SUARA INDONESIA, SURABAYA – Jawa Timur mempercepat transformasi sektor manufaktur untuk mempertahankan posisinya sebagai tulang punggung industri nasional.
Dengan kontribusi sekitar 22 persen terhadap industri manufaktur Indonesia, pemerintah daerah mendorong pelaku usaha segera mengadopsi teknologi digital, otomatisasi, hingga kecerdasan artifisial (AI) agar mampu bersaing di pasar global.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, daya saing industri kini tidak lagi ditentukan oleh kapasitas produksi semata, tetapi juga kemampuan perusahaan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk.
"Pameran ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengenal teknologi manufaktur terbaru karena kalau terus terjebak dalam pola produksi yang lama, maka mereka akan kalah kompetitif," ujar Emil saat membuka Manufacturing Surabaya 2026 di Grand City Convex, Surabaya, Rabu (15/7/2026).
Menurut Emil, ancaman deindustrialisasi harus diantisipasi sejak dini melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan percepatan adopsi teknologi di sektor industri.
Sebagai salah satu pusat manufaktur nasional, Jawa Timur memiliki peran strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menarik investasi baru.
"Kita ingin terus meningkatkan kualitas SDM, penguasaan teknologi, dan berkolaborasi dalam pengembangan teknologi terapan di Jawa Timur sebagai basis manufaktur Indonesia," katanya.
Momentum transformasi tersebut diperkuat melalui penyelenggaraan Manufacturing Surabaya 2026 yang memasuki tahun ke-20.
Pameran ini menghadirkan lebih dari 150 perusahaan dari 17 negara dengan beragam inovasi di bidang manufaktur, otomatisasi industri, logistik, energi, hingga teknologi pertanian.
Portfolio Director PT Pamerindo Indonesia Meysia Stephannie mengatakan, pameran tahun ini tidak hanya menjadi etalase teknologi, tetapi juga wadah mempertemukan pelaku industri dengan mitra bisnis dan investor.
"Tahun ini Manufacturing Surabaya diikuti lebih dari 150 peserta pameran dari 17 negara yang menempati area seluas 7.887 meter persegi. Kami menargetkan lebih dari 9.000 pengunjung atau meningkat 25 persen dibandingkan tahun lalu," ujar Meysia.
Selain Manufacturing Surabaya, kegiatan tersebut juga menghadirkan Machine Tools Surabaya, Tools and Hardware Surabaya, Industrial Automation and Logistics Surabaya, Growtech Indonesia, serta Indonesia Energy Week Surabaya.
Rangkaian pameran ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri nasional, membuka peluang investasi baru, dan mendorong pertumbuhan sektor manufaktur sebagai salah satu motor utama ekonomi Indonesia. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi