SUARA INDONESIA

Festival Kironggo 2025 Usung Pembaruan Konsep dan Penguatan Nilai Sejarah

Bahrullah - 06 December 2025 | 13:12 - Dibaca 1.00k kali
Wisata Festival Kironggo 2025 Usung Pembaruan Konsep dan Penguatan Nilai Sejarah
Para penari menampilkan tarian tradisional dalam pembukaan Festival Kironggo Bondowoso 2025 di Alun-alun RBA Ki Ronggo, Jumat malam. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, BONDOWOSO - Festival Kironggo kembali digelar dengan konsep baru yang lebih luas dan meriah dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memperluas rangkaian acara sekaligus menggeser sebagian agenda ke penghujung tahun agar masyarakat dapat menikmati perayaan budaya secara lebih merata.

Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan Festival Kironggo bukan semata-mata agenda tahunan, melainkan pengingat penting atas perjalanan sejarah daerah. Ia menyebut festival ini mempunyai keterkaitan langsung dengan Babad Bondowoso, kisah tentang berdirinya Bondowoso beserta para tokoh yang membentuk identitasnya.

“Festival Kironggo mengingatkan kita pada Babad Bondowoso, perjalanan daerah ini sejak awal berdiri hingga berkembang seperti sekarang,” ujar Abdul Hamid Wahid dalam sambutannya di Musium Stasiun Kreta Api Bondowoso, Jumat (04/12/2025).

Menurut dia, sosok Ki Ronggo mengajarkan nilai keberanian dalam menata wilayah dan membangun pemerintahan. Nilai-nilai itu, katanya, masih relevan untuk menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat.

Ia menambahkan, keberanian, kerukunan, dan religiusitas yang diwariskan Ki Ronggo menjadi fondasi utama dalam membangun Bondowoso sebagai daerah yang maju dan bermartabat. Identitas tersebut, tegasnya, tidak boleh hilang di tengah derasnya modernisasi.

Dalam kesempatan itu, bupati juga menyoroti momentum penting Tragedi Gerbong Maut 23 November 1947. Ia menilai bahwa peristiwa kelam tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang Bondowoso. “Tragedi itu menunjukkan kekejaman penjajah sekaligus keteguhan para pejuang,” ujarnya.

Menurutnya, penderitaan para pejuang yang disekap dalam gerbong tertutup itu telah melahirkan semangat perlawanan yang terus hidup hingga kini. Ia menegaskan, dua peristiwa sejarah, kisah Ki Ronggo dan Gerbong Maut menjadi jati diri Bondowoso.

“Jati diri Bondowoso lahir dari perjuangan dan pengorbanan,” kata Abdul Hamid. Karena itu, ia meminta generasi muda untuk menjaga kerukunan, melestarikan budaya, dan mempertahankan karakter daerah. “Pembangunan harus tetap berpijak pada nilai sejarah,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan, I Gede Budiawan, mengatakan bahwa pergeseran sebagian agenda ke bulan Desember dilakukan agar aktivitas budaya tidak menumpuk pada satu periode saja. “Kami tidak ingin kegiatan hanya terpusat di Agustus,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembagian agenda seperti ini memungkinkan masyarakat menikmati hiburan budaya sepanjang tahun. Menurutnya, kegiatan kesenian merupakan bagian penting dari kerja kebudayaan yang terus dikembangkan.

Meski beberapa agenda dipindahkan ke akhir tahun, Gede memastikan bahwa peringatan Hari Jadi Bondowoso tetap akan digelar pada Agustus tahun depan. “Harjabo tetap diperingati setiap 17 Agustus. Tahun depan insya Allah tetap kita laksanakan,” katanya.

Pemerintah berharap kesinambungan Festival Kironggo dapat menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat sekaligus sarana melestarikan identitas budaya daerah. Event ini, katanya, juga ditujukan untuk memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap sejarah Bondowoso.

I Gede Budiawan menyebut festival merupakan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah mereka secara lebih dekat. “Harapan kami, event seperti ini bisa dinikmati seluruh masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, pelajar dan anak muda perlu mendapatkan akses sejarah yang memadai agar memahami bagaimana Bondowoso terbentuk. Ia menilai pemahaman sejarah akan menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya.

“Dengan mengetahui sejarah awal mula Bondowoso, mereka bisa mencintai dan menjaga warisan budayanya,” tambahnya. Ia meyakini festival budaya mampu menguatkan keterikatan masyarakat terhadap daerahnya.

Melalui Festival Kironggo, pemerintah ingin memastikan budaya lokal tetap hidup, terawat, dan diwariskan lintas generasi. “Sejarah dan kebudayaan harus tetap lestari di tanah Bondowoso,” pungkas Gede. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Bahrullah
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV