
Banner

Petani Mangga Kabupaten Pasuruan Panennya Merosot 40%

PASURUAN - Masa panen mangga Alpukat yang dialami kalangan petani mangga di Kecamatan Rembang dan Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, tak sesuai harapan. Meski banyak yang panen, namun produktifitas mangga yang dihasilkan pada musim tahun ini menurun sampai 40% bila dibanding musim mangga tahun lalu.

Petani mangga di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Sugiono menuturkan, menurunnya produktifitas mulai dirasakan petani. Tahun lalu, dari 3 hektar, mangga bisa hasilkan 2 ton."Kini maksimal bisa 1,2 ton per hari. Menurunnnya produktifitas disebabkan cuaca dan dampak Pandemi Covid-19," ujarnya, Minggu (18/10/2020).

Menurut dia, produktifitas mangga di musim ini menurun hingga 40 persen kalau dibanding musim mangga tahun kemarin. Faktor cuaca berpengaruh terhadap perkembangan buah yang terkenal dengan aroma dan warnanya ini."Kalau masalah hama hampir bisa ditangani dan tak ada kendalanya," terang Sugiono.

Kata dia, kalau pada musim kemarau, mangga akan dapat berbuah sampai besar dan banyak. Sebaliknya, apabila datang musim penghujan, maka secara otomatis membawa lalat buah yang bisa merusak kualitas buah mangga itu sendiri.“Sekarang mulai hujan, saya dan petani mangga lainnya sudah resah," ucapnya. 

Karena, lanjut dia, sesuai dari pengalaman yang pernah dialami petani mangga, saat hujan dipastikan mendatangkan lalat buah yang tentunya menjadi kendala bagi petani di Sukorejo."Kalau sudah seperti itu, biaya perawatan mangga bisa melonjak tajam. Tapi kalau kemarau, mangga akan berkembang sangat bagus,” urai dia.

Selain cuaca, Pandemi Covid-19, juga berpengaruh terhadap biaya perawatan maupun bantuan yang datang dari Pemerintah. Menurut Sugiono, biaya perawatan pohon mangga mengalami peningkatan cukup signifikan. Sedangkan bantuan yang digulirkan oleh pemerintah, kini dialihkan untuk kebutuhan penanganan penyebaran virus corona.

“Sama seperti manusia. Pohon mangga juga butuh makan. Karena bantuan juga sudah dialihkan, maka petani harus berswadaya sendiri. Kalau mengandalkan bantuan, tentu ada resikonya pada produktifitas mangga yang jelas berdampak akan menurun karena pohonnya tak dipupuk,” kata Sugiono.

Lebih lanjut Sugiono menjelaskan, dengan menurunnya produktifitas mangga, ia dan petani lainnya harus pintar-pintar dalam memutar otak. Hal itu penting dilakukan, karena mangga hanya berbuah satu atau dua kali dalam satu tahun.“Karena setelah musim selesai, kebutuhan hidup selama setahun harus diperhitungkan,” tuturnya.

Seperti diketahui, di Desa Wonokerto terdapat 300 hektar lahan kebun mangga dimiliki warga. Kata Sugiono, selain dijual langsung ke pembeli, para petani mangga juga di Wonokerto, ada yang menjualnya melalui pengepul atau pembimbing petani. Utamanya pengepul yang sudah memiliki pelanggan hingga luar kota.

Apa Reaksi Anda?