SUARA INDONESIA

Buku 'Jejak-jejak Sejarah Cilacap' Kenalkan Sejarah Kepada Masyarakat

Agus Sulistya - 08 December 2021 | 16:12
Sejarah Buku 'Jejak-jejak Sejarah Cilacap' Kenalkan Sejarah Kepada Masyarakat

CILACAP - Minimnya literatur atau literasi tentang sejarah Cilacap, Jawa Tengah, menginspirasi Thomas Sutasman, guru Matematika di SMP Pius Cilacap untuk membuat karya tulis di dalam buku bertajuk 'Jejak-jejak Sejarah Cilacap'. 

Apa yang dilakukannya selama ini di media sosial Facebook dengan menerbitkan tulisan-tulisan kecil tentang jejak sejarah Cilacap, kini ia alihkan menjadi buku.

Hal ini mengingat potensi atau kearifan lokal tidak terangkat ke permukaan, dan hanya menjadi diskusi-diskusi kecil di kalangan terbatas. 

Oleh karena itu, keberanian guru Matematika ini patut diapresiasi mengingat buku-buku sejarah lokal jarang ditulis oleh orang-orang yang lama berada di daerah tersebut.

"Banyak yang menginginkan untuk menerbitkan tulisan saya ini menjadi sebuah buku. Biar tidak hilang," ujar Thomas saat ditemui di SMP Pius Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (8/12/2021).

Ia juga ingin masyarakat Cilacap mengetahui sejarah daerahnya sendiri melalui Buku 'Jejak-jejak Sejarah Cilacap' ini. Thomas sendiri seorang pendatang dari Kulonprogo, Yogyakarta, namun mau peduli dengan menulis tentang sejarah Cilacap.

"Sejarah itu sangat menarik serta hadir dengan banyak versi. Dari buku ini ada hal-hal menarik yang saya yakin belum diketahui oleh orang-orang, seperti John Lie, seorang pembersih ranjau di pelabuhan berpangkat Laksamana Muda, etnis China dan asli Manado," katanya. 

Kemudian, lanjut Thomas, tiga intelektual Cilacap dengan pemikirannya luar biasa. Yaitu EA Masdar, Ny Suroso, dan Soekardjo Wirjopranoto. Soekardjo Wirjopranoto, dia pemimpin redaksi koran Asia Raja. 

"Dia pahlawan nasional asal Kesugihan, buah pikirannya luar biasa menjelang kemerdekaan RI dan tentang pegawai negeri. Cuma dua orang, yakni EA Masdar dan Ny Suroso tidak diketahui riwayat hidupnya," terang Thomas.

Thomas juga menyampaikan, dirinya sudah puluhan tahun tinggal dan bekerja di Cilacap, sayang apabila tidak berbuat yang terbaik untuk Cilacap.

"Saya nggak ada niat yang muluk-muluk, buku saya ini laku dan dibaca orang saja sudah bersyukur," ucapnya.

Diakuinya bahwa buku yang ditulisnya laku keras, dan berencana akan menyiapkan buku keduanya. "Cetakan pertama sudah habis, kita akan cetak lagi yang kedua," ungkap Thomas.

Thomas menjelaskan bahwa hasil dari penjualan buku 'Jejak-jejak Sejarah Cilacap' ini, 30 persen ia sumbangkan untuk Komunitas Tjilatjap History karena telah banyak berbuat untuk memunculkan kembali jejak-jejak sejarah Cilacap yang sempat hilang. (Satria Galih Saputra)

Pewarta : Agus Sulistya
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya