SUARA INDONESIA

Akibat Hujan Deras, Petani Garam di Sampang Gagal Panen

Hoirur Rosikin - 26 June 2024 | 18:06 - Dibaca 1.32k kali
News Akibat Hujan Deras, Petani Garam di Sampang Gagal Panen
Kondisi lahan garam di Sampang setelah diguyur hujan. Garam yang sudah mengkristal kini mencair kembali. (Foto: Hoirur Rosikin/Suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SAMPANG - Sejak awal Juni 2024, petani garam di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mulai melakukan produksi. Ini karena petani melihat cuaca sudah mulai panas.

Namun, di tengah perjalanan proses produksi, hujan di wilayah Sampang masih kerap terjadi akhir-akhir ini. Sehingga kondisi itu membuat banyak petani garam di Sampang yang gagal panen. Karena garam yang mulai mengkristal, mencair kembali.

Berbeda dengan 2023 lalu, pada Mei petani sudah memanen garam. Bahkan, ada yang sudah panen di bulan sebelumnya. Sebab, tahun lalu cuaca kemarau sangat mendukung produksi garam.

"Berbeda dengan tahun 2024 sekarang. Hingga akhir Juni, hujan terus mengguyur wilayah Kabupaten Sampang," ungkap Rohman (27), patani garam asal Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, Sampang, Rabu (26/06/2024).

Menurutnya, cuaca mendung dan terkadang hujan, membuat petani garam saat ini sulit memproduksi. Padahal, modal petani garam tahun ini cukup besar.

“Karena cuaca panas pada 2023 kemarin cukup panjang, sehingga sekarang menggenjot produksi di lahan garam. Biasanya dua petak, sekarang menjadi tiga petak hingga empat petak. Termasuk menambah terpal," jelasnya.

Rusman (35), petani garam asal Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan, mengungkapkan hal serupa.

Menurutnya, cuaca tahun ini yang tidak mendukung, juga berdampak terhadap hasil produksi garam di Kabupaten Sampang. "Apalagi harga garam sekarang turun signifikan. Kami berharap harga garam bisa naik," ucapnya.

Sebelumnya, kata dia, harga per ton di tengah musim kemarau 2023 lalu mencapai Rp 3 juta, bahkan di awal produksi tembus Rp 6 juta per ton untuk jenis garam Kw1. Kini, di awal musim produksi garam 2024, untuk jenis garam Kw1 hanya 1,2 juta per ton. "Harga garam terus mengalami penurunan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya dan Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Sampang, M. Mahfud menjelaskan, harga garam memang turun. Sebab, harga garam tak punya patokan standard. “Naik dan turunnya harga ditentukan kebutuhan pasar garam secara nasional,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Hoirur Rosikin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV