SUARA INDONESIA

Al Qur'an: Antara Kata dan Benda

Abdus Syakur - 04 August 2021 | 08:08
Pendidikan Al Qur'an: Antara Kata dan Benda

Oleh : Yai MIM & Rose

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyang.

"Dengan yang namanya dengan Allah, dikasih dan disayang".

Setiap kata, selalu menunjuk benda. Kalimat yang terdiri dari beberapa kata, pun juga ada bendanya yang ditunjuk oleh masing-masing kata atau oleh kalimat, itu.

Tidak pernah, ada kata-kata yang muncul begitu saja, tanpa ada benda yang mendahuluinya. Ada benda baru dikata.

Selanjutnya, berbagai kata yang menunjuk akan benda itu, disebut bahasa. Ketika kata-kata tersebut, diungkapkan oleh bangsa Arab, maka disebut bahasa Arab, ketika dikatakan oleh orang-orang berbangsa Indonesia, disebut bahasa Indonesia dan seterusnya. 

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa, sebenarnya benda itu, lebih dulu ada baru dikata atau muncul kata-kata.

Misal, kata Jakarta, benda atau obyek yang dikata dengan perkataan Jakarta, itu lebih dulu ada dari pada kata Jakarta, itu sendiri, bukan sebaliknya.

Al Qur'an, sebagai kitab suci umat Islam yang terdiri dari 30 juz, 114 surat sekian ribu ayat dan sekian juta huruf, dimulai dari "basmalah" (al Fatihah) dan diakhiri dengan surat an Nas, semua berisi kata-kata.

Artinya, berbagai kata-yang dinisbatkan kepada firman Allah, yang terdapat didalam kitab suci tersebut, semuanya menunjuk terhadap benda.

Semua kata yang terdapat didalam kitab suci al Qur'an, bukanlah kata-kata kosong yang tidak ada bendanya. Semua kata kitab suci tersebut, terdapat benda yang ditunjuk olehnya.

Maka, kata-kata yang terdapat didalam firman Allah swt :

"Bismillahirahmanirrahim", itu menunjuk akan benda secara tertentu. Demikian pula, "alhamdulillahirrabbil 'alamin" dan seterusnya, sampai dengan "minal jinnati wannas". Semuanya, tentu menunjuk atau ada benda yang ditunjuknya.

Pertanyaannya, manakah benda yang ditunjuk oleh berbagai kata yang terdapat didalam firman-Nya : "bismillahirrahmanirrahim" dan seterusnya, itu?.

Inilah yang seharusnya ditemukan oleh masing-masing umat Nabi Muhammad saw, melalui pengajian atau pengkajian secara terus menerus, agar didapatkan sebuah pengertian, untuk selanjutnya bisa dipraktekan secara tepat dan benar.

Proses menemukan benda atau makna dibalik kata (lafadh), bukan sekedar menterjemahkan atau mengalihbahasakan dari satu bahasa ke bahasa yang lain.

Akan tetapi, ia merupakan sebuah proses upaya analisa ontologis (hakikat sesuatu) seseorang secara terus menerus terhadap sebuah kata (taufiq), sampai didapatkan sebuah pengertian (hidayah).

Sekedar ilustrasi terhadap proses penemuan makna atau benda dibalik kata-kata, "bismillahirrahmanirrahim", adalah "Dengan yang namanya dengan Allah, dikasih dan disayang", seperti telah dituangkan diatas.

Pertanyaannya, siapakah yang namanya dengan Allah, itu?. Dialah Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana dengan atau bersama Nabi Muhammad saw, itu?. Nabi Muhammad saw adalah seorang rasul utusan Allah, bernama amin, bersifat empat : shidiq, amanah, tabligh dan fathanah. Setiap diri manusia, diberi anugerah oleh Allah sebuah potensi yang disebut dengan iman.

Iman, inilah yang bisa bersifat shidiq, amanah, tabligh dan fathanah sebagaimana sifatnya amin rasul utusan Allah.

Jika manusia mengikuti imannya, maka iman akan menegakan empat sifatnya, sehingga manusia pun, bersifat empat pula, sebagaimana disebutkan diatas.

Sebaliknya, jika manusia tidak mengikuti imannya, maka imannya tidak bisa menegakan empat sifatnya, karena tertutup oleh sifat manusia yang tidak mengikuti iman tersebut, sehingga ia menjadi kafir dan tidak bisa dengan (bersama) yang namanya dengan Allah.

Alias, tidak bisa bersama dengan Nabi Muhammad saw. Tidak bisa bersama dengan Nabi Muhammad saw, berarti tidak dikasih dan disayang oleh Allah.

Maka, jika ingin mendapatkan kasih dan sayang dari Allah, bersamalah dengan yang namanya dengan Allah. Yang namanya dengan Allah, adalah Nabi Muhammad saw, sebagai rasul utusan Allah, bernama amin dan bersifat empat. Ingin bersama dengan Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul utusan Allah, bernama amin dan bersifat empat, tegakan iman yang bersifat empat pula (shidiq, amanah, tabligh dan fathanah).

Bagaimana menegakan iman yang bersifat empat, itu?. Tegakan shalat, minimal 5 waktu sehari semalam sebagai fardhu 'ain yang tidak boleh diwakilkan, apalagi ditinggalkan.

Oleh sebab itulah, shalat adalah lebih baik dari pada tidur. Artinya, tegaknya iman itu, lebih baik dari pada diingkari (tertidur, tertutup, tercover)

الصلاة خير من النوم

Pewarta : Abdus Syakur
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya