SUARA INDONESIA

Tradisi Tukar Takir dan Gunungan Meriahkan Tahun Baru Hijriah di Kemranggon Banjarnegara

Iwan Setiawan - 16 June 2026 | 16:06 - Dibaca 36 kali
Budaya Tradisi Tukar Takir dan Gunungan Meriahkan Tahun Baru Hijriah di Kemranggon Banjarnegara
Ratusan warga membawa tenong berisi takir menuju lapangan Desa Kemranggon untuk mengikuti tradisi tukar takir dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA BANJARNEGARA - Ratusan warga Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, menggelar tradisi tukar takir dan kirab gunungan hasil bumi untuk menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Selasa (16/6/2026). Tradisi ini menjadi wujud syukur atas hasil panen sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Warga dari tiga dusun di Desa Kemranggon ini berbondong-bondong menuju taman desa dengan membawa tenong berwarna-warni berisi takir, yakni nasi dan aneka lauk yang dibungkus daun pisang.

Mayoritas peserta yang merupakan perempuan tampak antusias mengikuti tradisi turun-temurun yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat.

Selain membawa takir, masing-masing dusun juga mengarak gunungan hasil bumi yang berisi berbagai sayuran dan hasil pertanian. Setelah didoakan oleh sesepuh desa, warga kemudian saling menukar makanan yang dibawa dan menikmatinya bersama-sama.

Suasana semakin semarak saat gunungan hasil bumi diperebutkan warga. Mereka meyakini hasil bumi yang diperoleh dari gunungan tersebut membawa berkah bagi keluarga.

Salah satu warga, Sinta, mengaku rela berdesak-desakan demi mendapatkan hasil bumi dari gunungan. Ia bersyukur berhasil membawa pulang terong, kacang panjang, dan sawi.

"Alhamdulillah tadi sempat berdesak-desakan saat berebut gunungan, tetapi saya berhasil mendapatkan terong, kacang panjang, dan sawi. Nanti akan saya masak untuk keluarga, semoga membawa keberkahan bagi kami semua," ujarnya.

Warga yang lain,  Turiyah mengatakan, tradisi tukar takir menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus sarana mempererat kerukunan antarwarga.

"Kami membawa takir berisi masakan dari rumah untuk ditukar dengan warga lain. Jadi bisa saling mencicipi masakan dan mempererat kebersamaan. Bungkus daun pisang juga tetap digunakan karena memang sudah menjadi tradisi turun-temurun," ujarnya.

Kepala Desa Kemranggon, Sutoyo, mengatakan tradisi tukar takir dan kirab gunungan hasil bumi terus dilestarikan sebagai wujud syukur sekaligus mempererat kebersamaan warga.

"Tahun ini ada sekitar 6.000 takir yang terkumpul dari tiga dusun. Kami berharap tradisi ini tetap lestari sebagai sarana menjaga kearifan lokal, silaturahmi, dan semangat gotong royong masyarakat," ujarnya.(*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Iwan Setiawan
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV