SUARA INDONESIA

LPPD Jatim Gelar Workshop Islam Wasathiyah di IAI At-Taqwa Bondowoso, Ini Kata Rektor UIN KHAS Jember

Bahrullah - 27 June 2024 | 13:06 - Dibaca 1.28k kali
News LPPD Jatim Gelar Workshop Islam Wasathiyah di IAI At-Taqwa Bondowoso, Ini Kata Rektor UIN KHAS Jember
Prof Dr. H. Hepni, S.Ag, M.Pd.I Rektor UIN KHAS Jember saat paparan soal islam wasathiyah di Aula IAIN At-Taqwa Bondowoso (foto: Bahrullah/suaraindonesia.co.id)

SUARAINDONESIA,BONDOWOSO- Lembaga Pengemabangan Pendidikan Diniyah (LPPD) Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jawa Timur (Jatim), menggelar workshop penguatan islam wasathiyah dan penguatan NKRI di Aula Institut Agama Islam (IAI) At-Taqwa, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (27/6/2024).

Acara ini diisi oleh narasumber terkemuka, diantaranya Prof Dr. H. ABD Halim Soebahar, MA Ketua LPPD Jawa Timur, Prof Dr. H. Hepni, S.Ag, M.Pd.I Rektor UIN KHAS Jember, dan Moderator Dr. Suheri, S.Pd.I Rektor IAI At-Taqwa Bondowoso.

Workshop ini melibatkan peserta dari perwakilan kampus-Kampus Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) di Bondowoso, Mahasiswa pasca sarjana dan pengasuh pondok pesantren.


Prof Dr. H. Hepni, S.Ag, M.Pd.I Rektor UIN KHAS Jember, mengatakan, dalam memahami islam wasathiyah tidak hanya cukup belajar sendiri dalam mengakses sumber-sumber terpercaya tentang konsep dan teori islam wasathiyah atau moderasi beragama. Menurutnya, memahami islam wasathiyah harus belajar melalui pelatihan, sehingga konsepsional maupun praktis itu betul-betul bisa dikuasai.

“ Islam wasathiyah ini tidak hanya cukup sekedar bicara teoritis konseptual. Tapi harus menyentuh pada aspek taktis dan strategis pada tataran ranah hal yang bersifat empirik atau ranah pelaksanaan di dunia nyata,” ujarnya.

Prof Hepni menjelaskan, moderasi beragama di dunia nyata itu bagaimana seorang pakar maupun aktivis, harus berpikiran dan berperilaku atau berpandangan tentang keagamaan dan kemasyarakatan tetap beracuan dengan sikap islam wasathiyah.

“Saat ini, masyarakat melihat seseorang tidaknya sebatas pada wawasan keilmuannya, tetapi yang dilihat masyarakat paling utama adalah tingkah laku kesehariannya. Kalua tingkah laku keseharian tidak moderat atau tebang pilih, dia mau ngomong apa saja tidak akan mendapat respon baik dari masyarakat,” imbuhnya.

Kata Prof Hepni, sejatinya islam wasathiyah itu merupakan tentang keislaman dan keindonesiaan. Jika sudah masuk pada ke-Islaman, maka masuk tentang universal segala aspek, baik peradaban, ekonomi, politik, sosial dan sebagainya, sebab islam itu ajarannya memang luas dan universal.

Sementara, dalam kontek ke-Indonesiaan, islam wasathiyah itu sudah menyangkut tentang perilaku ekonomi, perilaku politik, prilaku budaya dan peradaban di Indonesia.

“Kita membatasi keislaman di Indonesia, karena memang ke-Islaman di Indonesia mempunya konsep yang berbeda dengan keislaman di negara negara lain. Misalnya islam di timur tengah yang menekankan pada konflik. Semantara di Indonesia ini tipologi keislamannya bercorak ke-Islaman yang damai, ke-Islaman yang berbasis budaya lokal, ke-Islaman yang gotong royong dan sebagainya. Itu lah yang menjadi distingsi utama ke-Islaman di Indonesia yang bersifat multi segmen, baik politik, ekonomi dan budaya, dari pada ke-Islaman di negara lain,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof Hepni menjelaskan, islam wasathiyah ini merupakan islam yang moderat. Menurutnya, yang dimaksud moderat itu berkesedangan, tidak ekstrim kanan dan ekstrim kiri, tidak liberal, tidak fundamental.

Pengertian lain berkesedangan itu, misalnya berdiri secara proporsional atau penghormatan pada sikap dan perilaku orang lain menjadi indikator utama islam wasathiyah.

" Islam wasathiyah indikatornya cara penyelesaian permasalahan mengedepankan prinsip keadilan, musyawarah, diselesaikan dengan cara gotong royong, dengan cara saling membantu, cara saling menghargai yang lain. Dia tidak punya klaim kebernaran yang masuk surga hanya golongannya sendiri. Namun memberikan kesempatan pada orang lain untuk memiliki klaim kebenaran menurut versi masing-masing,” pungkasnya.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Bahrullah
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV