SUARA INDONESIA, MAKASSAR - Kisah perjuangan Muh. Asrul Rafzanjani menjadi inspirasi bagi banyak anak muda. Remaja 17 tahun asal Kabupaten Bone itu berhasil bangkit dari pengalaman pahit bullying hingga kini dikenal sebagai atlet Kun Khmer berprestasi yang membawa nama Indonesia di level internasional.
Asrul mengaku sejak kecil sudah menyukai olahraga bela diri. Namun saat duduk di bangku SMP, ia sempat berhenti berlatih karena mengalami tekanan dan bullying dari lingkungan sekitarnya.
“Sebenarnya dari kecil saya memang suka olahraga bela diri, tapi pernah berhenti waktu SMP karena sempat dibully,” ujarnya saat ditemui sebelum pertandingan National Kun Khmer Fight Day di kawasan Popsa, Makassar, Sabtu (16/5/2026).
Pengalaman itu justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Asrul kemudian kembali mencari dunia bela diri yang mampu membangkitkan rasa percaya dirinya hingga akhirnya serius menekuni olahraga tarung.
“Karena itu saya cari bela diri lagi sampai sekarang. Alhamdulillah akhirnya bisa dapat prestasi,” katanya.
Dengan latihan disiplin bersama klub Muay Thai Bone, kemampuan Asrul terus berkembang. Ia menjalani latihan rutin lima hingga enam kali dalam sepekan demi meningkatkan teknik dan mental bertanding.
Perjuangannya mulai membuahkan hasil setelah berhasil meraih sejumlah prestasi di berbagai kejuaraan. Asrul pernah meraih medali pada Kejurda Boxing di Toraja dan GOR Sudiang Makassar, serta tampil di ajang Piala Pontiku Toraja tahun 2024.
Tak hanya aktif di tingkat daerah, ia juga mengikuti event Muay Thai One Night pada periode 2024 hingga 2025. Puncaknya, Asrul sukses meraih medali emas pada kejuaraan Kun Khmer di Kamboja dan membawa nama Indonesia bersaing di level internasional.
Kini, Asrul kembali menunjukkan optimisme saat tampil di National Kun Khmer Fight Day Makassar yang mempertemukan atlet dari berbagai daerah di Indonesia.
“Dari hasil latihan selama ini, saya optimistis bisa memberikan hasil terbaik dan meraih kemenangan di Makassar,” ujarnya.
Muh. Asrul Rafzanjani merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, pasangan Ramli Arif dan Satriani. Di tengah kesibukan sang ayah yang bekerja di sektor swasta dan ibunya sebagai ibu rumah tangga, Asrul tumbuh dengan dukungan penuh keluarga yang terus memberi semangat dalam meniti karier di dunia bela diri.
Asrul mengatakan dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar dalam perjalanan kariernya sebagai atlet bela diri. Ia mengaku orang tuanya selalu memberikan dukungan penuh, baik doa maupun biaya selama menjalani latihan dan pertandingan.
“Alhamdulillah orang tua selalu support saya. Selagi saya sehat dan masih bisa berlatih, mereka selalu mendukung,” tuturnya.
Selain bercita-cita menjadi atlet sukses, Asrul juga memiliki impian menjadi anggota TNI. Ia berharap suatu hari nanti tetap bisa berkontribusi di dunia olahraga dan mengharumkan nama daerah maupun Indonesia.
“Plan saya ingin jadi anggota TNI, jadi orang sukses, lalu kembali lagi menjadi atlet untuk mencari prestasi,” katanya.
Dalam waktu dekat, Asrul dijadwalkan mengikuti Kejuaraan Nasional Kun Khmer di Bogor. Dengan usia yang masih muda dan sederet pengalaman bertanding, ia kini menjadi salah satu atlet potensial Sulawesi Selatan yang diproyeksikan tampil di level nasional hingga internasional. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Arya Rahmansyah |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi