SUARA INDONESIA

ADPI Bondowoso Imbau Petani Perlu Edukasi Gunakan Pupuk Berimbang

Bahrullah - 11 January 2022 | 00:01
Peristiwa Daerah ADPI Bondowoso Imbau Petani Perlu Edukasi Gunakan Pupuk Berimbang

BONDOWOSO - Asosiasi Distributor Pupuk Indonesia (ADPI) Bondowoso menghimbau petani perlu diedukasi dalam menggunakan pupuk berimbang.

Penggunaan pupuk berimbang merupakan langkah memberikan sosialisasi dan edukasi pada petani untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang melimpah.

Hal itu sebagaimana diutarakan oleh Suprapto Ketua APDI Bondowoso, pada media, Senin (10/1/2022).

Lebih lanjut, Suprapto menjelaskan, penggunaan pupuk berimbang merupakan cara penggunaan pupuk yang dosisnya sudah diatur dengan luasan lahan dan komoditi tanaman.

" Penggunaan pupuk berimbang, merupakan pemberian sejumlah pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanah, agar terjadi keseimbangan antara unsur hara tanah sehingga terjadi dampak positif untuk pertumbuhan tanaman di dalam tanah," ujarnya.

Dia menjelaskan, jika petani hanya menggunakan satu jenis pupuk. Seperti pupuk urea, maka hasilnya tidak akan maksimal.

Semisal, lanjut dia, kalau perhektar petani menanam komoditi padi menggunakan pupuk berimbang, biaya pembelian pupuk dari 3 macam jenis pupuk dengan perbandingan 2, 3, dan 5. Urea 200 Kg seharga Rp.450 ribu, MPK Phonska 300 Kg Rp.690 ribu, pupuk organik 500 Kg Rp.400 ribu, dengan jumlah total biaya Rp.1540.000 untuk komoditi padi.

" Jika harga per kilo gabah disaat harga terendah Rp.3500 x 8000 kilo (8 ton), maka mendapatkan hasil kotor Rp.28 juta. Namun jika menggunakan pupuk tunggal jenis urea saja, maka hanya mendapatkan 5 sampai 6 ton dengan penggunaan biaya pupuk Rp.900 ribu. Jika harga gabah dihitung terendah Rp. 3500 x 6000 kilo, maka petani hanya mendapatkan hasil kotor Rp.21 juta," jelasnya.

Sedangkan, masih kata dia, untuk komoditi jagung yang menggunakan pupuk berimbang dengan dosis yang sama perbandingan 2,3, dan 5 memerlukan biaya Rp.1540.000, maka estimasi hasil panen 11 sampai 12 ton dikali harga jagung gelondong per kilo Rp.1700 x 12000 kg (12 ton) hasilnya Rp.20.400.000.

" Tapi kalau petani hanya menggunakan 1 jenis pupuk urea yang hanya menggunakan 400 kg, dengan biaya Rp.900 ribu, maka estimasi hasil cuma 7 sampai 8 ton. Kalau harga jagung Rp.1700 x 7000 atau x 8000 kg hasilnya hanya Rp.11.900.000 atau Rp.13.600.000," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, untuk membuktikan hal itu semua maka perlu dilakukan pendampingan dan pemberdayaan oleh tenaga ahli dalam mengedukasi terhadap petani.

Edukasi terhadap petani harus melibatkan semua pihak, baik Dinas terkait, PPL, Distributor, dan pengecer pupuk.

Dia mengaku, sudah menjadwalkan secara rutin setiap awal musim satu kali tanam untuk turun ke petani mengadakan musyawarah pertanian dalam rangka memberikan sosialisasi dan edukasi tentang penggunaan pupuk berimbang.

" Kami sudah merancang dan menjawal turun ke desa desa, bekerjasama dengan PPL, Gapoktan dan kelompok tani dalam rangka memotivasi petani yang belum terdaftar dan agar segera mendaftarkan diri di e-RDKK (elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok). Sehingga tahun depan tidak kesulitan mendapatkan pupuk subsidi," ujarnya.

Dia berharap, anjuran pupuk berimbang supaya dijadikan peraturan tetap Kementerian Pertanian (Kementan) agar pelayanan pembelian pupuk berimbang di kios pupuk lengkap menjadi kewajiban.

Dia mengatakan, jika sudah ada aturan tetap penggunaan pupuk berimbang, maka kios pengecer diwajibkan melayani pupuk berimbang sesuai semua jenis pupuk yang tercantum dalam e-RDKK dan dilarang melayani pembelian hanya satu jenis pupuk.

Katanya, dengan cara penggunaan pupuk berimbang ini sebenarnya untuk mengurai dan memenej tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi pada petani.

" Insyaallah tidak akan ada lagi isu kekurangan dan kelangkaan pupuk dan ini bisa dijamin hasil produksi pertanian akan lebih kelihatan peningkatannya," tutupnya.

Pewarta : Bahrullah
Editor : Irqam

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV