SUARA INDONESIA

Simpul Putih Peniwen Malang: Kisah Relawan Palang Merah yang Mati Saat Merawat

Aditya Mahatva Yodha - 08 May 2026 | 06:05 - Dibaca 152 kali
Features Simpul Putih Peniwen Malang: Kisah Relawan Palang Merah yang Mati Saat Merawat
Makam Bahagia di Peniwen Affair , terletak 10 makam Anggota Palang Merah Remaja dari Panti Husodo yang dibunuh keji oleh Serdadu KNIL 19 Februari 1949 pada Masa Agresi Militer Belanda II. (Foto: Aditya Mahatva Yodha/ Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, MALANG - Udara pagi di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, terasa sejuk menyentuh kulit. Matahari baru saja naik sepenggalah, membiarkan cahayanya menerobos celah pepohonan dan menyinari barisan nisan di sebuah sudut yang kini dikenal sebagai Jalan PMR.

Di sinilah langkah saya terhenti. Sepuluh nisan putih berjajar rapi, berdiri kokoh dalam keheningan yang magis. Tempat ini dijuluki "Makam Bahagia". Namun, bagi siapa pun yang berdiri di depannya, nama itu terasa seperti sebuah kontradiksi yang menyayat hati. Tidak ada kemeriahan di sini, hanya kesunyian yang menyimpan memori kelam tentang pengkhianatan terhadap kemanusiaan, tepat 75 tahun silam.

Penulis melanjutkan perjalanan menuju sebuah bangunan yang kini riuh oleh suara anak-anak sekolah, SD Negeri Peniwen. Sulit dibayangkan bahwa gedung ini dulunya adalah Panti Husodo, tempat di mana bau obat-obatan bercampur dengan aroma kecemasan pada 19 Februari 1949.

Saat itu, Agresi Militer Belanda II sedang berada di puncaknya. Di gedung inilah, sepuluh pemuda relawan Palang Merah Remaja (PMR) mengabdikan diri. Matsait, Slamet Ponidjo, Soejono, hingga J.W. Paindong deretan nama-nama yang kini terpatri di nisan sedang sibuk merawat raga yang terluka. Di lengan mereka, melingkar ban merah putih dengan lambang palang merah. Sebuah simbol sakral yang seharusnya menjadi perisai bagi warga sipil dalam hukum perang dunia.

"Mereka adalah martir kemanusiaan," bisik angin yang berhembus dari arah lereng Gunung Kawi, seolah menceritakan kembali bagaimana serdadu KNIL merangsek masuk, mengabaikan hukum internasional, dan mengarahkan laras senjata ke dada para relawan muda itu. Mereka gugur saat tangan mereka masih menjalankan misi suci.

Tragedi ini bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah lokal. Dunia internasional sempat tersentak. Kebrutalan di Peniwen memicu gelombang protes global yang akhirnya menempatkan Monumen Peniwen Affair sebagai satu dari sedikit monumen Palang Merah yang diakui secara resmi oleh dunia.

Kini, setiap tanggal 8 Mei, saat dunia merayakan Hari Palang Merah Internasional, Peniwen seolah kembali "bernyawa". Di desa ini, mereka tidak dianggap mati. Mereka tetap hidup dalam ingatan setiap anak sekolah yang melintas di depan makam itu setiap pagi.

Meninggalkan Peniwen, Penulis menyadari satu hal: di tengah bisingnya mesiu dan ambisi kekuasaan masa lalu, nisan-nisan putih ini tetap berdiri tegak. Ia menjadi pengingat abadi bagi kita semua bahwa merahnya darah para relawan adalah bukti putihnya ketulusan bagi dunia.

Kemanusiaan, ternyata, memiliki harga yang sangat mahal. Dan di lereng Kawi ini, harga itu telah lunas dibayar. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Aditya Mahatva Yodha
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV