SUARA INDONESIA

Merangkai Emosi di Balik Kamera: Kisah Pembuatan Video Klip “Palsu” Aris Idol

Jefri Hadi - 19 April 2026 | 19:04 - Dibaca 258 kali
Budaya Merangkai Emosi di Balik Kamera: Kisah Pembuatan Video Klip “Palsu” Aris Idol
Pengambilan gambar video klip single baru berjudul "Palsu" oleh vokalis Aris Idol di kawasan cafe Surabaya Barat. (Foto: Yulian/Suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Suasana kafe bernuansa taman hijau dengan danau kecil di sudut Surabaya barat itu tampak tenang. Namun di balik ketenangan visualnya, puluhan kru bergerak cepat, mengatur sudut kamera, mengejar cahaya, dan merangkai emosi, Minggu (19//4/2026).

Di sanalah, cerita di balik layar video klip single terbaru “Palsu” milik Aris Idol mulai terbangun bukan sekadar produksi musik, tetapi perjalanan rasa yang dihidupkan ulang melalui visual.

Bagi Aris, “Palsu” bukan lagu biasa. Ia menyebutnya sebagai karya yang menemukan titik temu antara kekuatan lirik dan aransemen, dua elemen yang jarang benar-benar seimbang dalam sebuah lagu.

“Liriknya bagus, aransemennya juga bagus. Tidak semua lagu punya keduanya. Ada yang liriknya kuat tapi aransemennya kurang, atau sebaliknya. Nah, di lagu ini keduanya menyatu,” ujar Aris Idol di sela pengambilan gambar.

Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Dari empat lagu yang ia garap bersama produser Irvan Dian, “Palsu” justru menjadi yang paling ia jagokan untuk menembus pasar.

“Dari beberapa lagu, saya lebih menjagokan yang ini. Bismillah, semoga bisa jadi hit single,” kata Aris.

Namun, kekuatan lagu saja tak cukup. Di lokasi syuting, Aris terlihat beberapa kali berdiskusi dengan tim kreatif, memastikan setiap adegan tetap setia pada pesan lagu.

Ia memilih konsep visual yang sederhana tidak berlebihan, tetapi cukup kuat untuk memperkuat emosi.

“Konsepnya tidak berlebihan, tapi tetap fokus ke isi lagu supaya bisa lebih dihayati. Jangan sampai lagunya sudah bagus, tapi visualnya tidak maksimal,” ujarnya.

Di balik keputusan artistik itu, Irvan Dian sebagai produser dan komposer memegang kendali besar dalam membentuk arah produksi.

Baginya, “Palsu” adalah cerita universal tentang pengkhianatan, tema yang sederhana, tetapi selalu dekat dengan kehidupan banyak orang.

“Tema lagu ini sederhana, tentang kekecewaan karena pengkhianatan dalam hubungan. Ini tema umum, tapi selalu relevan,” kata Irvan Dian.

Irvan mengaku sejak awal sudah membayangkan sosok Aris sebagai penyanyi lagu ini. Proses kreatifnya pun mengikuti karakter vokal Aris, sehingga emosi yang dibangun terasa lebih autentik.

“Saya selalu membayangkan siapa yang akan menyanyikan lagu ini. Saat membayangkan Mas Aris, saya menyesuaikan warna vokalnya,” ujarnya.

Produksi video klip sendiri dilakukan secara bertahap. Selain di lokasi kafe, sebagian adegan juga diambil di studio milik Irvan Hits Production (IHP) untuk memperkuat narasi visual.

“Sebagian pengambilan sudah dilakukan di studio kami. Lokasi ini jadi pelengkap untuk memperkuat alur cerita,” kata Irvan.

Sejalan intensitas produksi, hadir sosok baru yang mencuri perhatian: Yeristina Anggraini (19) mengakui, di pembuatan video clip single baru berjudul “Palsu” menjadi pengalaman pertamanya terlibat dalam video klip bersama musisi besar.

“Ini perdana saya ikut video klip, apalagi dengan Kak Aris. Rasanya senang dan tidak menyangka,” ujar Yeristina.

Perempuan yang mulai menekuni dunia modeling sejak 2023 itu mengaku harus cepat beradaptasi, terutama dalam membangun chemistry dan emosi di depan kamera.

“Sebelumnya pernah jadi model juga, tapi belum dengan artis ternama seperti ini. Jadi ini pengalaman baru yang sangat berkesan,” katanya akrab dipanggil Yerri ini.

Tak hanya mengandalkan pengalaman, Yeri membawa berbagai minat kreatifnya dari melukis hingga menari untuk memperkuat ekspresi di layar.

“Saya suka menggambar, melukis, menari, dan modeling. Semua itu saling mendukung untuk tampil lebih percaya diri,” ujarnya.

Di balik layar, tantangan teknis menjadi cerita tersendiri. Tim kreatif Boyke Photowork harus bekerja cepat di tengah waktu produksi yang terbatas dan cuaca yang berubah-ubah.

“Tingkat kesulitannya ada di proses yang serba mendadak. Mas Aris datang, lagu sudah jadi, lalu konsep langsung disusun di lokasi,” kata perwakilan Boyke Photowork.

Perubahan cahaya alami menjadi tantangan berikutnya. Mendung yang datang tiba-tiba kerap memaksa kru menyesuaikan ulang pengambilan gambar.

“Kendala lain ada di pencahayaan, karena cuaca kadang mendung lalu terang lagi,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman Aris di dunia panggung menjadi keunggulan tersendiri dalam proses ini.

“Mas Aris sangat kooperatif. Mungkin karena sudah berpengalaman, jadi mudah diajak bekerja sama,” kata Boyke.

Tantangan terbesar justru ada pada adegan emosional, bagaimana menggambarkan hubungan yang awalnya hangat, lalu berubah menjadi kekecewaan.

“Yang cukup menantang adalah adegan emosional, dari yang awalnya mesra hingga berubah,” ujarnya.

Di sisi lain segala dinamika itu, Aris tetap menjaga sikap realistis. Ia optimistis, tetapi tidak ingin terjebak ekspektasi berlebihan.

“Kita harus optimistis, tapi tidak boleh takabur. Tetap berdoa dan berusaha,” katanya.

Ia bahkan membuka peluang “Palsu” menembus pasar luar negeri, khususnya Malaysia, berkat nuansa Melayu yang melekat dalam lagu tersebut.

“Bisa saja ke Malaysia, tapi semua tergantung promosi,” ujarnya.

Bagi Aris, pada akhirnya, keberhasilan lagu tidak hanya ditentukan kualitas, tetapi juga strategi distribusi.

“Lagu bagus harus didukung promosi yang kuat,” katanya.

Rencana pun disiapkan, dari pendekatan digital hingga turun langsung ke masyarakat, seperti melantunkan lagu istilahnya "ngamen" ke hati menyanyikan lagu secara dekat dengan pendengar.

“Kami ingin lagu ini bisa dinikmati semua generasi,” ujar Aris.

Di penghujung produksi, harapan yang sama terucap dari seluruh tim, agar “Palsu” tidak sekadar menjadi karya, tetapi juga pengalaman emosional yang sampai ke hati pendengar.

“Harapannya lagu ini bisa benar-benar ‘meledak’, tidak seperti judulnya,” kata Boyke.

Di balik kamera, “Palsu” bukan hanya tentang kisah pengkhianatan. Ia adalah pertemuan antara keyakinan, kerja kolektif, dan keberanian untuk menerjemahkan luka menjadi karya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV