SUARA INDONESIA, SURABAYA – Di kota-kota besar, cerita besar sering lahir dari gedung tinggi dan studio mahal. Tapi di Surabaya, tepatnya di gang-gang sempit kawasan Bulak Banteng, sebuah perlawanan diam-diam sedang dirancang. Bukan lewat orasi atau demo, tapi lewat film komedi fiksi-ilmiah bernama Foufo—garapan Skak Stodio yang lebih terasa seperti manifesto budaya ketimbang hiburan semata.
Sutradara sekaligus aktor Bayu Skak tak menyembunyikan niatnya: membawa suara dan wajah-wajah dari pinggiran untuk tampil ke layar lebar. “Selama ini yang dominan ya Jakarta. Aksen Jakarta, gaya Jakarta, cara berpikir Jakarta. Kita pengin nunjukin bahwa logat Suroboyoan itu juga layak didengar,” kata Bayu, di sela proses casting yang dipadati ribuan orang dari berbagai penjuru Surabaya.
Lebih dari 2.500 orang datang bukan karena iming-iming ketenaran, tapi karena merasa terwakili. Di Foufo, anak-anak kampung, tukang gorengan, sampai emak-emak bisa jadi bagian cerita. Mereka tak dipoles agar ‘layak layar’, justru dibiarkan tampil dengan bahasa dan logat aslinya.
“Kalau biasanya film minta kita nurunin logat, di sini malah disuruh nambahin. Aksen Madura, campuran Jawa, itu yang dicari,” ujar Akina Yuza, bocah 12 tahun dari Tambaksari yang ikut casting ditemani orang tuanya. Ia adalah wajah dari apa yang ingin diangkat Foufo: kejujuran sehari-hari yang biasanya disingkirkan oleh industri hiburan arus utama.
Konsep UFO mendarat di kampung bukan lelucon. Itu sindiran halus. Bahwa selama ini cerita tentang luar angkasa, masa depan, dan teknologi selalu berputar di sekitar kota-kota elite. “Lah kenapa alien nggak bisa nyasar ke Bulak Banteng?” tanya Bayu retoris.
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, ikut ambil peran dalam film ini. Tapi bukan sebagai pejabat yang menggurui. Ia hadir sebagai bagian dari masyarakat, mendukung cara baru mengenalkan Surabaya ke dunia. “Kita nggak perlu brosur. Cukup bikin film yang jujur. Orang bisa lihat sendiri siapa kita,” ujarnya.
Foufo hadir di tengah industri yang masih sangat terpusat. Ketika rumah produksi besar enggan keluar dari zona aman, Skak Stodio justru masuk ke gang sempit, ke pasar-pasar ramai, dan mengangkat kisah yang selama ini hanya jadi latar, bukan cerita utama.
Dan mungkin di situlah letak kekuatannya: Foufo bukan hanya film. Ia adalah panggung. Bukan panggung untuk selebritas, tapi untuk rakyat kecil. Sebuah ruang bagi mereka yang selama ini hanya jadi penonton untuk akhirnya menjadi tokoh utama. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi