SUARA INDONESIA

Gombloh Dapat Penghargaan Negara, Surabaya Diminta Tak Lagi Abai

Dona Pramudya - 15 July 2026 | 22:07 - Dibaca 38 kali
News Gombloh Dapat Penghargaan Negara, Surabaya Diminta Tak Lagi Abai
audiensi bersama komunitas Memories of Gombloh (Mogers), Rabu (15/7/2026). (Istimewa)

SUARA INDONESIA, SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya mulai membuka jalan bagi penguatan warisan budaya musisi legendaris Gombloh sebagai bagian dari identitas Kota Pahlawan.

Dalam audiensi bersama komunitas Memories of Gombloh (Mogers), Rabu (15/7/2026), sejumlah usulan strategis seperti pengabadian nama Gombloh untuk jalan, gedung hingga peringatan Hari Gombloh mendapat respons positif dan akan dikaji lebih lanjut.

Audiensi yang berlangsung di Disbudporapar Surabaya itu dihadiri Ketua Bidang Kebudayaan Disbudporapar Edo R. Nurchakim, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya Prof. Purnawan Basundoro, Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya Heti Palestina Yunani, serta perwakilan perangkat daerah.

Sementara Mogers menyampaikan tiga usulan utama, yakni penyematan nama Gombloh pada gedung di Balai Pemuda, pemberian nama salah satu ruas jalan di Surabaya, serta penetapan 12 Juli sebagai Hari Gombloh atau Hari Musik Surabaya.

Perwakilan Mogers, Esthi Susanti Hudiono, mengatakan Gombloh bukan hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga tokoh yang karya-karyanya menanamkan nilai nasionalisme, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap lingkungan.

"Karena itu kami berharap Pemerintah Kota Surabaya memberikan penghargaan yang layak melalui pengabadian nama Gombloh dalam ruang-ruang publik," ujarnya.

Menurut Prof. Purnawan Basundoro, ketokohan Gombloh telah melampaui batas Surabaya dan mendapat pengakuan nasional, termasuk melalui penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah.

Ia menegaskan setiap usulan pengabadian nama tetap harus melalui kajian sejarah, akademik, dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat.

"Secara prinsip kami melihat Gombloh layak diapresiasi. Tetapi penyematan nama gedung atau ruang publik harus memiliki dasar yang kuat agar tidak menimbulkan polemik," katanya.

Salah satu opsi yang mengemuka ialah penggunaan nama Gombloh untuk ruas jalan baru yang belum memiliki nama, khususnya di kawasan Gedung Siola.

Lokasi tersebut dinilai memiliki keterkaitan historis karena pernah menjadi tempat berdirinya Nirwana Record, label rekaman yang menaungi perjalanan karier Gombloh pada era 1970 hingga 1980-an.

Selain itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya juga menyatakan akan mengupayakan arsip-arsip mengenai Gombloh masuk dalam program Memori Kolektif Bangsa.

Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah sekaligus memperkuat pengakuan terhadap kontribusi Gombloh dalam perkembangan musik Indonesia.

Ketua Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Edo R. Nurchakim, mengatakan seluruh aspirasi masyarakat akan ditampung sebagai bahan penyusunan kajian lanjutan.

Pemerintah juga memberi ruang bagi masyarakat untuk memperingati 12 Juli sebagai Hari Gombloh dalam lingkup kegiatan kebudayaan.

"Setelah ini Mogers bersama Dewan Kebudayaan dapat menyusun kajian ketokohan Gombloh sebagai dasar tindak lanjut dari usulan yang disampaikan," ujarnya.

Komunitas Memories of Gombloh yang berdiri sejak 2019 terus aktif merawat jejak sang musisi melalui berbagai kegiatan, termasuk festival

"Gombloh Bukan Hanya di Radio" yang digelar di Balai Pemuda pada 7–9 Juli 2026. Aktivitas tersebut menjadi bukti bahwa karya dan pemikiran Gombloh masih hidup serta terus diwariskan kepada generasi baru. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV