SUARA INDONESIA

Kiprah Sri Widajati, Istri Polisi Pencipta Tari Orek-Orek Khas Ngawi yang Mendunia

Ari Hermawan - 30 June 2024 | 15:06 - Dibaca 1.33k kali
News Kiprah Sri Widajati, Istri Polisi Pencipta Tari Orek-Orek Khas Ngawi yang Mendunia
Sri Widajati pencipta Orek-orek tarian khas Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. (Foto: Ari Hermawan/ Suara Indonesia).

SUARA INDONESIA, NGAWI - Sri Widajati adalah pencipta Tari Orek-Orek khas Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Istri purnawirawan polisi bernama Indro Wahono terakhir berdinas di Polres Ngawi itu kini berusia 72 tahun.

Ditemui di rumahnya Jl A Yani, Beran, Kecamatan Ngawi. Sri Widajati menceritakan kisah hidupnya sejak kecil hingga dirinya jatuh hati terhadap seni dan menghasilkan karya tari yang kini terkenal ke mancanegara.

Singkatnya, saat duduk di bangku sekolah rakyat (SR) di Kecamatan Kwadungan, perempuan kelahiran Widodaren, Ngawi 6 November 1953 itu sudah mencintai seni tari. Di setiap kegiatan yang digelar sekolah, ia selalu tampil untuk menari.

"Dan bapak saya pada waktu itu sebagai camat, sering diajak bapak menghadiri kondangan, kebetulan ada hiburan seni wayang kulit dan tari, jadi seni tari tidak lepas dari kehidupan saya," kata Sri Widajati Minggu (30/6/2024).

Setelah lulus sekolah, pada tahun 1868 Sri Widajati melanjutkan sekolah ke Konservatori Surakarta (sekarang SMK Negeri 8 Surakarta). Oleh bapaknya, Sri Widajati diminta mengambil jurusan seni tari.

"Awalnya berkeinginan mengambil jurusan pedalangan, sama bapak dimarahi diminta ke seni tari. Tapi karena nurut orang tua, akhirnya memilih jurusan seni tari klasik," ungkap Sri Widajati.

Setelah lulus dari sekolah Konservatori Surakarta, Sri Widajati meneruskan kuliah ke Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta pada tahun 1971, yang sekarang lebih dikenal Institut Seni Indonesia (ISI).

Selama di ASKI, Sri Widajati boleh dikatakan orang yang paling beruntung, sebab kelihaiannya dalam menekuni sebagai seorang seniman, ia sering diajak berkeliling ke luar negeri untuk mengenalkan budaya seni tari oleh gurunya yang juga seniman terkenal Yogyakarta yakni Bagong Kusudiardjo.

Di situ ia menceritakan kesehariannya tidak lepas dari pendidikan seni. Mulai seni tari, ketoprak, wayang orang, melukis, membatik.

"Saking tekunnya, sama Pak Bagong sering diajak keliling dunia. Di Jepang, Swiss, China dan duta budaya Indonesia," ucapnya.

Kemudian, tepatnya pada tahun 1981 Sri Widajati bersama teman-temannya penggiat seni di Ngawi melakukan riset penelitian soal budaya seni tari. Berlokasi di Desa Pangkur setelah memakan waktu penelitian yang cukup lama, lahirlah seni tari di Ngawi yang dinamakan Orek-Orek yang artinya berbagai warna.

"Dulu penelitiannya melalui sebuah kesenian teater sejenis ketoprak yang dulunya populer di Ngawi. Dan pada saat itu, dengan kawan-kawan saya sering keliling menonton ketoprak sambil mengamati gerakan-gerakan pemain ketoprak itu yang diiringi musik gamelan," ujarnya.

Dijelaskan Sri Widajati, nama gerakan tari Orek-Orek merupakan penggabungan seni tari dari berbagai wilayah, khususnya di Jawa Tengah, dan pengalaman rekan seniman yang pernah menjadi buruh kuli bangunan pada zaman Belanda saat menjajah Indonesia.

"Jadi semua gerakan itu ada artinya. Salah satunya diambil pada saat Belanda menjajah Indonesia. Ketika itu teman saya menjadi buruh kuli bangunan membangun sebuah jembatan di Semarang. Nah, di situlah dari gerakan-gerakan buruh itu kita ambil sehingga menjadi sebuah gerakan seni tari," tambahnya.

Lanjutnya, kata dia, pada tari Orek-orek terdapat makna simbolis seperti pada kostumnya dan gerakannya yang menggambarkan seseorang yang bekerja keras.

Selain memiliki makna simbolis, tari Orek-orek juga memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti nilai religius (berdoa kepada Tuhan), nilai moral (kesungguhan dalam bekerja), dan nilai keindahan, hal tersebut menjadi alasan utama Sri Widajati untuk terus berupaya melestarikan tari Orek-orek.

"Jadi tari Orek-Orek boleh dikatakan sebagai lambang pergaulan atau gotong royong," ucap Sri Widajati pemilik sanggar seni tari Sri Budaya.

Semangat dan perjuangannya untuk menjadikan tari Orek-Orek sebagai ikon Ngawi tidak berhenti disitu. Jatuh bangun yang dialami Sri Widajati justru di apresiasi oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Secara langsung ia diundang SBY untuk tampil di teater Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

"Dulu Pak SBY mengundang kami melalui Pemda Ngawi untuk tampil di TMII, namun saat itu Pemda menolak. Kami tidak tahu alasan menolak kenapa. Lalu melalui utusan dari Pak SBY, kami diundang secara langsung, akhirnya bisa berangkat dan tampil di teater TMII," tuturnya.

Berkat kegigihannya, tari Orek-Orek pernah ditampilkan dengan jumlah penari terbanyak di dunia dan Sri Widajati mendapatkan rekor MURI. Tak berhenti disini, pada tahun 2022 Sri Widajati mendapatkan penganugerahan sebagai kreator bidang seni tari dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dengan penghargaan pula berupa uang senilai Rp 50 juta.

Sri Widajati pun menaruh harapan, kepada Pemerintah Daerah Ngawi saat ini untuk terus melestarikan tari Orek-Orek yang menjadi tarian khas, bahkan sudah diakui dan dikenal baik di dalam maupun di luar negeri.

"Anak anak sekolah sekarang tidak mengenal tarian khas asli Ngawi yaitu Orek-Orek. Besar harapan agar tari ini kembali dikenalkan sejak sekolah usia dini, dari Paud hingga tingkat atas. Dan menjadi sebuah kegiatan wajib di saat Pemda Ngawi menggelar acara-acara resmi, tarian ini agar ditampilkan," pintanya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Ari Hermawan
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV