SUARA INDONESIA

Stok Garam di Sampang Sulit Terserap dan Harga Terjun Bebas, Imbas Permintaan Pabrikan Turun

Hoirur Rosikin - 28 June 2024 | 14:06 - Dibaca 1.43k kali
News Stok Garam di Sampang Sulit Terserap dan Harga Terjun Bebas, Imbas Permintaan Pabrikan Turun
Petambak garam Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, saat panen hasil produksi tahun 2023 lalu. (Foto: Hoirur Rosikin/Suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SAMPANG- Di tengah musim produksi garam 2024, harga garam turun signifikan. Dari Rp 3 juta per ton anjlok di angka Rp 1,2 juta per ton.

Sedangkan stok garam di Kabupaten Sampang masih banyak dari hasil produksi 2023 lalu. Meski saat ini, pada Juni 2024 petambak garam sudah mulai produksi.

Namun, ribuan ton garam di Kecamatan Sreseh dan Kecamatan Pangarengan, Sampang, masih banyak belum terserap. Ditambah harga garam yang terus turun, membuat petambak dan pengusaha garam resah.

Hal itu disebabkan pabrik garam yang sekarang banyak tutup dan permintaannya rumit, membuat pengusaha garam di Sampang kesulitan mengirim garam keluar Madura. Sedangkan saat ini, stok garam masih banyak di petani.

"Efek penurunan harga ini disebabkan prosesor besar pabrik garam sebagian tutup sementara, khususnya di Jawa Timur. Sehingga permintaan begitu manja untuk membeli dengan harga tinggi," ucap Ketua Pengurus Paguyuban Pelopor Petambak dan Pedagang Garam Madura (P4GM), Aufa Marom, Jumat (28/06/2024).

Ia berharap terhadap pemerintah, garam sudah harus diputuskan menjadi bahan pokok penting. Karena menurutnya, garam bukan lagi bahan pendukung, melihat banyak industri di tingkat nasional membutuhkan garam.

"Sekarang tidak hanya dititikberatkan pada swasembada, tapi harga pokok penjualan juga harus segera diputuskan, sehingga kestabilan harga masih terkoneksi dengan aman dan tidak merugikan petani," jelasnya.

Kepala Bidang (Kabid) Budidaya dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Sampang, M. Mahfud menjelaskan, harga garam sekarang memang terjun bebas, walau masih banyak stok garam di petambak.

Mahfud sendiri menanggapi turun dan naiknya harga garam itu ditentukan oleh stok dan kebutuhan garam di setiap pabrik. "Sehingga naik dan turunnya harga ditentukan kebutuhan pasar," jelasnya.

Sampai saat ini, pihaknya masih belum bisa memberikan patokan standar harga garam di Kabupaten Sampang. Karena dinas hanya bisa mengawasi produksi, tidak sampai ke penjualan. (*)


» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Hoirur Rosikin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV