SUARA INDONESIA, CILACAP - Chikungunya menjadi ancaman serius di Cilacap, Jawa Tengah. Ratusan warga menjadi korban hingga dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Cilacap, chikungunya di Kabupaten Cilacap saat ini mencapai 186 Kasus.
Kepala Dinkes KB Cilacap, Hasanuddin saat ditemui mengatakan, kasus chikungunya banyak terjadi di wilayah Kota Cilacap.
"Masyarakat yang terjangkit rata-rata justru banyak di wilayah kota seperti di wilayah Kecamatan Cilacap Selatan di Kelurahan Cilacap, Tambakreja, Sidakaya dan Kelurahan Gumilir," ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Hasanuddin mengungkapkan, chikungunya di Kelurahan Sidakaya sebanyak 30 kasus, terjadi di RT 04 RW 10, kemudian di RW 15 sebanyak 48 kasus dan 45 kasus di RT 03 RW 03.
Selanjutnya 33 kasus terjadi di Kelurahan Tambakreja, di RW 14 dan 11 kasus terjadi di Kelurahan Gumilir. Selain di wilayah kota, kasus chikungunya juga terjadi di wilayah Kecamatan Kesugihan di Desa Menganti sebanyak 11 kasus.
Selain chikungunya, kasus demam berdarah dengue (DBD) juga terjadi di Kabupaten Cilacap dengan jumlah saat ini mencapai 24 kasus. Dari jumlah tersebut, 1 orang dilaporkan meninggal dunia.
"Sebagian sudah pada sehat, dan ini terjadi di wilayah kota di Kecamatan Cilacap Utara, Tengah dan Cilacap Selatan, kemudian di Adipala, Patimuan, Cimanggu, Nusawungu, Karangpucung dan Gandrungmangu," ungkap Hasanuddin.
"Dan ada satu kasus orang meninggal dunia akibat demam berdarah ada di Kecamatan Adipala. Ini bisa jadi karena kondisi tubuh atau mungkin karena telat penanganan," imbuhnya.
Atas dua kasus yang terjadi tersebut, warga masyarakat diminta untuk waspada. Selain itu juga diminta melakukan pemberantasan sarang nyamuk serta menjalankan pola hidup bersih dan sehat.
"Jangan sampai ada genangan-genangan air bersih khususnya yang menjadi sarang nyamuk, mungkin ada di ember, bak, itu harus sering-sering dikuras," ujar Hasanuddin.
"Kalau sudah tidak terpakai harus ditutup ya biar tidak ada genangan air bersih, yang kadang-kadang tidak termonitor oleh kita," lanjutnya.
Lebih lanjut, untuk mencegah dua kasus itu kembali terjadi, Dinkes KB setempat telah melakukan berbagai upaya diantaranya sosialisasi ke masyarakat melalui masing-masing Puskesmas di wilayah.
"Sosialisasi ini agar masyarakat melakukan pola hidup bersih dan sehat. Kemudian kita juga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak maupun perorangan di rumah masing-masing melalui imbauan yang kita berikan," kata Hasanuddin.
"Dan dari kita, ketika ada kasus seperti ini, kita melakukan penelitian epidemologis apabila diperlukan tindaklanjut dan dirasa perlu, kita lakukan fogging. Dan beberapa lokasi sudah kita lakukan fogging," pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Satria Galih Saputra |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi