SUARA INDONESIA, SURABAYA - Pulau Mamburit bukan sekadar titik di peta Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep. Ia adalah potret nyata jurang layanan dasar yang belum tertutup. Untuk mencapai pulau ini, perjalanan dari Surabaya bisa memakan waktu hingga 15 jam lintas darat ke Kalianget, menyeberang ke Kangean, lalu kembali berganti perahu kecil. Panjangnya akses itu bukan sekadar soal jarak, tetapi menjadi penghalang utama layanan kesehatan bagi warga.
Di tengah kondisi tersebut, brand perawatan anak Moell menjalankan program CSR bertajuk Moell On Mission pada 22–26 April 2026. Namun yang lebih mencolok bukan programnya, melainkan fakta yang terungkap di lapangan: negara belum sepenuhnya hadir.
Layanan Kesehatan Minim, Risiko Anak Tinggi
Data lapangan menunjukkan kondisi yang tidak bisa dianggap ringan. Dari pemeriksaan anak usia 0–24 bulan, ditemukan 5 anak mengalami stunting (22,73%) dan 1 anak severely stunting (4,55%). Angka ini menjadi alarm, mengingat keterbatasan intervensi medis di wilayah tersebut.
Masalah kesehatan lain juga muncul berulang: ruam kulit, iritasi, hingga infeksi ringan yang kerap dibiarkan tanpa penanganan medis. Penyebabnya sederhana namun krusial akses layanan kesehatan terlalu jauh dan mahal secara waktu.
“Masalah kesehatan anak di sini cukup banyak, tapi sering tidak diperiksakan karena akses terbatas,” ujar Syamsiyah, bidan setempat.
Di sisi lain, praktik perawatan anak masih didominasi pengetahuan turun-temurun. Penggunaan bedak berlebih dan penanganan mandiri tanpa diagnosis medis menjadi hal lumrah. Minimnya edukasi kesehatan memperparah kondisi yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
Poskesdes: Bertahan dengan Segala Keterbatasan
Satu-satunya fasilitas kesehatan di Pulau Mamburit adalah Poskesdes yang dibangun secara swadaya oleh warga. Bangunannya sederhana, hanya memiliki satu tempat tidur pemeriksaan, stok obat terbatas, dan ditangani dua tenaga kesehatan seorang bidan dan seorang perawat.
Ketika kasus serius muncul, warga harus menyeberang ke Pulau Kangean bahkan ke daratan Sumenep. Perjalanan bisa memakan waktu berjam-jam, dengan biaya yang tidak sedikit.
“Kalau butuh penanganan lanjutan, harus keluar pulau. Itu tidak selalu mudah,” kata perawat setempat, Hj Asharul Fauli.
Kondisi ini memperlihatkan satu hal: sistem rujukan tidak efektif jika akses dasar saja belum tersedia.
Intervensi CSR: Solusi Sementara atau Pemantik Perubahan?
Melalui program ini, Moell melakukan revitalisasi Poskesdes—mulai dari perbaikan bangunan, penambahan fasilitas pemeriksaan, hingga dukungan obat-obatan. Selain itu, dilakukan pemeriksaan kesehatan langsung dan edukasi kepada masyarakat, termasuk kunjungan ke rumah warga.
Founder Moell, Uung Victoria Finky, menyebut program ini sebagai upaya memahami kebutuhan nyata di lapangan. “Kesehatan anak seharusnya tidak ditentukan oleh lokasi tempat tinggal,” ujarnya.
Namun, intervensi semacam ini juga menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan layanan dasar di wilayah kepulauan bergantung pada inisiatif non-negara?
Ketimpangan yang Terlihat Jelas
Pulau Mamburit menunjukkan ironi pembangunan. Di satu sisi, masyarakat memiliki solidaritas tinggi dan hidup dalam semangat gotong royong. Di sisi lain, mereka masih berjuang memenuhi hak dasar—akses kesehatan yang layak.
Program CSR seperti ini memang memberi dampak langsung. Namun tanpa intervensi struktural dari pemerintah, persoalan mendasar tidak akan selesai. Ketimpangan layanan kesehatan di wilayah kepulauan bukan cerita baru, tetapi terus berulang tanpa solusi sistemik.
Moell mungkin datang membawa bantuan. Tapi Mamburit masih menunggu sesuatu yang lebih besar: kehadiran negara yang konsisten dan berkelanjutan.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi