SUARA INDONESIA, SURABAYA – Banyak orang menganggap usia senja sebagai masa untuk menikmati hasil kerja dan menjalani rutinitas yang lebih tenang. Namun bagi Dr. Ni Njoman Juliasih, dr., M.Kes, memasuki usia 60 tahun justru menjadi awal perjalanan baru sebagai penulis. Pengalaman itu ia abadikan dalam buku memoar Julie, Memoir of a Journey yang diluncurkan di Hotel Mercure Mirama Surabaya, Sabtu (23/5/2026).
Buku tersebut menjadi karya perdana Juliasih setelah puluhan tahun berkarier sebagai dokter, manajer kesehatan, pimpinan rumah sakit, peneliti, hingga akademisi. Memoar ini tidak hanya merekam perjalanan hidupnya, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa kesempatan untuk berkarya tidak dibatasi usia, profesi, maupun latar belakang pendidikan.
Juliasih mengaku mulai serius menulis ketika aktivitasnya sebagai dosen mulai berkurang dan anak-anak telah hidup mandiri. Situasi itu membuatnya memiliki lebih banyak waktu untuk merenung dan mengeksplorasi potensi yang selama ini belum tergali. Dari proses tersebut lahirlah kebiasaan menulis yang kemudian berkembang menjadi sebuah buku.
“Saya mulai menulis ketika memasuki usia 60-an, saat aktivitas sebagai dosen tidak lagi sepadat dulu dan anak-anak sudah mandiri. Menulis membuat pikiran saya tetap aktif dan membantu saya terhindar dari rasa sepi,” ujar Juliasih.
Proses kreatif itu bermula dari sebuah saran sederhana untuk menggali potensi diri. Meski lama tidak menulis dan tidak terbiasa menghasilkan karya kreatif, Juliasih mulai menuangkan gagasan secara spontan. Salah satu tulisan yang menjadi titik awal lahir dari pengalamannya mengunjungi Kawah Ijen. Jika sebagian besar orang terpukau oleh fenomena Blue Fire, ia justru melihat sisi kemanusiaan para penambang belerang yang berjuang di balik keindahan alam tersebut.
Pengulas buku, Prihandari Satvikadewi atau Vika Wisnu, menilai Julie, Memoir of a Journey menghadirkan refleksi mendalam mengenai perjalanan hidup manusia. Menurutnya, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa setiap pengalaman, termasuk kegagalan dan ketidakpastian, memiliki makna penting dalam proses pembentukan diri.
“Yang kita lakukan hari ini adalah refleksi dari diri kita di masa lalu sekaligus proyeksi diri kita di masa depan. Setiap orang yang hadir dalam hidup adalah kiriman Tuhan, ada yang membawa pelajaran dan ada yang mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar keteraturan, tetapi juga keberanian menghadapi ketidakpastian,” katanya.
Senada dengan itu, moderator peluncuran buku Hero Patrianto menilai karya Juliasih menunjukkan bahwa proses kreatif sering lahir dari ruang-ruang sunyi yang memberi kesempatan seseorang berdialog dengan dirinya sendiri. Menurutnya, kesepian yang sering dipandang negatif justru dapat menjadi sumber refleksi dan kreativitas.
Selain menceritakan perjalanan pribadinya, Juliasih juga menyampaikan pesan penting tentang pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup. Baginya, kisah keluarga, pengetahuan, dan pelajaran hidup yang hanya disampaikan secara lisan akan mudah hilang seiring waktu. Melalui tulisan, pengalaman tersebut dapat diwariskan kepada anak, cucu, bahkan generasi yang belum lahir.
Penyunting buku dari Padmedia Publisher, Wina Bojonegoro, menambahkan bahwa memoar karya Juliasih memiliki nilai tersendiri karena tidak banyak dokter dan akademisi yang berani membuka sisi personal kehidupannya kepada publik. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak profesional untuk berbagi pengalaman dan kebijaksanaan hidup melalui karya tulis.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi