SUARA INDONESIA

Dorong Pemulihan Kondisi Industri Kelapa Indonesia Melalui Implementasi Coconut Counter

Redaksi - 15 September 2023 | 20:09 - Dibaca 676 kali
Advertorial Dorong Pemulihan Kondisi Industri Kelapa Indonesia Melalui Implementasi Coconut Counter
Gambaran kondisi perkelapaan Indonesia (Foto : istimewa/Suaraindonesia.co.id)

JAKARTA, Suaraindonesia.co.id - Bisnis perkelapaan Indonesia nyatanya sedang tidak baik saja. 

Berdasarkan website resmi milik Pemkab Kabupaten Gorontalo, Prof Nelson Pomalingo selaku Ketua Umum Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK) dalam rapat Panitia Pembentukan Konsorsium Kelapa Indonesia (KKI) menyatakan bahwa sejak tahun 2018, Indonesia bukan lagi penghasil kelapa terbesar di dunia.

Kondisi tersebut jelas merugikan Indonesia karena dapat mempengaruhi perekonomian nasional. 

Dalam rapat itu, pemerintah berusaha untuk mendorong pemulihan kondisi kelapa, membalikkan kejayaan kelapa, serta memperkuat perkelapaan nasional dari ketertinggalannya dengan negara-negara lain. 

Untuk itu, pemerintah menggandeng seluruh pihak yang terlibat, baik dari pemerintah, pelaku usaha/swasta, hingga masyarakat untuk turut serta membantu dalam mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi. 

Salah satu aspek yang perlu ditingkatkan adalah kapasitas produksi kelapa melalui keefektifan dan keakuratan dalam penghitungan jumlah kelapa.

Umumnya, penghitungan kelapa dilakukan secara manual. Akan tetapi, cara ini tidaklah efektif. Hal ini dikarenakan penghitungan manual seringkali membutuhkan banyak waktu untuk menghitung jumlah kelapa yang telah dipanen. 

Disamping itu, penghitungan yang dilakukan secara manual juga rawan salah karena biasanya dilakukan oleh manusia yang mana memiliki keterbatasan dalam daya ingatnya. 

Widya Robotics, sebagai salah satu perusahaan startup nasional, nyatanya turut menyoroti permasalahan ini. Berlandaskan dari permasalahan tersebut, Widya Robotics kemudian menciptakan sebuah teknologi bernama Vision Intelligence (VI). 

VI sendiri merupakan sebuah teknologi yang dapat mengenali dan mengidentifikasi berbagai macam objek menggunakan kamera, baik kamera smartphone maupun CCTV. Teknologi ini memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk menganalisa data visual yang ada. 

Pekerjaan yang dulunya dilakukan secara manual dan memerlukan kejelian mata digantikan dengan AI. Diketahui, AI ini memiliki kemampuan dalam mendeteksi dan menghitung objek dengan akurasi dan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga meminimalisir terjadinya kesalahan dalam penghitungannya.

VI dapat diterapkan di berbagai sektor industri. Salah satunya pada sektor perkebunan, khususnya di perusahaan kelapa.

Turunan VI yang dapat diterapkan oleh perusahaan kelapa adalah Coconut Counter. Teknologi ini menerapkan AI untuk mendeteksi dan menghitung jumlah kelapa yang berjalan di konveyor secara otomatis. 

Penghitungan yang cepat membuat teknologi ini mampu menghitung ribuan kelapa dan terbukti lebih cepat hingga 3 kali lipat daripada penghitungan manual.

Tri Yunianta, VP of Technology dari Widya Robotics, menjelaskan, Teknologi yang disematkan pada Coconut Counter ini terbagi atas 3 bagian, yaitu object detection, object tracking, dan object counting. 

"Ketiga alat ini bekerja saling berhubungan satu sama lain. Awalnya, objek dideteksi, kemudian di-tracking. Jika objek melewati garis digital, maka objek akan langsung dihitung oleh AI,” katanya. 

"Teknologi ini memiliki tingkat akurasi dan kecepatan yang tinggi. Dari segi penghitungannya juga tidak memerlukan bantuan manusia lagi, sehingga menghemat biaya operasional," sambungnya. 

Terlebih, lanjut dia, alat ini juga membantu meminimalisir kesalahan dalam penghitungan yang menjadi tantangan jika menggunakan penghitungan manual. Data hasil penghitungan juga dapat secara real-time muncul di dashboard.

Tri menambahkan bahwa Coconut Counter hingga saat ini sudah digunakan di beberapa perusahaan kelapa di Bintan dan Halmahera. 

Diharapkan dengan kehadiran teknologi seperti ini tentu akan sangat membantu, baik pemerintah maupun pelaku usaha di sektor perkelapaan dalam mengembalikan posisi Indonesia sebagai penghasil kelapa terbesar di dunia. (Adv) 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Redaksi
Editor : Satria Galih Saputra

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV