SUARA INDONESIA

Prokes Ketat Pembelajaran Tatap Muka PPKM Level II di Madrasah

Lutfi Hidayat - 18 September 2021 | 08:09
Feature Prokes Ketat Pembelajaran Tatap Muka PPKM Level II di Madrasah

PROBOLINGGO - Belajar dengan kondisi normal menjadi harapan setiap orang tua siswa di masa pandemi Covid-19, setelah berbulan-bulan siswa belajar melalui sistem daring.

Kebijakan dibolehkannya pembelajaran tatap muka (PTM) dengan penerapan protokol kesehatan ketat oleh Pemerintah Kota Probolinggo, menjadi angin segar baik bagi orang tua siswa, guru dan pihak sekolah serta siswa itu sendiri.

Salah satunya adalah Madrasah Ibtidaiyah Kiai Hasyim Asy'ari (MI Kahasri) di Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo yang memaksimalkan PTM dengan melengkapi berbagai fasilitas protokol kesehatan seperti penyediaan bilik penyemprotan disinfektan di pintu masuk madrasah.

Menurut Kepala MI Kahasri, Suef Priyanto setiap siswa dan guru yang masuk-keluar madrasah akan diperiksa suhu tubuhnya dengan thermo gun dan penyemprotan tangan dengan handsanitizer, kemudian diijinkan masuk ke madrasah melalui bilik penyemprotan disinfektan.

"Sejak pemerintah mengijinkan sekolah tatap muka, kami telah siapkan seluruh fasilitas protokol kesehatan agar siswa siswi kami aman belajar di sekolah," ungkap Suef di ruang kerjanya, Sabtu (18/09/2021).

Tak ada siswa yang berkerumun dan bermain di halaman madrasah sebab mereka diharuskan langsung masuk ke dalam kelas masing-masing untuk menerima pembelajaran.

PTM di MI Kahasri hanya memberlakukan kapasitas kelas 50 persen dari jumlah siswa yang ada, sedangkan sistem kelas tatap muka diterapkan bergantian sepekan sekali.

Separuh siswa belajar tatap muka, separuh lainnya belajar daring dari rumah yang dilakukan bergantian sesuai jadwal yang telah diatur.

"Hanya 50 persen yang belajar di sekolah, separuhnya daring dari rumah. Pekan berikutnya bergantian yang daring ganti tatap muka dan yang belajar di sekolah ikuti pelajaran secara daring," ujarnya.

Di dalam lingkungan sekolah, lanjut Suef para siswa dan guru juga diwajibkan memakai masker serta membawa handsanitizer masing-masing yang dapat digunakan setiap waktu.

"Kami tidak menerapkan sistem sift (pagi dan siang), karena jumlah siswa terlalu banyak lebih dari 500 orang. Kalau dipaksakan nanti menimbulkan kerumunan," tandasnya.

Pembelajaran juga hanya dilakukan selama maksimal 3 jam untuk siswa kelas empat hingga enam dan maksimal 2 jam untuk siswa kelas satu hingga kelas tiga yang dimulai dengan pembacaan Al-Qur'an sebelum memulai proses pembelajaran.

MI Kahasri yang berada di bawah naungan yayasan LP Maarif PCNU Kota Probolinggo itu juga menerapkan zona penjemputan siswa.

Seluruh orang tua siswa dilarang masuk ke dalam madrasah dan hanya bisa menunggu di depan pintu gerbang dengan jarak yang telah diatur bagian keamanan madrasah.


Jadwal penjemputan setiap kelas juga diatur rentang 15 menit agar tidak terjadi penumpukan penjemputan yang dapat menimbulkan kerumumanan, sehingga upaya penerapan protokol kesehatan ketat di madrasah dapat berjalan maksimal.

Seorang wali siswa, Nofia Dini mengatakan upaya penerapan protokol kesehatan di sekolah cukup maksimal, sehingga orang tua siswa tidak terlalu khawatir anak-anak belajar di sekolah.

"Kalau antar-jemput saya cuma sampai pintu gerbang, tidak ada pedagang masuk juga tidak boleh bawa uang saku jadi anak-anak bawa bekal dari rumah," tandasnya.

Selain diterapkan di lingkungan madrasah imbauan protokol kesehatan 5M seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas serta interksi sosial juga selalu dilakukan pihak madrasah kepada orang tua siswa melalui pengolah pesan grup paguyuban wali siswa.

Pewarta : Lutfi Hidayat
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV