SUARA INDONESIA

Hari Sejuta Kiblat, DPP LDII: Momentum Meningkatkan Pemahaman Arah Kiblat Umat Islam

Muhammad Nurul Yaqin - 29 May 2024 | 20:05 - Dibaca 757 kali
News Hari Sejuta Kiblat, DPP LDII: Momentum Meningkatkan Pemahaman Arah Kiblat Umat Islam
Sosialisasi dan praktek pengukuran arah kiblat di Pondok Pesantren Minhajurrosidin, Jakarta Timur. (Foto: Istimewa).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI - Memanfaatkan momentum Rashdul Qiblah atau fenomena matahari melintas tepat di atas Ka'bah maka Kementerian Agama RI menginisiasi Hari Sejuta Kiblat. DPP LDII menggelar sosialisasi dan praktek pengukuran arah kiblat untuk masjid-masjid yang bernaung di bawah LDII di seluruh Indonesia. Acara tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Minhajurrosidin, Jakarta Timur, Senin (27/5/2024) kemarin.

Hari Sejuta Kiblat itu diinisiasi Kementerian Agama (Kemenag) RI tersebut, merupakan upaya meningkatkan pemahaman arah kiblat dan cara menentukan kiblat. Menurut anggota tim Rukyat Hilal DPP LDII, Budi Raharjo, Rashdul Qiblah merupakan fenomena alam yang hanya terjadi dua kali dalam setahun, “Tepatnya pada Bulan Mei dan Juli, yaitu saat matahari tepat lurus di atas Kabah, sehingga bayangan suatu benda tegak lurus mengarah kiblat,” tutur Budi. 

Menurutnya, saat itulah menjadi waktu yang tepat untuk mengukur kembali arah kiblat. “Untuk mengukurnya posisi matahari harus tepat, sebab saat matahari melintasi Ka'bah, ada ambang batas waktunya. Kalau di Mekkah sekarang pada pukul 12.18 Waktu Arab Saudi, kalau di Indonesia wilayah barat 16.18 WIB dan wilayah tengah 17.18 WITA,” jelasnya. 

Dalam sosialisasi tersebut, Budi menjelaskan terdapat dua metode yang digunakan untuk menentukan arah kiblat, yaitu rashdul qiblah dan sun compass. “Setelah kami menggunakan metode rashdul qiblah yaitu presisi bayangan matahari pada sudut 90 derajat, kami cek kembali dengan aplikasi sun compass yang ternyata hasil akurasinya sama. Untuk itu, kedua metode ini saling berhubungan dan memperkuat satu sama lain,” tambah Budi. 

Lebih jelas Budi mengatakan, untuk menggunakan metode rashdul qiblah beberapa memerlukan dua penggaris siku-siku. Penggaris pertama ditegak luruskan sesuai titik bayangan matahari, kemudian penggaris kedua untuk presisi sudut 90 derajat dari bayangan penggaris pertama. Dengan cara diletakkan tepat pada bayangan tersebut, dan ini juga untuk menentukan posisi imam salat. 

Kemudian penggaris pertama digunakan kembali untuk mengukur kesejajaran posisi makmum dengan imam salat. Lalu diperlukan juga sebuah bandul yang berfungsi untuk membantu titik kemiringannya, sebab jika keliru sedikit saja dapat mempengaruhi jarak dengan Ka'bah. 

Menurut Budi, metode tersebut direkomendasikan pula oleh Nahdlatul Ulama (NU). Penggunaan aplikasi Sun Compass memungkinkan menunjuk arah lurus ke Al-Mutazam, yaitu daerah yang berada di tengah-tengah antara sisi kiri pintu Ka'bah dan Hajr Al-Aswad. 

Mengukur kembali kiblat juga dilaksanakan Ponpes Arroyan Jajag dan DPD LDII Kabupaten Banyuwangi di Masjid Al Huda Jajag Banyuwangi, Jawa Timur. Ketua LDII DPD Kabupaten Banyuwangi, H. Astro Junaidi mengatakan, kegiatan mengukur kembali kiblat merupakan partisipasi LDII menyukseskan Rahshdul Qiblah, "Momen ini tepat untuk kembali memastikan arah kiblat masjid, termasuk juga mushola, dan tempat salat di rumah maupun perkantoran,” tutur Astro. 

Momentum Rahshdul Qiblah, Kementerian Agama RI menginisiasi Hari Sejuta Kiblat. "Kami sambut dengan baik program Kemenag RI tersebut, karena ini momentum yang tepat untuk memperkuat harmonisasi umat Islam dalam mengkonfirmasi arah kiblat. Apabila sudah sesuai berarti lebih memantapkan hati, yang belum sesuai dapat disesuaikan kiblatnya. Karena ini salah satu elemen penting dalam beribadah," ujarnya. 

H. Astro juga mengajak seluruh PC, PAC, Ponpes, Majelis Taklim di lingkungan LDII Banyuwangi untuk turut serta dalam kegiatan Hari Sejuta Kiblat. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV