SUARA INDONESIA

Menengok Keindahan Gentong Buatan Tangan di Jombang yang Masih Lestari hingga Kini

Gono Dwi Santoso - 02 April 2024 | 16:04 - Dibaca 568 kali
Features Menengok Keindahan Gentong Buatan Tangan di Jombang yang Masih Lestari hingga Kini
Tiamun (75), saat membuat gentong di rumahnya Dusun Sanan Wetan, Mojotrisno, Jombang, Jawa Timur, Selasa (02/04/2024). (Foto: Gono Dwi Santoso/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA , JOMBANG - Pembuatan gentong di Dusun Sanan Wetan, Mojotrisno, Jombang, Jawa Timur, tersembunyi warisan budaya Majapahit yang masih lestari hingga kini.

Di tangan terampil Tiamun (75), tanah liat menjelma menjadi gentong-gentong indah dengan motif khas Majapahit. Alhasil, gerabah ini tak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tapi juga sarat makna sejarah.

Saat ditemui di kediamannya, Tiamun sedang sibuk membuat gentong. Tanah liat tampak melekat di tangan terampilnya. Tak berselang lama, Gentong Majapahit dengan ukuran sedang selesai dibuatnya.

Tiamun mengaku menggeluti pembuatan Gentong Majapahit ini sejak 1978 silam. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan seni pembuatan gentong tersebut.

Prosesnya pun tak kalah menarik. Dimulai dari pemilihan tanah liat yang tepat, kemudian dibentuk dengan tangan terampil tanpa bantuan alat modern.

"Setelah dibentuk, gentong dikeringkan di bawah sinar matahari, sebelum dibakar dalam bara api selama 3-4 jam. Proses pembakaran ini harus dilakukan tanpa asap, agar menghasilkan gentong dengan warna cokelat kemerahan yang khas," paparnya.

Kerajinan tangan Tiamun tak hanya diminati di dalam negeri, tapi juga pernah menembus pasar luar negeri, seperti Amerika dan Australia. Pada 1998, permintaan gentong Majapahit dari luar negeri mencapai puncaknya.

Namun saat ini, Tiamun hanya melayani pesanan pasar lokal karena keterbatasan jumlah perajin. Harga Gentong Majapahit buatan Tiamun terbilang terjangkau, mulai dari Rp 500 ribu untuk gentong dengan tinggi 50 cm, hingga Rp 2.000.000 untuk gentong dengan tinggi satu meter.

"Proses pembuatan gentong tinggi satu meter bisa memakan waktu hingga 10 hari, belum termasuk waktu pembakaran," pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Gono Dwi Santoso
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV