SUARA INDONESIA

Pemahaman Literasi Keuangan Syariah Dan Literasi Zakat Di Kalangan Milenial Masih Sangat Rendah

Tony Zanuary - 26 April 2022 | 13:04
Pemerintahan Pemahaman Literasi Keuangan Syariah Dan Literasi Zakat Di Kalangan Milenial Masih Sangat Rendah

CIAMIS - Praktisi Keuangan Syariah Kabupaten Ciamis sebut pemahaman keuangan syariah dan literasi zakat dikalangan milenial Kabupaten Ciamis angkanya masih sangat rendah.

Sebab jika literasi zakat  angkanya rendah dikalangan milenial, tentu saja akan berimplikasi terhadap tingkat kesejahteraan. Dan akan menurunkan rasio kesenjangan sosial.

Menurutnya, berdasarkan fakta di lapangan bahwa penyebab rendahnya kasus tersebut diakibatkan gaya hidup yang konsumtif," ujar Praktisi Keuangan Syariah Kabupaten Ciamis, Kikin Mutaqqin, M.Pd kepada suaraindonesia.co.id, Selasa (26/4/2022).

"Ia menilai, gaya hidup remaja milenial dengan sekarang sangat jauh berbeda," ungkap Kikin.


Jadi kata Kikin, gaya remaja milenial sekarang cenderung kearah fashion yang diutamakan.

Dengan kondisi gaya seperti itu, maka tidak sedikit remaja milenial di Ciamis terjebak dengan pinjaman online (Pinjol)," tutur Kikin yang sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Baznas Ciamis.

Kebanyakan mereka terbentur akibat masalah keuangan, sehingga mereka terpaksa meminjam dengan cara yang instan melalui pinjol," kata Kikin.

Remaja yang terjebak pinjol itu rata-rata mempunyai alasan yang beragam, mulai dari gaya hidup, membayar perkuliahan hingga butuh modal untuk bisnis.

Kikin menjelaskan bahwa untuk menyelamatkan kaum milenial dari masalah tersebut yaitu harus menggalakan literasi keuangan syariah dan literasi zakat.

"Mahasiswa harus paham bagaimana caranya mengelola keuangan, jangan sampai sifat konsumtif menjadi suatu alasan mereka terjerat pinjol.

Menurut Kikin bahwa berdasarkan buku literasi yang ia baca, salah satu hambatan kaum milenial itu sifatnya konsumtif, gaya mereka kan bebas karena ingin menampilkan jati dirinya.

Oleh sehab itu kata Kikin, gaya hidup itu harus diseimbangkan dengan konsep manajemen keuangan syariah.

"Okelah jika pinjol sifatnya instan, tapi kita harus cari juga lembaga keuangan yang sifatnya saving tapi instan.

Kan banyak perbankan syariah yang menawarkan pembukaan tabungan secara online, nah itu bisa kita manfaatkan," jelas Kikin.

Jangan sampai hanya memanfaatkan digitalisasi untuk pinjaman yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Kikin menyarankan agar kaum milenial dapat memanfaatkan digitalisasi untuk berinvestasi,

"Jadi kita harus punya mindset berinvestasi, jangan punya bermindset konsumtif saja," ucap Kikin.

Dengan kondisi tersebut, Kikin juga mengimbau kepada mahasiswa yang berkuliah dijurusan keuangan syariah untuk berperan aktif memberikan pemahaman dan menanamkan literasi zakat dan keuangan syariah kepada masyarakat.

"Meskipun tidak langsung menjadi orang yang berinfaq maupun aktor perzakatan, namun mahasiswa harus berperan aktif sebagai penyuluh kepada masyarakat.

Sehingga dengan memberikan wawasan kepada masyarakat itu, masyarakat akan semakin yakin dan sadar bahwa keuangan syariah ini merupakan solusi ilahiah.

Kikin memandang bahwa dengan keluarnya kebijakan fiskal oleh pemerintah dengan menekan pengeluaran negara dan menaikan taraf tingkat perpajakan.

"Dalam kondisi itu mahasiswa harus berperan serta bergerak dalam menggelorakan keuangan syariah," tegas Kikin.


Jangan sampai masa muda  terlena dalam gaya konsumtif saja, namun kaum kilenial harus mampu memanfaatkan ide-idenya.

Kan banyak Lembaga Filantropi, disana kaum milenial dapat berperan baik terlibat dalam pengelolaan zakat, infaq dan sedekah (ZIS) bahkan wakaf.

Coba kalau ada milenial yang bisa berperan dalam entrepreneur muslim muda, dari itu sebetulnya banyak peluang permodalan.

Ambil contoh seperti Baznas, Lembaga Amil Zakat (LAZ), disana terdapat pendayagunaan zakat produktif, karena zakat bukan hanya tradisional imagenya. Namun akan berimplikasi terhadap perekonomian makro dan mikro.


Pewarta : Tony Zanuary
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya