SUARA INDONESIA

Positioning, Diferentiation, Branding seorang Kiai dan Sebuah Organisasi

Wilda Natasya - 19 April 2021 | 15:04
Entertaiment Positioning, Diferentiation, Branding seorang Kiai dan Sebuah Organisasi

Penulis : Rosida Vignesvari

Menurut teori personal branding dari berbagai buku yang saya baca dan berbagai tokoh yang saya amati, tidak semua orang memiliki personal branding yang akumulatif. Pada umumnya hanya 1 brand/cap/merek misal Kiai lucu, Kiai ijazah, Kiai amalan, Kiai lurus, Kiai kerah sakti (lucu namun tidak berisi) dll.

Saya mengamati seorang Kiai yang personal brandingnya lengkap, kebetulan menjadi narasumber kuliah subuh hari ini. Rasional logis, social qur’ani, percaya diri, akademik, bicaranya panjang dan ceplas ceplos (terkesan sombong), lucu dan sedikit porno serta a bit rebellious. Sebenarnya bukan rebell tapi ybs tidak ragu menyuarakan suara hati dan, ide-idenya, terkadang juga break the rules. Itulah personifikasi yang menjadi diferensiasi dan membentuk brand YAI MIM. 

Bagi orang-orang tertentu yang tidak mampu mengikuti, tidak mampu memahami dan atau tidak memiliki kemampuan, namun punya power baik besar maupun kecil (Leader), kecenderungannya akan memaksa orang tersebut merubah brand imagenya tersebut. 

Saat itulah terjadi tarik menarik. Yang satu tersiksa dengan pola yg dipaksakan untuknya, sementara yang lain semakin tidak nyaman karena merasa eksistensinya terancam.

Bilamana pemilik brand tersebut mengikuti pola yang dipaksakan untuknya maka hilanglah brand pada dirinya alias lost identity. 

Sedangkan leader yang memaksa (pemaksa) akan merasa puas, sekalipun itu kepuasan yang semu.

Rekomendasi :  

Pemaksa harus bisa kembali pada fungsi leader sesungguhnya, yang salah satunya menjadi pengelola (manager). 

1. Manage perbedaan-perbedaan brand image yang ada di anggota kelompok. 

2. Jangan padamkan konflik tapi Manage konflik. Karena sesungguh konfilk atau gesekan adalah keniscayaan yang tercipta karena adanya perbedaan2. 

Semoga tujuan utama sebuah organisasi tersebut cepat tercapai.

Itulah pengalaman saya mengikuti sholat shubuh dilanjut kajian ba’da shubuh di sebuah masjid. Pesertanya dari berbagai profesi dan latar belakang yang berbeda2. Ada pengusaha, akademisi (para guru besar), ustadz, guru ngaji, mahasiswa dan ibu-ibu biasa macam saya. Narasumber enjoyed so much because he didn’t need to change his brand. Dan komunitas itu hidup, tertawa2, tak ada yang ngantuk. Karena apa? karena setiap orang menjadi dirinya sendiri, tidak perlu merubah brand imagenya.

Pewarta : Wilda Natasya
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya