SUARA INDONESIA

Dari Al-Utsmani ke PKB, KH Faqih Subhan Teruskan Perjuangan Sang Abah Jadi Pengurus DPC Bondowoso

Bahrullah - 09 July 2026 | 18:07 - Dibaca 1.32k kali
Politik Dari Al-Utsmani ke PKB, KH Faqih Subhan Teruskan Perjuangan Sang Abah Jadi Pengurus DPC Bondowoso
Sebelah paling kiri KH Faqih Subhan menantu Pengasuh Pondok Al-Ustlani bersala jajaran DPC PKB Bondowoso

BONDOWOSO – Peta politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Bondowoso kembali menguat dari jalur pesantren. 

KH Faqih Subhan, menantu pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, Desa Beddian, Kecamatan Jambesari Darussholah, resmi bergabung dalam jajaran Dewan Syura DPC PKB Bondowoso untuk melanjutkan perjuangan politik almarhum ayahnya, KH Subhan.

KH Faqih menegaskan keputusannya terjun ke dunia politik bukan tanpa alasan. Ia ingin meneruskan jejak perjuangan sang ayah yang sejak awal berdirinya PKB menjadi bagian penting dari perjalanan partai berlambang bumi dan bintang sembilan tersebut di Bondowoso.

Menurutnya, langkah tersebut juga telah mendapatkan restu dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, KH Ghozali Ustman, sehingga dirinya mantap mengambil bagian dalam perjuangan politik melalui PKB.

KH Faqih mengungkapkan, kedekatan keluarga besar Al-Utsmani dengan PKB bukanlah hubungan yang baru dibangun hari ini. Sebab, PKB Bondowoso pertama kali dideklarasikan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Utsmani pada 1998, menjadikan pesantren tersebut bagian dari sejarah kelahiran partai di daerah itu.

Tak hanya itu, almarhum KH Subhan juga tercatat pernah menduduki posisi penting mulai dari Dewan Syura hingga jajaran Tanfidz PKB Bondowoso hingga tahun 2023.

Bagi KH Faqih, PKB bukan sekadar partai politik, melainkan alat perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) di parlemen maupun birokrasi.

"PKB lahir bukan hanya sebagai kendaraan politik, tetapi sebagai jembatan perjuangan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini dijaga dan dirawat oleh NU," ujarnya.

Ia menilai di tengah dinamika politik nasional, PKB hadir membawa semangat moderasi, kebangsaan dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil agar suara warga Nahdliyin tidak berhenti di ruang-ruang pengajian, melainkan ikut menentukan arah kebijakan negara.

Di parlemen, kata dia, PKB berperan mengawal aspirasi pesantren, petani, nelayan, guru ngaji hingga pelaku UMKM agar mendapatkan perhatian dalam kebijakan publik.

Sementara di birokrasi, nilai pengabdian yang diwariskan NU diterjemahkan melalui pelayanan publik yang adil, inklusif dan berpihak kepada rakyat.

Menurutnya, politik dan birokrasi tidak semestinya dipandang sebagai ruang perebutan kekuasaan semata, melainkan sarana menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat dan bangsa.

Karena itu, hubungan PKB dan NU disebutnya ibarat akar dan pohon yang saling menguatkan. NU menjaga nilai dan moralitas kebangsaan, sementara PKB mengawal agar nilai tersebut terwujud dalam regulasi, anggaran dan program pembangunan.

Sementara itu, Ketua DPC PKB Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, menyebut bergabungnya keluarga besar Al-Utsmani bukan sekadar menambah kekuatan politik, melainkan melanjutkan sejarah panjang hubungan PKB dengan pesantren yang menjadi salah satu tempat kelahirannya di Bondowoso.

H. Dhafir menegaskan dirinya bukan pemilik partai, melainkan hanya pengurus yang diberi amanah untuk mengelola PKB sebagai partai yang dilahirkan oleh NU.

Karena itu, sebelum keluarga besar Al-Utsmani masuk ke dalam kepengurusan, jajaran PKB terlebih dahulu melakukan silaturahmi dan berdiskusi dengan pengasuh pondok pesantren.

"Alhamdulillah keluarga besar Pondok Pesantren Al-Utsmani berkenan dan direstui masuk dalam jajaran kepengurusan PKB untuk bersama-sama mengurus partai yang dilahirkan oleh NU," kata Dhafir.

Ia menegaskan pelaksanaan kegiatan partai di lingkungan NU bukan dimaksudkan untuk memanfaatkan organisasi tersebut, melainkan menjadi pengingat bahwa PKB lahir dari rahim NU sehingga para kader memiliki tanggung jawab moral menjaga nilai-nilai perjuangan organisasi tersebut.

H. Dhafir juga mengingatkan sejarah PKB Bondowoso yang dideklarasikan pada 1998 di Pondok Pesantren Al-Utsmani menjadi bukti eratnya hubungan partai dengan dunia pesantren.

Selain itu, almarhum pengasuh pondok bersama para tokoh pesantren juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan PKB dan selama ini terus memberikan arahan agar kader tetap berjalan di jalur perjuangan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, bergabungnya keluarga besar Al-Utsmani merupakan kelanjutan perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi hubungan antara pesantren dan politik kebangsaan.

Dhafir menyebut tanggung jawab mengawal partai yang lahir dari tradisi dan nilai-nilai NU merupakan tugas bersama seluruh keluarga besar pesantren.

Tak hanya Kiai Faqih, sejumlah anggota keluarga besar Al-Utsmani lainnya juga ikut bergabung dalam kepengurusan PKB, termasuk tokoh yang sebelumnya aktif di Ansor dan Banser.

Ke depan, keterlibatan keluarga besar Al-Utsmani akan diperluas hingga tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) guna memperkuat struktur partai hingga akar rumput.

Dhafir berharap kehadiran mereka tidak berhenti sebagai pendukung, tetapi ikut mengelola organisasi agar PKB semakin mampu menjadi alat perjuangan politik masyarakat Nahdliyin.

Menyinggung target politik ke depan, Dhafir mengaku optimistis PKB mampu menambah perolehan kursi pada Pemilu 2029 melalui konsolidasi organisasi yang mulai digerakkan sejak peluncuran kepengurusan baru.

"Tentu target kami kursi tidak boleh berkurang. Saya justru yakin akan bertambah," tegasnya.

Optimisme tersebut, lanjut Dhafir, tidak dibangun di atas harapan semata, melainkan melalui konsolidasi organisasi dan semakin terbukanya PKB terhadap berbagai kalangan, khususnya kader dan alumni pesantren.

Bahkan, ia mengajak para alumni pesantren, termasuk alumni Sukorejo, untuk maju sebagai calon legislatif melalui PKB sebagai bagian dari ikhtiar memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui jalur politik.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Bahrullah
Editor : Satria Galih Saputra

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV