SUARA INDONESIA, BANJARNEGARA - Gelaran Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2025 kembali menjadi etalase bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Banjarnegara untuk tampil lebih luas.
Bukan hanya soal pameran produk, festival yang berlangsung pada 23–24 Agustus ini juga dimanfaatkan sebagai ajang penguatan literasi digital dan transaksi nontunai.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, Mahdi Abdillah mengatakan, melalui even tahunan yang digelar di kawasan Candi Arjuna, Gatotkaca, hingga area Pandawa ini, KPwBI Purwokerto hadir dengan berbagai dukungan.
Mulai dari menghadirkan booth UMKM binaan, memberi edukasi kebijakan, hingga mengampanyekan penggunaan QRIS agar transaksi lebih praktis dan aman.
“Kehadiran BI bukan sekadar ikut meramaikan acara. Peran kami mendampingi UMKM berlangsung sepanjang tahun. DCF hanyalah salah satu panggung untuk menunjukkan potensi lokal kepada masyarakat luas, baik di level nasional maupun internasional,” katanya, Sabtu (23/8/2025).
Dalam kesempatan itu, 32 UMKM lokal ikut meramaikan festival, termasuk delapan pelaku kopi khas Dieng yang mendapat sorotan khusus. Kopi dianggap sebagai ikon Banjarnegara yang punya daya tarik kuat bagi wisatawan.
Menurut Mahdi, DCF kini sudah berkembang menjadi ajang berskala global sehingga menjadi peluang penting untuk memperluas pasar UMKM.
“Festival ini tidak lagi hanya milik Banjarnegara. Wisatawan mancanegara juga hadir. Jadi momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk unggulan kita,” jelasnya.
Selain promosi UMKM, BI juga menyampaikan program unggulannya, QRIS Jelajah Budaya Indonesia (QJI) 2025, di DCF. Kompetisi yang diikuti sepuluh tim ini berakhir di kompleks Candi Arjuna bersamaan dengan prosesi cukur rambut gimbal, setelah sebelumnya menyusuri berbagai destinasi wisata di eks Karesidenan Banyumas seperti Dawuhan, Trans Banyumas, Kota Lama, hingga Batik Hadi Priyanto.
“Bukan hanya soal venue, tetapi juga bagaimana UMKM bisa terbiasa dengan sistem pembayaran digital yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal,” tegasnya.
Meski DCF tahun ini digelar lebih sederhana dibanding edisi sebelumnya, BI menilai dampak ekonominya tetap terasa besar, terutama dalam menggerakkan sektor pariwisata dan UMKM daerah.
“DCF selalu punya dampak terhadap ekonomi. Ini melalui sektor pariwisata dan UMKM daerah,” imbuhnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Iwan Setiawan |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi