SUARA INDONESIA, SURABAYA - Sejak awal, hidup Rully Yuniarta Yacob (42) seolah diarahkan menuju dunia pertanian. la tumbuh besar mengikuti mendiang ayahnya seorang pemasok mesin perkebunan di Jawa Timur, berkeliling ke kebun-kebun yang dikelilingi cerita getir para petani.
"Banyak petani waktu itu mengeluh soal panen buah yang bermasalah di Banyuwangi dan Jember. Dari situ saya merasa dunia pertanian bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan," kenangnya.
Pilihan itu semakin menguat ketika ia menempuh pendidikan budidaya pertanian. Rully belajar bukan hanya tentang tanah, kultur tanaman, atau standar produksi, tetapi tentang manusia-manusia yang menggantungkan hidup pada musim yang tak selalu bersahabat.
"Saya melihat langsung, ayah saya selalu melayani petani dengan penuh hormat. Itu teladan yang saya pegang sampai hari ini," ujar Rully, Sabtu (13/12/2025).
Setelah lulus pada 2007, ia bekerja sebagai purchasing manager di sebuah jaringan ritel modern.
la turun langsung membina petani dua hingga tiga kali seminggu, mengajari mereka standar kualitas buah agar bisa masuk pasar modern.
Rutinitas itu menempel menjadi jalan hidup. Ketika akhirnya membangun usaha sendiri, ia menggunakan tabungan, pinjaman kecil, dan dukungan teman-teman yang percaya pada kemampuannya.
"Dunia saya memang di sini, di kebun, di lapangan. Saya merasa tenang ketika melihat petani tersenyum karena panennya terserap," katanya.
Pada 2022, ia mulai memasok buah lokal ke ritel modern dengan harapan petani binaannya memperoleh harga lebih manusiawi.
Namun, bebernya menambahkan perjalanan itu berubah arah pada akhir 2023 ketika ia mulai menemukan kejanggalan pembayaran dari pihak ritel: retur tanpa barang kembali, potongan tanpa alasan jelas, selisih transfer yang makin besar.
"Awalnya saya kira hanya salah hitung biasa. Tapi lama-lama angkanya tidak masuk akal," ujarnya.
Kerugian itu menggulung cepat. Pada pertengahan 2025, modal usahanya habis, pinjaman bank terkuras, uang investor negatif, dan hutang menumpuk. Namun di tengah kondisi itu, ia tetap membayar petani penuh.
"Mereka sudah percaya pada saya. Petani tidak boleh merasakan akibat kerugian yang bukan salah mereka," kata Rully.
Ketika tekanan ekonomi dan mental menumpuk, tubuhnya runtuh lebih dulu. Rully mengalami penyakit langka, Tolosa Hunt Syndrome, yang menyerang saraf di sekitar mata dan memicu nyeri hebat.
"Saya benar-benar kehilangan asa. Juli lalu saya sempat berpikir untuk mengakhiri hidup," ujarnya pelan.
Kendati demikian, tubuhnya masih belum pulih dari Tolosa Hunt Syndrome, penyakit langka kala itu yang membuat rasa sakit hadir seperti kilatan listrik di sekitar matanya. Namun di kebun inilah, di tengah tanah basah dan aroma buah masak, ia merasa untuk pertama kalinya sejak lama: Rully masih punya ruang untuk tetap hidup.
"Saya benar-benar sempat ingin mengakhiri semuanya. Tapi kebun membuat saya ingat siapa saya," katanya pelan.
Pada masa itu, ia merasa seluruh dunia usaha yang dibangunnya sejak masa kuliah, dengan pengetahuan yang ia warisi dari ayahnya seakan runtuh dalam hitungan bulan. Dampaknya merembet ke keluarga. Anak-anaknya terbebani secara emosional, orang tuanya syok, dan hubungan dengan teman-teman investor retak.
la melanjutkan, sebagian petani yang bergantung pada suplai hariannya terpaksa ia alihkan ke pasar grosir demi menjaga arus kas mereka.
"Saya tidak ingin ada petani yang tumbang hanya karena masalah saya," katanya.
Di tengah kelelahan itu, Rully akhirnya memilih langkah paling sulit: menggugat perusahaan ritel ke Pengadilan Negeri Mojokerto.
"Saya sadar posisi saya sebagai UMKM sangat kecil, tapi kerugian ini terlalu besar dan berdampak ke terlalu banyak orang," ujar Rully.
Baginya, gugatan itu bukan sekadar laporan hukum, melainkan upaya menyelamatkan martabatnya, keluarganya, dan kepercayaan petani yang telah lama ia dampingi. Meski sidang masih bergulir, Rully tetap kembali ke dunia yang membuatnya bertahan: kebun.
Warisan dari Ayah
Rully tumbuh dari dunia perkebunan. Sejak kecil ia memeluk lengan ayahnya sambil berjalan di antara barisan pohon pisang menyaksikan bagaimana ayahnya bicara dengan petani bukan sebagai pedagang, tapi sebagai kawan seperjuangan.
Lanjut Rully mengenang sosok figur, ketika sang ayah meninggal, kebun menjadi tempat di mana setiap desir angin terasa seperti suara yang mengajarkan ulang nilai hidup.
"Saya selalu merasa ayah masih ada di sini,"ujarnya sambil memandang barisan pohon yang seolah menjulang seperti penjaga kenangan.
Warisan ayah bukan uang, bukan aset besar. Warisannya adalah nilai: hormati petani, cintai tanahnya, jangan pernah memperlakukan hasil panen sebagai angka belaka.
Nilai itu yang bertahun-tahun menjadi penopang hidup Rully sebelum semua retak pada 2023.
Ketika Kejanggalan Gerogoti Batin
Saat memasok buah ke ritel modern, Rully semula merasa sedang mewujudkan cita- cita masa mudanya: petani harus mendapatkan harga yang layak. Namun seiring waktu, sesuatu berubah.
Pembayaran mulai janggal. Retur tanpa barang kembali. Potongan tanpa alasan. Selisih transfer yang membesar perlahan-seperti retakan kecil yang diabaikan sampai akhirnya menjadi lubang yang menelan seluruh bangunan usaha.
"Awalnya saya berpikir ini cuma salah hitung. Tapi angkanya makin tidak masuk akal," ucapnya, menghela napas yang menahan getir.
Kerugian itu bukan sekadar nominal bagi Rully. Setiap rupiah yang hilang terasa seperti potongan harapan yang ia simpan sejak ayahnya meninggal.
Pada pertengahan 2025, seluruh modalnya habis. Pinjaman dari bank tersapu, uang investor menguap, dan utangnya menumpuk begitu besar hingga ia tak mampu mengukur dampaknya tanpa merasa sesak.
Namun satu hal tidak pernah ia sentuh yakni pembayaran untuk petani. "Mereka percaya sama saya. Saya tidak bisa biarkan mereka menanggung kerugian yang bukan dosa mereka," tegasnya.
la tak patah semangat terus membina petani, mengecek kualitas panen, mengajarkan standar pasar modern, dan mencari peluang baru. Kadang ia melakukan semuanya perlahan karena kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya. Tapi itu tidak membuatnya berhenti.
"Setiap kali saya masuk kebun, saya merasa hidup lagi. Di sana saya ingat kenapa dulu saya memilih jalan ini," katanya.
Ketika ditanya apa arti keadilan bagi dirinya, Rully terdiam sejenak sebelum menjawab seraya berkata:
"Keadilan itu energi untuk bangkit. Kalau ini selesai dengan benar, saya berharap tidak ada lagi UMKM atau petani lokal yang jatuh karena tidak paham sistem ritel modern. Mereka harus dibimbing, bukan dibiarkan berjalan sendirian," harapnya optimis.
Di balik label pemasok buah, Rully adalah seorang anak petani yang kehilangan ayah, seorang pengusaha kecil yang hampir kehilangan hidupnya sendiri, seorang pembina yang terus berusaha menjaga petani tetap berdiri.
Dan dalam sunyi pergulatannya, ia tetap percaya pada satu hal: buah-buah lokal yang dirawat dengan jujur akan selalu teriring doa dan menemukan jalannya sebagai hasil bumi jadi produk andalan, asal orang-orang yang berdiri untuk memperjuangkannya meraih asa tidak menyerah. (ADV)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi