SUARA INDONESIA

Menjaga Dapur Tetap Mengepul, Resonansi Kasih Gus Fawait untuk Warga Jember Jelang Lebaran

Fathur Rozi - 20 March 2026 | 11:03 - Dibaca 1.19k kali
Features Menjaga Dapur Tetap Mengepul, Resonansi Kasih Gus Fawait untuk Warga Jember Jelang Lebaran
Lurah Tegalgede, Kecamtan Sumbersari, Shierley Aisyah, menyerahkan bantuan sembako kepada warga kurang mampu di hari jelang Lebaran, Kamis (18/3/2026). Ini sebagai tindak lanjut pesan Bupati Jember, Muhammad Fawait. (Foto: PPID Sumbersari)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Di tengah keriuhan persiapan Idulfitri yang mulai merayap di sudut-sudut pasar, sebuah pesan sunyi namun bertenaga mengalir dari meja kerja Bupati Jember, Muhammad Fawait. Pria yang akrab disapa Gus Fawait itu tidak sekadar mengirim instruksi birokrasi. Ia mengirimkan sebuah janji. Sebuah maklumat agar tak ada satu pun warganya yang menatap tungku dingin saat fajar Lebaran menyapa.

Resonansi kasih sang Bupati segera membelah jalanan Jember, melintasi sekat-sekat kantor pemerintahan, hingga mengetuk pintu-pintu kayu yang mulai rapuh.

Di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, instruksi itu menjelma menjadi langkah nyata. Kamis (19/03/2026), saat kalender birokrasi telah memasuki masa cuti bersama, Lurah Shierley Aisyah justru memilih untuk "bertugas" pada kemanusiaan. Bersama timnya, ia menyusuri Jalan Tawangmangu dan Jalan Tondano di bawah terik matahari yang menyengat.

Shierley tidak datang dengan tangan kosong. Di tangannya, tersampir paket sembako, penyambung napas bagi warga yang kerap luput dari pandangan. Salah satunya adalah Santi, seorang perempuan berusia 68 tahun yang garis-garis wajahnya menceritakan kerasnya hidup.

Saat paket berpindah tangan, bibir perempuan yang karib disapa Bu Santi itu bergetar. Dengan nada yang nyaris tenggelam oleh haru, ia berbisik dalam bahasa ibu yang kental. "Kesok'on (terima kasih) Gus Bupati, sudah memperhatikan kami rakyat kecil. Semoga selalu sehat dan amanah," ucapnya.

Bagi Bu Santi, bantuan itu bukan sekadar beras dan minyak, melainkan bukti bahwa ia tidak sendirian merayakan hari kemenangan.

Gema kepedulian itu terus merambat hingga ke Kelurahan Kaliwates. Di sana, strategi "jemput bola" dilakukan dengan cara yang sangat anggun. Relawan LAZ Nurul Hidayah, yang bergerak selaras dengan visi pemerintah daerah, memilih jam-jam "hening" untuk mendatangi warga.

Tanpa sorot lampu yang pongah atau antrean panjang yang melukai harga diri, para relawan membelah pekatnya malam. Mereka mendatangi janda-janda tua, buruh serabutan, hingga keluarga prasejahtera yang selama ini berjuang di tengah fluktuasi harga bahan pokok.

Camat Kaliwates, Dwi Sunu Arinugroho, memandang gerakan ini sebagai oase. "Ini bukan sekadar bantuan sosial, tapi bentuk kepedulian yang sangat manusiawi karena dilakukan dengan santun dan menyentuh akar rumput," ungkapnya. Di sana, bantuan tidak hanya mengisi perut yang lapar, tetapi juga menenangkan jiwa yang bimbang.

Melalui pesan tersebut, Gus Fawait seolah ingin menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat adalah prioritas di atas segala hari libur. Instruksi tersebut telah memastikan bahwa di ujung gang-gang sempit, dari Tegalgede hingga Kaliwates, kepulan asap dapur warga akan tetap ada, membawa aroma syukur dan harapan.

Bagi warga Jember, Idulfitri tahun ini bukan sekadar tentang baju baru, melainkan tentang rasa tenang karena pemimpin mereka hadir tepat di depan pintu, memastikan api di dapur mereka tetap menyala terang di bawah naungan berkah zakat dan kepedulian. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV