SUARA INDONESIA, CILACAP - Upaya mengenalkan jejak sejarah, warisan budaya, tokoh, tempat, serta peristiwa penting yang pernah terjadi di wilayah Cilacap dan sekitarnya kepada masyarakat luas, tidak hentinya dilakukan oleh Komunitas Tjilatjap History.
Kali ini, komunitas yang digawangi Riyadh Ginanjar ini, mengenalkan jejak sejarah melalui penerbitan buku berjudul "Tempat Yang Berkisah", dan sedianya akan diluncurkan dalam Pemeran Cagar Budaya, awal Agustus 2026 mendatang.
"Bagi sebagian orang, Cilacap mungkin dikenal sebagai kota pelabuhan, kawasan industri, atau gerbang menuju Pulau Nusakambangan. Di balik identitas tersebut, tersimpan begitu banyak kisah yang menarik untuk ditelusuri," ujar Sindu Pramono, salah satu penulis di buku tersebut, Rabu (15/7/2026).
Ia mencontohkan mulai peninggalan masa kerajaan, jejak kolonialisme, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kemudian perkembangan transportasi, hingga cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat.
“Semua itu menjadi bagian dari mozaik panjang perjalanan sejarah daerah ini, dan pembaca buku ini kami ajak menyusuri beragam sudut Cilacap yang mungkin jarang diperbincangkan," ungkap Sindu.
"Ada kisah tentang benteng pertahanan, stasiun kereta api, hotel tua, kemudian situs bersejarah, tokoh lokal, hingga asal-usul nama tempat yang selama ini akrab dalam kehidupan sehari-hari," lanjutnya.
Menurutnya, berbagai cerita tersebut tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga menggambarkan kekayaan budaya dan identitas masyarakat Cilacap dari masa ke masa.
Ia berharap buku tersebut dapat menjadi bacaan yang ringan, menarik, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
"Semoga buku ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkuat kecintaan terhadap sejarah daerah, serta mendorong upaya pelestarian warisan budaya yang menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat," ujar Sindu.
"Misalnya, siapa sangka, lokasi yang kini dikenal sebagai Taman Zebra, dekat Alun-alun Cilacap, ternyata memiliki sejarah panjang sebagai pusat transportasi darat. Pada tahun 1970-an, tempat ini dulunya adalah Stanplat atau Terminal Bus Cilacap yang sangat ramai pada zamannya," imbuhnya.
Sindu mengatakan bahwa banyak jejak masa lalu yang belum banyak diketahui oleh khalayak umum, padahal di dalamnya termuat berbagai peristiwa, kejadian, dan kisah orang-orang di masa lampau.
"Tentunya, catatan-catatan ini menyimpan nilai-nilai luhur yang menjadi akar identitas Kabupaten Cilacap hingga saat ini. Berbagai catatan yang terserak dari berbagai objek dan bukti sejarah yang ada di Cilacap dapat didokumentasikan dalam bentuk buku," terangnya.
"Hal ini akan menambah wawasan tentang sejarah lokal, serta menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap warisan budaya dan sejarah daerah sendiri," sambungnya.
Untuk memudahkan masyarakat yang ingin mengakses informasi yang ada di dalam buku tersebut, Komunitas Tjilatjap History telah memberikan buku tersebut ke Perpustakaan Daerah Cilacap.
"Tujuannya supaya buku ini mudah didapat kalau ada yang ingin membacanya. Dan buku ini ada 111 halaman," pungkas Penggiat sejarah Tjilatjap History yang akrab berharap Mas Sindu ini. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Satria Galih Saputra |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi