SUARA INDONESIA

Teater dan Puisi Warnai Peringatan 8 Tahun Bom Surabaya di GKI Diponegoro

Dona Pramudya - 13 May 2026 | 19:05 - Dibaca 782 kali
Features Teater dan Puisi Warnai Peringatan 8 Tahun Bom Surabaya di GKI Diponegoro
Seorang siswi melihat pameran foto tragedi Bom bunuhdiri di GKI Diponogoro Surabaya, Rabu (13/5/2026) (Foto: Dona Pramudya/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, SURABAYA — Peringatan delapan tahun tragedi bom Surabaya 13 Mei 2018 di GKI Diponegoro, Rabu (13/5/2026), dikemas berbeda oleh komunitas anak muda lintas agama dan kepercayaan. Alih-alih sekadar seremoni, mereka memilih menghadirkan ruang refleksi melalui seni pertunjukan, musik, puisi, dan pameran foto sebagai cara merawat ingatan atas tragedi kemanusiaan tersebut.

Kegiatan bertema Solidaritas Surabaya Inklusif itu mempertemukan berbagai komunitas lintas iman di Surabaya dalam satu panggung kebersamaan. Acara diawali dengan teatrikal yang menggambarkan suasana mencekam saat ledakan bom mengguncang Surabaya pada 2018, dilanjutkan penampilan musik reflektif, pembacaan puisi, hingga doa bersama lintas agama.

Perwakilan panitia, Imanuel Erlangga, mengatakan pendekatan seni dipilih agar pesan perdamaian lebih mudah diterima generasi muda. Menurutnya, tragedi bom Surabaya harus terus diingat sebagai bagian dari sejarah kota, namun disampaikan dengan cara yang membangun harapan dan solidaritas.

“Kami ingin mengingat tragedi ini bukan dengan rasa takut, tetapi dengan semangat untuk menjaga kebersamaan dan keberagaman di Surabaya,” ujar Imanuel.

Ia menjelaskan, tema solidaritas inklusif lahir dari keyakinan bahwa luka akibat aksi terorisme dapat menjadi titik tumbuh masyarakat untuk semakin saling mendukung. Karena itu, komunitas lintas agama berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan agar ingatan terhadap tragedi 13 Mei tidak hilang.

“Ini bukan acara milik satu kelompok agama saja. Semua komunitas terlibat tanpa melihat latar belakang keyakinan maupun ras,” katanya.

Selain keluarga korban yang turut diundang, acara juga melibatkan berbagai elemen masyarakat dan komunitas kreatif. Seluruh kegiatan terlaksana secara swadaya melalui dukungan komunitas lintas iman yang ada di Surabaya.

Tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, panitia juga menghadirkan sesi refleksi mengenai isu sosial dan ekonomi yang dinilai berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat pascatragedi. Peringatan tersebut menjadi pesan bahwa upaya menjaga perdamaian membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.
 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV