SUARA INDONESIA, MAKASSAR -Keterbatasan penglihatan tidak menyurutkan langkah H. Baharuddin untuk menyempurnakan panggilan suci ke Baitullah.
Dengan bantuan kursi roda dan dukungan para petugas haji, jemaah disabilitas asal Kabupaten Bone itu berhasil menuntaskan seluruh rukun haji hingga kembali ke Tanah Air dengan penuh rasa syukur.
Kisah perjuangan Baharuddin menjadi salah satu cerita inspiratif dari kepulangan Jemaah Haji Kloter 22 Debarkasi Makassar.
Di tengah jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang memadati Tanah Suci, pensiunan guru tersebut mampu melewati setiap tahapan ibadah dengan tekad dan kesabaran.
"Alhamdulillah, semua rukun haji bisa dilaksanakan dengan baik," ujar Baharuddin sesaat sebelum prosesi serah terima jemaah haji Kloter 22 Debarkasi Makassar di Aula Arafah Asrama Haji Makassar, Rabu (17/6/2026).
Baharuddin mengaku memiliki keterbatasan penglihatan. Matanya hanya mampu menangkap bayangan dalam jarak tertentu sehingga dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat menjalankan ibadah haji, ia membutuhkan bantuan orang lain.
Namun, keterbatasan itu tidak pernah dijadikannya alasan untuk menyerah. Semangat menunaikan rukun Islam kelima justru menjadi kekuatan yang membawanya menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, mulai dari wukuf di Arafah, mabit, melontar jumrah, hingga tawaf dan sa'i.
Saat melaksanakan tawaf, Baharuddin harus menggunakan kursi roda untuk membantu mobilitasnya di tengah padatnya arus jemaah di Masjidil Haram.
Ia memanfaatkan jasa pendorong kursi roda agar ibadah dapat berlangsung dengan aman dan nyaman. Menurutnya, layanan tersebut sangat membantu, terutama bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian khusus selama berada di Tanah Suci.
Pensiunan guru yang telah mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji sejak tahun 2011 itu juga menyampaikan apresiasi atas pelayanan yang diberikan pemerintah dan para petugas penyelenggara ibadah haji.
Ia menilai petugas kesehatan menunjukkan kepedulian tinggi terhadap kondisi jemaah. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin, bahkan dengan mendatangi kamar tempat jemaah menginap.
"Pelayanannya luar biasa. Tim kesehatan sering datang memeriksa ke kamar, makanan juga bagus. Kami sangat bersyukur," kata Baharuddin.
Selain pelayanan kesehatan, Baharuddin mengaku merasa terbantu dengan fasilitas akomodasi dan konsumsi yang dinilainya memadai selama menjalankan ibadah di Arab Saudi. Perhatian tersebut membuat dirinya dapat lebih fokus beribadah tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap kebutuhan dasar.
Di balik senyum syukur yang terpancar saat kembali ke Tanah Air, tersimpan perjalanan panjang yang telah ia tempuh. Penantian sejak mendaftar haji pada 2011 akhirnya berbuah manis dengan kesempatan menyempurnakan ibadah haji pada musim haji 2026.
Baharuddin berharap pengalaman yang dialaminya dapat menjadi penyemangat bagi calon jemaah haji lainnya, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Menurutnya, persiapan mental dan kepatuhan terhadap arahan petugas menjadi kunci penting agar ibadah dapat dijalani dengan baik.
"Yang paling penting siapkan mental dan ikuti petunjuk yang diberikan pembimbing maupun petugas. Itu sangat membantu selama menjalankan ibadah haji," pesan Baharuddin.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh penyelenggara haji yang telah memberikan perhatian kepada jemaah, terutama kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Bagi Baharuddin, perjalanan haji tahun ini bukan sekadar menuntaskan rangkaian ibadah. Lebih dari itu, ia menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Dengan keteguhan hati, bantuan sesama, dan pelayanan yang berpihak pada jemaah berkebutuhan khusus, impian yang telah lama dinanti akhirnya dapat terwujud dengan sempurna. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Arya Rahmansyah |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi