SUARA INDONESIA

Renovasi Monumem Perjuangan Tentara Pelajar Purworejo Tuai Tanggapan Masyarakat

Widiarto - 21 June 2021 | 21:06
Peristiwa Daerah Renovasi Monumem Perjuangan Tentara Pelajar Purworejo Tuai Tanggapan Masyarakat

PURWOREJO - Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dalam merenovasi Monumen Perjuangan Tentara Pelajar (TP) Purworejo, yaitu dengan mengganti patung garuda dan pahlawan menjadi patung anak SD serta pemasangan patung Proklamator, menuai tanggapan dari sejumlah tokoh masyarakat.

Selain dianggap tidak jelas, Pemkab dinilai kurang bijak dalam pemanfaatan anggaran, terlebih dalam masa situasi meningkatnya kembali kasus covid-19 di Purworejo.

Pengajar seni disalah satu SMA di Purworejo, Agus Winarno, kepada kontributor suaraindonesia.co.id, pada Senin (21/6/2021), mengatakan, renovasi Monumen Perjuangan Tentara Pelajar itu dianggap kurang pas dan tidak jelas filosofinya.

"Menurut saya itu komposisinya kurang pas, filosofinya mau kemana itu juga tidak jelas, semestinya pihak terkait dalam membuat patung itu mestinya harus mempertimbangkan komposisi kemudian tujuanya yang penting lagi mestinya pemerintah atau penyelenggara ini harus duduk dengan berbagai elemen yang ada dimasyarakat Purworejo, terutama dibidang seni atau dengan seniman Purworejo agar komposisinya yang harmonis, bagaimana kemudian penataanya, bagaimana supaya nanti runtutan ceritanya sehingga visualisasinya menjadi jelas bisa dibaca oleh masyarakat," katanya.

Sebagai praktisi pendidikan khususnya pendidikan seni, lanjutnya, bahwa proses penciptaan seni mestinya harus melihat dari sisi tujuan terlebih dahulu. Sehingga visulisasi itu harus menggambarkan tujuan yang akan dicapai. 

"Sehingga ketika visualisasi itu sudah terwujud maka filosofinya itu menjadi jelas dan bisa menceritakan tujuanya kemana dan untuk apa," ujarnya.

Dikatakan, dirinya juga sangat tidak setuju dengan program itu, selain tidak tepat komposisinya, juga tidak tepat waktunya dalam pemanfaatan anggaran negara.

"Saya melihat waktu itu ada wacana regrouping SD misalnya, dengan alasan efisiensi anggaran sementara ada anggaran pembuatan patung dengan biaya miliyaran,  saya sendiri kurang setuju bahkan tidak setuju sama sekali, karena ini akan melukai hati masyarakat, dimana dimasa pandemi seperti ini kondisi masyarakat masih sulit tapi ternyata kebijakan pemerintah itu tidak berpihak kepada masyarakat," jelasnya.

Dirinya berharap, pemerintah bisa duduk bersama dengan warga masyarakat untuk berdiskusi dan mengkomunikasikan program pemerintah, apa yang akan divisualisasikan sehingga masyarakat itu jelas dan tidak menimbulkan miss komunikasi. 

"Karena dengan seperti ini memunculkan persepsi yang berbeda-beda dari masyarakat sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Sehingga apa yang ingin dicapai pemerintah itu menjadi bertentangan dengan warga masyarakat," ujarnya.

Pengajar sejarah di SMA Pancasila Purworejo, Dimyati S, mengatakan, pasangan patung-patung itu dinilai sangat melukai sejarah Purworejo, dan dianggap sudah mengorbankan sejarah Purworejo serta membuat tidak berwibawanya Kabupaten Purworejo.

"Patung itu menjadikan tidak bagus, tokohnya menjadi terkorbankan dengan konsep yang tidak jelas itu, yang hanya tempelan-tempelan dan itu menghilang patung yang bisa menjadi cagar budaya, karya Puji Laksono yang sudah di robohkan, yang tadinya patung garudanya sangat megah dan sekarang menjadi patung anak SD, seperti serampangan saja dalam penggantianya," katanya.

Menurutnya, Pemkab harus dengan bijak dalam memanfaatkan anggaram, meski memiliki anggaran namun tidak dengan mengganti patung yang lama. 

"Jangan ngobrak abrik patung yang sudah menjadi icon Purworejo, tapi mencari tempat barulah,  jadi tidak terkesan tumpang tindih tidak jelas, masih banyak lokasi lain yang bisa dibikin patung," tegasnya.

Sementara itu, pegiat seniman Purworejo, Hariyanto Dje, mengatakan, kebijakan pembuatan patung di Purworejo merupakan kebijakan politik semata dan tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

"Saya melihat, saya tangkap, saya cermati, ini kembali kepada keputusan politik itu sendiri, jadi itu ada muatan politik penguasa belaka atau syahwat kekuasaan, jadi tidak ada nilai-nilai yang menyentuh kepada masyarakat luas," katanya.

Sebagai pegiat seni, Hariyanto Dje berharap, dalam membangun patung diharapkan pemerintah bisa memprogramkan dengan konsep yang jelas dan baik.

"Maka harus dikonsep pada komposisi yang pas tidak harus dijubel-jubelkan seperti itu. Itu kontruksi berfikir tidak jelas dan itu tidak layak, menjadikan Purworejo itu tidak jelas arahnya mau kemana dan saya tegaskan kembali bahwa itu tidak layak," tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purworejo, Al Bambang Setyawan, saat ditemui dikantornya, pada Senin (21/6/2021), belum bisa memberikan penjelasan terkait renovasi monumen perjuangan tentara pelajar Purworejo.

"Itu belum selesai mas, nanti saja kalau sudah selesai pemasanganya baru kita jelaskan," katanya. 

Pewarta : Widiarto
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya