SUARA INDONESIA

Proyek Pembangunan Rubuha di Jombang, Pengerjaannya Kurang Maksimal

Gono Dwi Santoso - 24 September 2021 | 14:09
Peristiwa Daerah Proyek Pembangunan Rubuha di Jombang, Pengerjaannya Kurang Maksimal

 

JOMBANG – Dinas Pertanian (Disperta) Jombang kembali melanjutkan proyek pembangunan rumah burung hantu (Rubuha) yang menelan anggaran Rp 184 juta sebanyak 16 titik di Jombang.

Pembangunan Rubuha tersebut tersebar di 16 titik di kabupaten Jombang , itu tak seluruhnya dipasang secara maksimal.Seperti terpantau di Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang,Jumat (24/9/2021).

Saat krosecek di lapangan di desa Banjardowo kecamatan Jombang dari kejauhan rubuha itu berdiri di antara pematang sawah. Tampak tiga tiang warna hitam sebagai penopang pagupon juga sudah berdiri di atas pondasi.

Namun, dari tiga pondasi, satu di antaranya  ujung plat tiang penyangga tak sepenuhnya menempel. Meski bagian ujung plat sudah dipasang sejumlah baut dan mur, di area itu masih ada cela.

Baru saja dipasangnya pagupon itu semakin terlihat. Mengingat sebagian material sisa pekerjaan dibiarkan tergelatak. Di antaranya papan sebagai penutup pondasi. 

Ditemui di sekitar areal sawahnya Muntaha salah satu petani desa setempat menuturkan, bahwa  pemasangan Rubuha ini baru saja dilakukan.

”Baru dibangun ya sekitar 20 hari,” kata Muntaha. Dia sendiri mengaku, belum sebegitu faham fungsi dari bangunan itu. ”Nggak tahu buat apa,” imbuh dia. Meski demikian, berdasar informasi yang dia terima bangunan itu merupakan pagupon.

Dibangun dengan tujuan sebagai tempat burung hantu untuk singgah. Kendati begitu, adanya pagupon itu dirasa masih kurang efektif bisa mengendalikan serangan hama tikus.

 ”Kalau benar buat burung hantu, ya nggak ngatasi. Burung hantu makan satu tikus mungkin sudah kenyang,” sambung dia. 

Sementara di area itu sawah petani cukup luas hingga 30 hektare lebih. Ditemui terpisah ,Budi petani lainnya menuturkan, langkah membasmi hama tikus memang perlu dilakukan. Namun, tak sepenuhnya harus membangun rubuha. Harus dengan langkah lebih kongkret. ”Karena petani ini butuhnya lepas dari serangan hama tikus,” kata Budi.

Dikatakan, sejak beberapa tahun terakhir tanaman petani sering jadi sasaran hama tikus. ”Kalau tahun lalu tidak seberapa. Pada 2019 itu sangat parah, malah tahun ini yang banyak hama wereng,” tutur dia. 

Menurut dia, selama ini petani mengatasi serangan hama tikus dengan memberi racun. Hingga gropyokan bersama petani lainnya. ”Pakai racun sama pengasapan dari belerang. Kadang pakai juru tembak,” lanjut Budi.

Meski sudah berdiri, Budi mengaku tak sebegitu yakin bisa mengendalikan serangan hama tikus di wilayah setempat. ”Karena saya sendiri belum tahu di dalamnya ada burung hantunya atau tidak. Sampai sekarang juga belum ada sosialisasi, tahu-tahu sudah ada. Nggak ada kumpulan bahas pagupon,” pungkasnya.

Pewarta : Gono Dwi Santoso
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV