SUARA INDONESIA

Jalani Karantina di TSC, PMI di Tuban Keluhkan Pelayanan Kesehatan di Medsos

Achmad Junaidi - 31 May 2021 | 18:05
Peristiwa Daerah Jalani Karantina di TSC, PMI di Tuban Keluhkan Pelayanan Kesehatan di Medsos

TUBAN - Puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjalani isolasi di Tuban Sport Centre (TSC), banyak menuai pro kontra, dari mulai rasa kekecewaan pasien maupun PMI yang ditujukan kepada tim medis di sosial media. 

Seperti halnya salah seorang PMI yang dikarantina dengan nama akun Dandang Wacono, dalam akunnya tersebut ia menceritakan bahwa pelayanan yang dijalaninya di TSC sangat menyiksa warga. Sehingga dirinya mengajak warganet untuk tidak mengikuti karantina di Pemkab Tuban.

"Bagi saudara khususnya warga Tuban Jatim, jangan sampai ikut karantina di Pemkab Tuban, karena oknum Dokter sebagai penanggung jawab sangat menyiksa warga. Postingan ini sengaja saya buat agar Dokter Atiek dan Dokter Verry melihatnya, saya salah satu korban ya g divonis positif. Yg membuat saya berontak, seandainya saya positif kenapa tidak diberi obat ataupun alat yang membuat kesembuhan tentang penyakit ini, dan kenapa sebelum masuk karantina tidak dilakukan tes swab lebih dulu,, kenapa harus menunggu 3 hari, sedangkan ditempat yg sama sudah banyak yg disahkan positif. Peraturan ini sangat menyiksa warga Tuban yang baru pulang dari Luar Negeri. Kami mohon kepada Bapak Bupati agar diselidiki apa sebenarnya yg terjadi, karena warga disini sudah resah dan tersiksa," cuit akun media sosial facebook Dandang Wacono. 

Menanggapi adanya persoalan PMI di TSC, Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan (DPM PTSP dan Naker) Tuban, Endah Nurul Komariyati mengungkapkan, bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi baik pada saat PMI menjalani karantina di Asrama Haji Surabaya maupun saat penjemputan. Bahkan komunikasi juga telah dijalankan secara pribadi. 

"Bahkan dokter yang disana (TSC, Red) sudah meluangkan waktu untuk sosialisasi. Mungkin si pasien kecewa sehingga orangnya membuat status di facebook itu. Kalau dilihat orangnya emosional ya, saya juga kurang tahu jelas. Cuma saat lihat chattingan sama dokternya, pasien ini berkata kasar," ujar Endah Nurul Komariyati kepada suaraindonesia.co.id saat ditemui di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Tuban, (31/05/2021).

Lebih lanjut, Dokter dan tim medis yang berada di TSC sendiri telah melaksanakan prosedur penanganan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Satgas Covid Nasional. 

"Jadi mengapa tahun ini lebih ketat daripada tahun lalu, karena ada virus varian baru, dan virus tersebut sudah ditemukan di India. Kalau tidak kita antisipasi nanti akan menyebar di Indonesia," imbuhnya.

Jika mengacu SOP, lanjut Endah, mulai dari pertama landing, mereka para PMI akan dilakukan cek suhu tubuh dan melihat hasil tes PCR dari tempat atau negara asal mereka bekerja. Kemudian mereka akan dibawa ke tempat karantina di Asrama Haji Sukolilo Surabaya selama 2 (dua) hari. Dihari kedua para PMI ini akan dites swab. Jika hasil swabnya negatif, maka PMI tersebut baru akan dijemput untuk dibawa ke kabupaten kelahirannya. 

Kemudian bagi PMI yang positif tanpa gejala masih harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Indrapura Surabaya, sedangkan mereka yang menderita gejala berat akan dilarikan ke RS Dr. Soetomo Surabaya sebagai RS rujukan Pemerintah Provinsi.

"Sesuai dengan SK Satgas Penanganan PMI, pada hari ketiga akan dilakukan tes PCR. Jika hasilnya negatif, bisa dijemput keluarga. Tapi kalau positif, mereka akan dirawat 10 hari sampai dinyatakan sembuh atau negatif. Kemudian terkait dengan alat yang bisa menyembuhkan, positif jadi negatif itu tidak ada. Penanganannya sesuai dengan kondisi klinis," bebernya.

Dari persoalan tersebut, baik dari postingan akun Dandang Wacono maupun Putri dengan video menderita gatal-gatal akibat tinggal di TSC telah ditindaklanjuti oleh petugas. 

Para PMI yang menjalani isolasi di TSC juga diberikan pelayanan maksimal, termasuk pemberian konsumsi 3 kali sehari, suplemen, susu, kue, buah, dan makanan tambahan untuk menjaga stamina. Termasuk pengobatan, laboratorium hingga rujukan ke RS jika diperlukan juga disediakan, dan itu semua ditanggung oleh pemerintah. 

"Pemahaman masyarakat memang berbeda-beda. Mereka pulang ke kampung halaman dengan harapan bisa segera berkumpul bersama keluarga, tapi sampai disini ternyata harus menjalani karantina, sehingga membuat mereka kecewa. Namun jika disadari, akan lebih baik mereka menjalani karantina, dari pada nanti ternyata PMI ini kena virus dan malah menulari keluarga di rumah," pungkasnya. 

Data yang dihimpun suaraindonesia.co.id, jumlah total PMI di Kabupaten Tuban mencapai 170 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 134 orang telah dipulangkan, dan 36 orang PMI masing-masing 22 orang positif dan menjalani isolasi lanjutan serta 14 orang lainnya menunggu swab di Tuban Sport Center. (Diah/Nang). 

Pewarta : Achmad Junaidi
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV