SUARA INDONESIA, BOJONEGORO - Matahari baru saja melepas sauhnya di ufuk timur Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro, Selasa (21/7/2026). Udara dingin khas pedesaan seketika kalah oleh kehangatan yang menjalar di RT 020 RW 008 Dusun Mundu. Di sana, sebuah keriuhan terjadi. Bukan keriuhan transaksi pasar, melainkan deru harmoni gotong royong yang memecah keheningan pagi.
Di sudut pelataran sebuah rumah yang dulunya ringkih, tampak beberapa pria berseragam loreng khas Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka tidak sedang memegang senjata. Tangan-tangan kekar itu kini akrab dengan gagang cangkul, sekop, dan sendok semen. Bersama para tetangga dan sanak saudara pemilik rumah, mereka melebur tanpa sekat, mengaduk adonan pasir dan semen dengan ritme yang kompak.
Pagi itu, mereka sedang mengepung sebuah misi kemanusiaan: meruntuhkan kerapuhan dan membangun kembali asa di rumah milik Pak Kasiman.
Desa Kesongo bukanlah wilayah yang mudah ditaklukkan. Terletak di ujung tenggara Kabupaten Bojonegoro, Kecamatan Kedungadem dikenal dengan topografi perbukitan kapur yang gersang saat kemarau, namun menyimpan tantangan akses mobilitas yang cukup tinggi. Jalanan yang berliku dan naik-turun sering kali menjadi ujian tersendiri bagi warga, terutama dalam mengangkut material bangunan ke pelosok dusun seperti Dusun Mundu.
Kondisi geografis inilah yang selama bertahun-tahun membuat upaya perbaikan infrastruktur secara mandiri berjalan lambat. Namun, tantangan medan berat itu seolah menguap begitu saja. Kehadiran program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro sukses memotong jarak dan memecah keterisolasian semangat warga.
Melalui program yang menyasar Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ini, rumah Pak Kasiman yang dulunya ringkih kini mulai bertransformasi. Bagi Pak Kasiman sekeluarga, renovasi ini bukan sekadar urusan memahat dinding beton atau meluruskan pelataran yang miring. Ini adalah jaminan ketenangan yang selama bertahun-tahun mereka impikan—sebuah tempat berteduh yang tak lagi bocor saat hujan, dan tak lagi cemas saat angin kencang menerpa perbukitan Kesongo.
Di sudut halaman, Pak Kasiman (58) berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Memandangi rumahnya yang perlahan mulai berdinding kokoh, gurat-gurat lelah di wajah tuanya mendadak sirna, digantikan oleh senyuman lebar yang tak mampu ia sembunyikan.
"Saya seperti bermimpi. Bertahun-tahun kalau hujan deras, kami sekeluarga tidak bisa tidur tenang karena atap bocor dan takut dindingnya roboh. Mau memperbaiki sendiri, uang dari kerja serabutan hanya cukup untuk makan sehari-hari," tutur Pak Kasiman dengan suara bergetar menahan haru.
Ia mengaku tidak pernah menyangka bapak-bapak tentara berseragam loreng mau datang jauh-jauh ke desanya, mengorbankan tenaga dan waktu demi membangun rumahnya. "Melihat rumah sekarang jadi kokoh seperti ini, saya tidak tahu harus bilang terima kasih seperti apa lagi kepada TNI dan tetangga semua. Gusti Allah yang membalas kebaikan semuanya," imbuhnya penuh syukur.
Di sela-sela riuhnya aktivitas, anak-anak desa berdiri berjejer di dekat tumpukan material. Wajah polos mereka dihiasi senyum riang. Bagi mereka, kedatangan para tentara ini seperti hadirnya pahlawan di dunia nyata yang membawa keceriaan baru di kampung mereka.
TMMD ke-129 yang berlangsung dari 15 Juli hingga 13 Agustus 2026 ini memang dirancang untuk menyentuh langsung denyut nadi kehidupan masyarakat dari level paling bawah. Mengusung tema besar “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”, program ini membuktikan bahwa tentara lahir dan bergerak untuk rakyat.
"Kemanunggalan TNI dan rakyat bukan hanya slogan, melainkan aksi nyata di lapangan," tegas Letda Inf Ady Yuniarto, Komandan SST-1 SSK Satgas TMMD ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro, sembari menyeka keringat di dahinya. "Melalui TMMD ke-129, kami ingin memastikan bahwa kehadiran TNI membawa dampak langsung bagi kesejahteraan warga."
Keseriusan Satgas TMMD tidak hanya terlihat dari derasnya cucuran keringat para prajurit, tetapi juga dari keterbukaan informasi. Di depan gang rumah, sebuah papan proyek resmi berdiri tegak bertuliskan: TMMD ke-129 Kodim 0813 TA 2026.
Menariknya, papan tersebut menyajikan dokumentasi foto progres pembangunan secara transparan. Dari lembar foto sebelum dibongkar (before), proses pengerjaan (ongoing), hingga target hasil akhir (after). Setiap warga yang melintas bisa melihat langsung bagaimana komitmen pembangunan ini dipertanggungjawabkan kepada publik. Rumah yang dulunya muram, kini perlahan mulai menampakkan wajah barunya yang kokoh dan berseri.
Hadirnya TMMD ke-129 di Desa Kesongo menjadi sebuah refleksi berharga. Di tengah gempuran zaman modern yang serba individualis, Dusun Mundu memperlihatkan bahwa roh asli bangsa ini—yaitu gotong royong—belum mati. Sinergi apik antara TNI, pemerintah daerah, dan warga lokal tidak hanya melahirkan bangunan fisik yang layak huni, tetapi juga merajut kembali tali silaturahmi yang kokoh.
Sore nanti, saat bedug magrib bertalu dan para prajurit kembali ke barak, Pak Kasiman mungkin akan menatap dinding rumah barunya dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang membuncah: bahwa di bawah langit Kesongo, ia tidak pernah berjuang sendirian. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Aji Susanto |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi