SUARA INDONESIA

Pemberhentian Sekuriti Citra Garden Sidoarjo Berbuntut Panjang, Warga Ancam Tak Bayar Iuran Keamanan

Amrizal Zulkarnain - 25 March 2024 | 14:03 - Dibaca 910 kali
News Pemberhentian Sekuriti Citra Garden Sidoarjo Berbuntut Panjang, Warga Ancam Tak Bayar Iuran Keamanan
Handoko (baju cokelat), saat bersama pihak outsourcing Perum. Citra Garden di wilayah Desa Sidokepung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. (Foto: Amrizal/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, SIDOARJO - Pemberhentian sepihak terhadap seorang sekuriti bernama Andi Kusen, di perumahan elit Citra Garden, telah memicu reaksi keras dari warga Desa Sidokepung dan perumahan Citra Garden Blok Grand Hill serta Orchid. Warga sampai mengancam tak membayar iuran keamanan.

Pasalnya, mereka bersiap untuk melakukan aksi demonstrasi di kantor PT Cahaya Fajar Abaditama, tempat pengembang perumahan tersebut, di Desa Entalsewu, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Handoko, salah seorang warga Desa Sidokepung menyatakan, tindakan pemberhentian tersebut dianggap berlebihan dan tidak manusiawi. "Kami menilai apa yang dilakukan oleh pihak outsourcing ini sangat berlebihan," ujar Handoko, Senin (25/3/2024).

Pasalnya, hanya karena tertidur spontanitas di atas kursi tempat kerjanya saja harus diberhentikan. Begitu juga hanya terdapat perilaku sepele seperti merokok, harus dikenakan sanksi yang tak logis.

Apalagi, sekuriti Citra Garden ini juga mengemban beban tugas dengan durasi lama. "Per shift, waktu kerjanya ini 12 jam, lho! Belum lagi ketika tidak masuk kerja, ada potongan gaji sebesar Rp 200 ribu," tandasnya.

Disebutkan juga bahwa absen tidak masuk kerja meski dilampirkan surat izin atau keterangan, pihak manajemen tetap melakukan pemotongan.

Masih kata Handoko, saat ini pihaknya juga tengah menyoroti potongan gaji yang diberlakukan meskipun ada surat izin atau keterangan sakit dari dokter. "Tak manusiawi, kami melihat perlakuan terhadap pegawai yang juga warga desa setempat," terangnya.

Lebih lanjut, menurut Handoko, sekitar lebih dari 100 warga perumahan setempat telah menandatangani surat pernyataan bersama untuk menolak pemberhentian sekuriti tersebut.

Mengapa mereka mendukung sekuriti tersebut? Karena sekuriti itu dibayar dari iuran warga. Sehingga warga memiliki hak untuk mengatur nasib pekerja.

SementaraKetua RT perumahan blok Grand Hill dan Orchid, Khusnul Khotimah, mengingatkan pihak outsourcing agar tidak gegabah dalam membuat keputusan.

Dia menyatakan, sebagian warga telah menyepakati untuk menghentikan pembayaran iuran keamanan dan kebersihan lingkungan jika aspirasi mereka tidak diakomodasi.

"Kami juga akan berencana mengelola keamanan dan pengelolaan sampah sendiri dengan biaya yang lebih murah," pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Amrizal Zulkarnain
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV