SUARA INDONESIA

Dugaan Pungutan liar, Komite Sekolah SMA N 7 Purworejo Angkat Bicara

Agus Sulistya - 27 July 2022 | 09:07
Peristiwa Daerah Dugaan Pungutan liar, Komite Sekolah SMA N 7 Purworejo Angkat Bicara

PURWOREJO - Komite Sekolah SMA Negeri 7 Purworejo, angkat bicara terkait informasi dugaan pungutan liar, yang menyebar di kalangan masyarakat. Pihak sekolah menolak ada penarikan bantuan ke wali siswa, yang sifatnya memaksakan atau dilaksanakan secara struktural oleh management sekolah.

Sekretaris Komite SMA Negeri 7 Purworejo, Sumarno, memperjelas pihaknya sampai sekarang ini tidak lagi terima bantuan sesuai himbauan dari pemerintahan.

Awalnya, lanjut Sumarno, SMA Negeri 7 Purworejo, memang mempunyai budaya bergotong-royong yang diinisiasi oleh orangtua siswa. Bergotong-royong berbentuk iuran suka-rela ini dipakai untuk memberikan dukungan aktivitas kesiswaan yang lumayan banyak.

Kontribusi dari orangtua pelajar, lanjut Sumarno, didistribusikan untuk penuhi keperluan Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap (GTT PTT) yang karena ketentuan tidak bisa diongkosi dari dana pemerintahan, berbeda dengan tahun ini, GTT PTT telah tercukupi dari anggaran pemerintahan.

"Awalnya benar ada bantuan, dan itu juga diinisiasi wali siswa sendiri, dengan kesadaran dan kemampuanya masing-masing," ucapnya, Selasa (26/7/2022), di komplek SMA Negeri 7 Purworejo.

Untuk besarnya bantuan yang sudah diberi oleh orangtua di saat itu, kata Sumarno, benar-benar bermacam berkisar Rp200ribu sampai beberapa juta rupiah, bergantung dari kekuatan dan tekad orangtua siswa masing-masing.

Menurut dia, dari seribu pelajar lebih, tidak seluruhnya orangtuanya memberi bantuan, karena kami mengimbau cuma untuk orangtua yang sanggup, yang tidak sanggup tak perlu menyumbangkan bahkan juga kita carikan beasiswa.

Berdasar data sekolah, jumlah siswa yang membantu/menyumbangkan tidak sampai 40 % dari keseluruhnya siswa yang berada di SMA Negeri 7 Purworejo. Sumarno memperlihatkan data perhitungan bantuan yang sudah diterima dalam satu tahun pelajaran ini tercatat Rp 547.150.000.

"Jika tuduhan semua orang-tua diharuskan menyumbangkan juta-an rupiah, banyaknya tentu sudah milyaran. Kami tekankan, tidak harus, untuk yang ingin dan sanggup saja. Penyerahan bantuan terserah kapan pun, tidak dibatasi waktunya," katanya.

Sumarno mengutarakan, tiap orangtua yang menyumbangkan menyampaikan kesediaannya masing-masing mengenai jumlah bantuan, sesuaikan dengan kemampuanya.

Disebutkan, ada juga yang telah mengatakan kesediannya menyumbangkan, tapi tidak jadi hal itu tidak jadikan permasalahan apapun, sekolah masih tetap memberi pelayanan terbaik.

"Datanya ada, lebih banyak yang tidak memberi bantuan dibanding dengan yang menyumbangkan. Ingat, bantuan itu saat sebelum ada larangan, jika sekarang ini tidak ada bantuan," paparnya.

Sumarno menjelaskan, pihak sekolah tidak minta bantuan apapun ke orangtua siswa saat wabah Covid-19. Akan tetapi, ada beberapa wali siswa yang secara sadar memberi bantuan tanpa disuruh atau dikoordinasi secara struktural oleh komite atau management sekolah.

"Selama wabah tidak ada permintaan bantuan," katanya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Purworejo, Niken Wahyuni, mengutarakan, sering ada kegiatan sekolah yang tiba-tiba dan belum teranggarkan. Perihal ini pula yang mengunggah tekad orang-tua siswa dengan suka-rela membantu sekolah dengan memberi bantuan suka-rela dan tidak mengikat, memiliki sifat tidak harus dan bebas tak perlu menyumbangkan untuk yang tidak sanggup.

"Awalnya, bantuan suka-rela itu dipakai untuk memberi honor GTT PTT yang tidak bisa didanai dari sumber pemerintahan karena belum penuhi sesuai ketentuan dan mengharap bisa tingkatkan kesejahteraan guru dan pegawai tidak tetap (non PNS), lomba-lomba yang diikuti pelajar yang bukan rutin tahunan, pembaruan sarana prasarana yang tidak teranggarkan dari dana pemerintahan, dan yang terkait dengan kegiatan kenaikan pelayanan pendidikan," ucapnya.

"Contoh ada lomba yang sifatnya tiba-tiba yang belum teranggarkan, karena itu kami berikan ke orang tuanya masing-masing untuk berperan serta menolong supaya semua jalan dengan lancar dan anak masih tetap berprestasi sama sesuai bidangnya masing-masing, karena kami harus juga merawat dan menjaga budaya berprestasi di sekolah kami, dan sekolah memberi support sesuai kekuatan sekolah," ucapnya.

Pewarta : Agus Sulistya
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya