SUARA INDONESIA

Stadion Mattoanging: Jejak Ramang dan Kejayaan PSM Kini Jadi Lapangan Gersang

Arya Rahmansyah - 19 June 2025 | 23:06 - Dibaca 1.15k kali
Olahraga Stadion Mattoanging: Jejak Ramang dan Kejayaan PSM Kini Jadi Lapangan Gersang
Anak-anak bermain bola tanpa alas kaki di bekas Stadion Mattoanging Makassar yang kini terbengkalai, Kamis (19/6/2025). (Foto: Arya/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, MAKASSAR - Di tengah panas menyengat siang itu di Makassar, beberapa anak tampak berlarian tanpa alas kaki di atas tanah keras dan berdebu. Mereka menendang bola plastik mengalir seadanya di antara semak liar dan bebatuan.

Bagi bocah-bocah itu, tempat tersebut hanyalah lapangan kosong untuk bermain bola. Mereka tidak tahu bahwa tanah yang mereka injak menyimpan jejak kejayaan PSM Makassar, klub sepak bola tertua di Indonesia.

Tempat itu dulunya bernama Stadion Mattoanging. Dibangun 6 Juli 1957 untuk mendukung Pekan Olahraga Nasional (PON) IV, stadion ini menjadi simbol kebangkitan olahraga Sulawesi Selatan. Di sinilah sejarah mencatat nama-nama besar lahir dan tumbuh, mengukir tinta emas sepak bola nasional dan Asia.

Satu nama paling melegenda adalah Andi Ramang, penyerang fenomenal asal Barru yang dijuluki “pemain tanpa bayangan”. Ia bukan hanya simbol PSM, tapi ikon sepak bola Indonesia di masanya.

Aksi saltonya menggemparkan Asia, dan kontribusinya bagi tim nasional tak terlupakan, termasuk saat membawa Indonesia menembus babak perempat final Olimpiade 1956 di Melbourne melawan Uni Soviet hingga diakui dunia termasuk dari FiFA.

Selain Ramang, stadion ini juga menjadi rumah bagi legenda-legenda lain seperti Basri Gau dan Ronny Pattinasarani. Bahkan di era Liga Indonesia, nama-nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Hamka Hamzah, Syamsul Chaeruddin dan Zulham Zamrun pernah menyulut semangat ribuan suporter dari tribun Mattoanging.

Stadion ini juga pernah jadi panggung Asia. Pada 21–25 Maret 2001, Mattoanging menjadi tuan rumah Babak Grup Timur Asian Club Championship yang kini dikenal sebagai AFC Champions League. Klub-klub top seperti Júbilo Iwata (Jepang), Shandong Luneng (Tiongkok), dan Suwon Samsung Bluewings (Korea Selatan) pernah berlaga di lapangan ini.

Saat PSM bertanding, lebih dari 20.000 suporter memenuhi tribun. Sorakan “Ewako!” menggema ke seluruh penjuru kota.

Namun semua kejayaan itu kini hanya tinggal cerita. Sejak stadion yang beralamat di jalan Opu Daeng Risadju (Eks Jalan Cenderawasih) Makassar itu dibongkar pada 2020 untuk dibangun ulang sebagai stadion bertaraf internasional. Mirisnya eks stadion yang kini bernama Stadion Andi Mattalatta tersebut dibiarkan terlantar begitu saja.

Lima tahun berlalu, dan yang tersisa hanyalah lahan terbuka, pagar berkarat, papan proyek yang lusuh, dan lapangan gersang yang berubah menjadi tempat bermain bola para bocah serta tumpukan sampah.

Menurut Jupri, seorang pemerhati sosial Makassar, kondisi ini mencerminkan kelalaian pemerintah terhadap warisan sejarah. Dan janji-janji yang tidak pasti.

“Stadion ini bukan sekadar tempat bola, tapi ruang ingatan kolektif kita. Pemerintah gagal menjaga tempat yang punya nilai historis dan kultural tinggi,” ucap Jufri kepada Suara Indonesia, Kamis (19/6/2025).

Di lapangan yang dulu pernah menjadi lautan manusia itu, kini hanya terlihat anak-anak berlarian dan bermain di antara semak liar dan di tengah puing-puing dan risiko yang mengintai.

Rifki (10), salah satu bocah paling lincah di lapangan itu ditanya apa itu Mattoanging, ia hanya menjawab singkat, “Lapangan kosong. Tempat main bola.” ucapnya sambil menyeka keringat. Ia tak tahu bahwa tanah itu pernah jadi medan pertempuran para legenda sepak bola Indonesia PSM Makassar.

Kondisi ini membuat warga sekitar was-was, Irwan (42), yang sehari-hari mangkal berdagang di lokasi itu, mengaku miris melihat Mattoanging terbengkalai.

“Kalau bukan karena anak-anak main di situ, tempat itu mungkin sudah jadi tempat buang sampah beneran. Tapi tetap saja, bahaya. Tidak ada pengawasan. Sayangnya, anak-anak sekarang juga tidak tahu bahwa ini dulu rumahnya Ramang sang legendaris, tempat PSM bersinar dan dijungjung tinggi,” ujarnya.

Kondisi ini memunculkan desakan dari masyarakat agar pemerintah, baik kota maupun provinsi, segera mengambil langkah konkret. Warga berharap Mattoanging bisa kembali difungsikan sebagai ruang olahraga publik dan simbol kejayaan sepak bola Sulawesi Selatan.

Om Arman dan Ibu Umi, dua warga yang ikut menyuarakan keresahan di lokasi, menilai revitalisasi stadion bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal harga diri kota Makassar. “Anak-anak butuh ruang aman. PSM butuh rumah. Kita semua butuh tempat yang bisa kita banggakan lagi,” kata mereka.

Namun hingga kini, belum ada kejelasan resmi dari pemerintah kota maupun provinsi terkait kelanjutan pembangunan stadion tersebut. Namun yang pasti Mattoanging akan terus menjadi peringatan bahwa melupakan masa lalu, berarti kehilangan identitas

Tak ada prasasti sejarah, tak ada tanda bahwa stadion ini pernah berjaya di Asia. Mattoanging kini menjadi simbol ironi: dari pusat kejayaan menjadi ruang terlantar.

Kini, rumah PSM dan Ramang hanya tinggal lapangan gersang yang dipenuhi sampah dan tak terurus. Padahal dulunya, tanah ini ditumbuhi rumput hijau tempat lahinya kaki-kaki hebat pemain legendaris yang pernah mengguncang Indonesia, bahkan Asia.

Stadion Mattoanging  yang kini menjadi Stadion Andi Mattalatta hari ini hanyalah puing dari masa lalu, dari panggung kejayaan sepak bola nasional dan Asia, menjadi lapangan terbuka penuh risiko.

Dan selama ruang sejarah ini tak dihidupkan kembali, generasi baru akan terus bermain di atas tanah penuh cerita tanpa pernah tahu jejak emas Ayam Jantan dari Timur lahir dari Stadion Mattoangin. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Arya Rahmansyah
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV